Cerita Baik Bersama JNE - Hampir Saja Saya Menjadi Gelandangan

Kebayang tidak, jika kita pulang setelah liburan panjang kunci rumah ketinggalan dan kita tidak bisa masuk rumah?! Padahal setelah perjalanan jauh, kita butuh tempat yang nyaman meski hanya untuk selonjoran kaki. Dan ternyata tidak hanya kunci rumah saja yang tertinggal, tapi juga kunci kendaraan yang disatukan dengan gantungan kunci rumah, ditambah semua kunci cadangan juga berada didalam rumah.


Peristiwa tak mengenakkan tersebut hampir saja saya rasakan. Saat lebaran Idul Fitri  tahun 2016, saya tersadar ketika sampai dirumah mertua di Brebes, saya tidak mendapati kunci rumah dan kendaraan. Kalau tertinggal dikendaraan rasanya tidak mungkin, karena selama perjalanan saya tidak mengeluarkan apapun dari tas atau saku celana atau baju. Sehigga kumungkinan kunci tersebut tertinggal di rumah orang tua di Cirebon. Mudik lebaran tahun 2016 ini saya gunakan 4 hari untuk lebaran di Cirebon dan  3 hari lebaran di Brebes.

Saat tahu kunci tidak terbawa, sayapun meminta kepada istri untuk tidak memberitahukan hal ini kepada mertua atau orang rumah lainnya, karena saya tidak mau mereka ikut repot memikirkan masalah yang timbul akibat keteledoran saya.

Esoknya harinya, sayapun langsung memutar otak, bagaimana agar saya bisa mendapatkan kunci rumah sebelum saya sampai di Semarang. Jika kunci dikirim ke Brebes, saya khawatir kalau saat paket datang, saya sudah pulang ke Semarang, karena biasanya pengiriman ke daerah mertua paling cepat 3 hari kerja dan hanya bisa menggunakan layanan reguler. Berarti opsi ini tidak mungkin dijalankan.

Sayapun mencari alternatif lain dengan menghubungi beberapa teman yang kemungkinan sudah berada di Semarang, sehingga paket yang berisi kunci rumah bisa saya kirim ke alamat teman saya tersebut. Harap maklum, tinggal di sekitar kos mahasiswa membuat sedikit susah untuk mendeteksi siapa yang tidak mudik atau siapa yang pulang mudik cepat. Karena kebiasaan mahasiswa, ketika ada waktu libur sedikit saja,  langsung digunakan untuk pulang kampung. Apalagi libur lebaran, bisa satu kelurahan mendadak sepi dan seperti kota mati karena ditinggal mudik mahasiswa.

Setelah dihubungi, Alhamdulillah ada teman yang sudah di Semarang meskipun baru H+2 lebaran. Sebut saja namanya Jeki mahasiswa tingkat akhir yang dibela-belain hanya mudik 2 hari karena harus mengejar pendaftaran wisuda bulan depannya.
S : Assalamu'alaykum... Mas Jeki, posisi dimana? kapan balik ke semarang?
J : Masih dirumah mas, Saya ke Semarang naik kereta sabtu malam tanggal 9 Juli.
S : Nanti langsung ke rumah atau mampir-mampir dulu? kira-kira nyampe rumah jam berapa?
J : Insya Allah nyampenya ahad pagi tanggal 10 Juli. paling lama jam 9 pagi saya sudah ada di rumah mas.
S : Kalau begitu saya boleh minta tolong?
J : Minta tolong apa mas?
S : Kunci rumah saya ketinggalan di Cirebon, posisi saya sedang di Brebes. kalau saya kirim ke brebes sampainya baru 3 hari. Kalau waktunya tiga hari, saya keburu harus pulang ke Semarang juga. Kalau sabtu pagi mas Jeki sudah dirumah berarti saya mau minta tolong, mau ngirim paket ke tempat mas Jeki. Nanti saya kirim menggunakan layanan YES (yakin Esok sampai)  dari JNE Express. Jadi besok sore atau malam, kemungkinan paketannya sudah sampai rumah.
J : Oh, boleh mas. Kirim aja ke tempat saya
S: Alamat pengirimannya ditujukan ke mana?
J : Perumahan Ayem Blok A No. 33 Semarang.
S : RT atau RW nya berapa mas?
J : RT dan RW nya saya kurang tahu mas, tapi biasanya kiriman ke alamat ini nyampe kok meski tanpa RT dan RW hehe..
S : Oke, Saya catet ya.  Makasih mas Jeki
J : Sama sama Mas..

Setelah itu saya minta tolong kepada orang rumah untuk memaketkan kunci yang tertinggal ke alamat mas Jeki. Sabtu siang tanggal 8 Juli Adik mengirimkan paket menggunakan JNE Express dengan layanan YES. Alhamdulillah pengiriman dari Cirebon ke Semarang bisa menggunakan layanan YES, jadi bisa lebih cepat. Sayapun meminta nama pengirim dan nomor telepon yang ditulis dialamat pengirim adalah nama saya dan nomor telepon saya. Adikpun menyanggupinya dan sayapun bisa lebih tenang.
Telepon pun berdering dengan nama yang muncul adalah nama adik saya.
A : Mas Heri, Paketnya sudah dikirim ke Semarang pakai yang YES, tapi tadi kata customer service (CS)-nya karena masih masuk pelayanan musim lebaran, JNE tidak bisa menjanjikan barang bisa sampai besok karena kondisi jalan (arus mudik atau arus balik lebaran) yang tidak bisa dipastikan. Tapi katanya tetap diusahakan untuk bisa sampai besoknya.

"Duaar..! kalau sampai melenceng sehari saja, bisa-bisa saya jadi gelandangan dadakan seharian. Kalaupun tidak menjadi gelandangan, saya harus tega membuat repot teman. Kalau yag opsi kedua saya masih agak sungkan", batinku.

S : Oh ya sudah, makasih ya Dik.
A : Iya sama sama Mas..

Sayapun hanya bisa berdoa setelah itu. Untung saja anak dan istri tidak ikut bareng ke Semarang. Ia masih ingin berlama-lama di Brebes. Kalau jadi pulang bersama, kasihan juga kalau mereka harus luntang-lantung seharian kalau benar ada keterlambatan pengiriman.

Minggu malam selepas isya saat saya masih di kereta menuju Semarang, sayapun mendapat SMS dari teman saya kalau paketannya sudah sampai rumah. Alhamdulillah, tidak jadi gelandangan karena paket bisa sampai tepat waktu. Saya pun langsung menelpon teman saya untuk mengucapkan terimakasih. Saya juga minta tolong untuk dijemput malam ini pukul 23.00  di Stasiun Poncol Semarang. Alhamdulillah teman sayapun mengiyakannya.

Melalui tulisan ini saya juga minta maaf sama Jeki (kalau dia baca tulisan ini). Maaf ya jek, kalau selalu merepotkan. Angkutan umum jika malam sudah tidak beroperasi. Mau coba naik ojek tarifnya kalau malam semakin mencekik. Masa dari stasiun ke tembalang minta tarif Rp 80.000,- yang bener aja atuh bang! Saya yang naik kereta dari Brebes ke Semarang saja hanya habis Rp 60.000,-. Padahal kalau naik taksi saja paling hanya habis uang Rp 60.000.

Akhirnya sayapun waktu itu sangat berterima kasih kepada JNE atas layanan cepatnya dan Mas Jeki atas bantuannya.Sempat deg-degan juga jikalau paketan tidak bisa sampai tepat waktu seperti apa yang disampaikan diawal oleh CS JNE. Tapi hal itu menurut saya sangat wajar karena pengiriman dilakukan disaat musim lebaran. Pihak JNE pun mengatakan itu untuk jaga-jaga saja jika kemungkinan buruk itu terjadi. Minimal pihak JNE sudah menyampaikan diawal. Komitmen JNE dalam melayani pelanggan juga sudah tidak diragukan lagi. JNE akan tetap berusaha sampai detik akhir pengiriman, agar pesanan bisa sampai tepat pada waktunya.


Ceria Bersama HARBOKIR (Hari Bebas Ongkos Kirim)
Mungkin tidak hanya saya saja yang memiliki cerita baik bersama JNE, tentunya semua yang pernah menggunakan jasa pengiriman JNE mempunyai cerita baik masing-masing. Salah satunya teman dekat saya yang gratis mengirim barang saat HARBOKIR JNE. Apalagi teman saya ini adalah penjual online shop, yang setiap pekannya ada saja barang yang dikirim meskipun hanya dalam kota. Gimana tidak untung tuh?! #HARBOKIR ini dilaksanakan oleh JNE dalam rangka ulang tahun JNE yang ke-26.

Saat HARBOKIR, JNE menanggung semua ongkos kirim baik pengiriman antar kota ataupun dalam kota. Baik pengiriman menggunakan layanan YES, Reguler ataupun layanan OKE. Pengiriman antar kota yang dimaksud adalah pengiriman antar wilayah JABODETABEK. Sedangkan pengiriman dalam kota dikhususkan pada kota selain diwilayah JABODETABEK. Meskipun promo ini hanya terbatas dalam kota dan antar kota untuk JABODETABEK, program ini saya yakin dapat memberikan banyak kemudahan dan keuntungan bagi para pelanggan  JNE. 

Program hari bebas ongkos kirim ini sama sekali tidak menurunkan tingkat pelayanan yang diberikan JNE kepada pelanggannya. Hanya saja khusus layanan YES, selama promo berlangsung tidak berlaku garansi uang kembali. Pengiriman yang ditanggung oleh HARBOKIR adalah pengiriman dengan berat maksimal  2 kg tiap resi pengiriman.

Oke friends, itulah salah satu cerita saya bersama JNE untuk tahun ini, pasti kalian juga mempunyai cerita menarik bersama JNE bukan? 

Post a Comment for "Cerita Baik Bersama JNE - Hampir Saja Saya Menjadi Gelandangan"