Header Ads

Menjemput Bidadari Dunia , Part 11 ~Sembunyikanlah lamaran (khitbah), Umumkanlah Pernikahan~



"Sembunyikanlah lamaran (khitbah), Umumkanlah Pernikahan" mungkin kita pernah mendengar kalimat tersebut.  
Hadits ini diriwayatkan oleh al-Daylami dalam Musnad al-Firdaus dengan lafadz,

"Umumkanlah pernikahan dan rahasiakanlah pertunangan."

Ini adalah hadits dha'if (lemah) sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam al-Silsilah al-Dha'iifah (2494) dan dalam Dha'iif al-Jami 'al-Shaghir (922). Tetapi bagian pertama dari hal itu adalah shahih, yaitu kata "mengumumkan".

Ahmad meriwayatkan dari 'Abdullah bin al-Zubair radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Umumkanlah pernikahan." Hadits ini dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani dalam Irwa' al-Ghaliil (1993).
Dalam kitab bulughul marom bab nikah terdapat hadist “Dari Amir bin Abdulllah bin Zubair dari ayahnya radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya rasulullah ﷺ bersabda: “Beritakanlah perkawinan itu oleh kalian”. Diriwayatkan oleh Ahmad dan disahkan oleh al-Hakim.”

Begitu pula dalam fiqih wanita karangan Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin pada bab nikah “Umumkanlah pernikahan” (Hadits Hasan, diriwayatkan oleh Ahmad 15697).

Jika mengambil kaidah, segala sesuatu perkara muamalah hukumnya adalah boleh, sampai ada dalil yang melarang. maka boleh saja kita menyebarkan informasi tersebut, tapi kita juga harus memikirkan baik buruknya jika berita ini di siarkan.

Ada baiknya juga kita mengambil hikmah dari hadist lemah tersebut, Karena sejatinya kita tidak tahu apa yang akan terjadi setelah peristiwa lamaran tersebut. Periistiwa didepan masih ghaib ada kemungkinan berjalan dan ada kemungkinan Allah berkehendak lain. Namun tentunya semua berkeinginan untuk bisa dilancarkan urusannya hingga akad nikah itu tiba bahkan sampai walimah (syukuran pernikahan). Sehingga lebih baik kabar itu kita simpan sampai saatnya tiba untuk kita undang mereka dalam tasyakuran pernikahan atau menjadi saksi atas pernikahan kita.

Atau bisa jadi untuk menenangkan pemuda pemudi lain yang ternyata “incarannya” sudah di khitbah orang. Sakitkan kalau beritanya sampai terdengar sama si doi, padahal janur kuning belum melambai. Kadang ada juga yang mengumumkan khitbah sabagai penegasan yang intinya memberitahukan bahwa wanita ini sudah saya ikat, jadi jangan coba coba mendekat.

Meskipun kadang orang sekitar juag sudah menebak nebak, ini orang kok sering pulang kampung ya, jangan -jangan sedang lamaran dan ngurus administrasi nikah di KUA setempat. 

Atau jika lamaran kita ada anak kecil yang ikut kadang dengan polos anak kecil itupun menceritakan kalau mas ini habis main ke rumah mba itu.

Atau ada juga yang pengumuman khitbahnya di  foto selfie sampil memasukkan cincin ke jari manis si dia, padahal dia belum halal untuk di pegang, meskipun ada juga yang lebih vulgar sampai ada foto preweding segala dengan pose bersandar hinga berpelukan. Memang  ada juga yang  pre wedingnya tidak bersentuhan. Tapi ada kemungkinan untuk pandang pandangan atau hanya sebatas mencuri pandang.

Ada juga yang di cie cie karena proses khitbahnya sudah menyebar, jadi bahan sindiran di kosan atau di media sosial. Meskipun ada yang mengucapkan doa kebaikan.

bisa juga untuk tidak membuat perasaan orang lain menjadi gelisah. karena banyak yang belum mempunyai jodoh di umurnya yang sekarang. bagi kebanyakan laki laki kadang menjadi ledek ledekan, tapi bagi wanita kadang info tersebut membuat sensitif apalagi jika dikait-kait kan dan dibanding bandingkan dengan urusan jodohnya. Jodoh perkara yang maha Menentukan. Meski kita sudah berusaha maksimal dalam pencarian kalau Allah belum mengiyakan maka tidak akan terjadi meski banyak laki laki datang melamar. bisa jadi ia tidak diam dalam mencari jodohnya, kita saja yang tidak mengetahui pergerakannya.

Bagi para pendengki, pernikahan cepat juga bisa menimbulkan omongan (prasangka buruk), "jangan jangan menikah karena sudah hamil duluan, bla bla bla bla..."

Atau ada juga kasus yang tunangan di tahun A dan nikahnya di tahun B,C atau setelahnya, lah lama banget.  Memang kadang kultur keluarga juga mendominasi dalam urusan penentuan tangal sehingga mempengaruhi cepat tidaknya beralih ke step selanjutnya.

Jadi cukup ceritakan pada orang yang menurut kita berita itu tidak akan menyebar kemana-mana. terutama orang orang yang kita anggap dekat dan kita anggap lyak untuk dapat informasi itu lebih dulu dibandingkan orang lain.

Allahu a’lam bishowab

Bacaan Terkait :
Menjemput Bidadari Dunia , Part 2 ~Mengunci Incaran atau Ta’arufan ~
Menjemput Bidadari Dunia , Part 3 ~ Pilih Ta’arufan saja ~
Menjemput Bidadari Dunia , Part 4 ~Contoh Proposal Ta’arufan ~
Menjemput Bidadari Dunia , Part 5 ~AgendaTa’aruf ~
Menjemput Bidadari Dunia , Part 6 ~Khitbah~
Menjemput Bidadari Dunia , Part 7 ~Mengurus Surat Rekomendasi (Andon) Nikah ~
Menjemput Bidadari Dunia , Part 8 ~Tes Kesehatan Pra Nikah ~
Menjemput Bidadari Dunia , Part 9 ~Menentukan Mahar~
Menjemput Bidadari Dunia , Part 10 ~Seserahan~
Menjemput Bidadari Dunia , Part 11 ~Sembunyikanlah lamaran (khitbah), Umumkanlah Pernikahan~


Menjemput Bidadari Dunia , Part 13 ~Akad ~

Menjemput Bidadari Dunia , Part 17~Malam Pertama ~

No comments:

Terimakasih sudah berkenan untuk berkunjung. Mohon berkenan juga untuk memberikan tanggapan disetiap tulisan yang pernah dibaca atau dikunjungi.

Mohon tidak menggunakan nama anonim/ unknow, karena akan terdeteksi spam dan tidak langsung terbaca dan ditampilkan.

Yang paling penting adalah jangan pernah meninggalkan link hidup pada komentar ini. Tunggu saja kunjungan balik dari saya.

Powered by Blogger.