Thursday, June 24, 2010

Heri Laregrage

PRINSIP DAN TEKNIK AMDAL

Pendahuluan
Studi AMDAL merupakan studi kelayakan suatu rencana kegiatan dari sudut pandang lingkungan, yang dituangkan dalam suatu dokumen AMDAL yang bersifat scientific and manageable sehingga dapat digunakan sebagai instrumen perencanaan dan manajemen lingkungan. Hal-hal yang secara substansial harus tercakup dalam studi AMDAL adalah :
  a)Mendiskripsikan permasalahan lingkungan hidup yang timbul.
  b)Menjelaskan kondisi yang melandasi timbulnya dampak.
  c)Menyusun teori, rumusan, dan tata hubungan antar kondisi atau antar peristiwa.
  d)Menyusun prediksi, estimasi, atau proyeksi mengenai peristiwa yang akan terjadi atau   gejala yang akan muncul.
   e)Menyusun rekomendasi dalam bentuk rencana kegiatan pencegahan, pengelolaan, pengendalian, dan pemantauan dampak lingkungan.

Metoda AMDAL biasanya berkaitan dengan langkah-langkah pencandraan dan eksplanasi rona lingkungan hidup awal, identifikasi dampak, evaluasi dampak, beserta prosedur penilaian dan pengawasan. Prinsip dasar dan teknik yang digunakan sebagai pedoman dalam penyusunan studi AMDAL adalah :
  a)Memfokuskan perhatian hanya pada isu-isu pokok.
  b)Melibatkan sebanyak mungkin stakeholders (instansi, pakar, masyarakat).
  c)Mengacu pada peraturan perundang-undangan dan kebijakan yang berlaku.

Metoda studi AMDAL dapat dikelompokkan menjadi:
Menurut Newkirk (1979): meliputimel;ipuri teknik DelphiMetode Check-lis, tMetode Benefit-cost analysis, Metode Overlay, Metode Information systems, Metoda Mathematical analysis
Menurut Munn (1979): Metode Check- list, Metode Matric, eMetode Flowchart, Metode Overlay
Menurut Canter (1983): Metode Check-list, Metoda Matrice, Metoda Network atau Flowchart, Metoda Energy Diagram Systems
Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam studi adalah penapisan, pelingkupan, identifikasi dampak, prediksi, dan evaluasi yang dituangkan dalam dokumen ANDAL, serta penyusunan RKL dan RPL.
Prinsip dasar dan teknik yang diadaptasi dalam studi AMDAL seringkali merupakan kombinasi berbagai metoda. Pada umumnya adalah kombinasi metoda Check list, matriks, dan diagram air. Kombinasi metode tersebut digunakan untuk mengidentifikasi:
a)Tahap dan jenis kegiatan yang potensial sebagai sumber dampak,
b)Parameter lingkungan yang potensial terkena dampak,
c)Wilayah studi yang potensial terkena sebaran dampak, dan
d)Metoda yang sesuai untuk diadaptasi.

Identifikasi Komponen Kegiatan yang Potensial sebagai Sumber Dampak
Komponen rencana kegiatan yang ditelaah biasanya dikelompokkan dalam empat tahapan kegiatan,dimana masing-masing tahapan kegiatan tersebut terdiri dari beberapa jenis kegiatan. Tahapan dan jenis kegiatan sangat tergantung pada karakteristik rencana kegiatan yang ditelaah:
a.Tahap prakontruksi
Pembebasan lahan
Penerimaan tenaga kerja
Pembersihan lahan.
b.Tahap konstruksi
Mobilisasi peralatan dan material
Pembangunan sarana dan prasarana penunjang
Pembangunan konstruksi sipil
Pemasangan instalasi elektro-mekanik
Kegiatan uji-coba.
c.Tahap pascakonstruksi/operasi
Demobilisasi peralatan
Pengoperasian dan perawatan fasilitas.
d.Tahap pascaopersi
Rehabilitasi lahan
Pemutusan hubungan kerja.

Identifikasi Komponen Lingkungan yang Potensial terkena Dampak
Komponen lingkungan hidup yang ditelaah biasanya diikelompokkan dalam tiga komponen kegiatan. Jenis sub-komponen dan parameter lingkungan hidup yang ditelaah sangat tergantung pada karakteristik lingkungan hidup di sekitar lokasi rencana kegiatan. Berikut diberikan contoh komponen/ subkomponen/ parameter lingkungan yang potensial terkena dampakyaitu:
a)Komponen Geo-Fisik-Kimia,
Iklim
Kualitas udara
Hidrologi
Kualitas air
Fisiografi
Geologi
Tanah
Hidrooseanografi
Ruang, lahan, dan tanah
b)Komponen Biologi
Flora darat/perairan
Fauna darat/perairan
c)Komponen Sosial,
1.Kependudukan
Struktur penduduk
Tingkat kepadatan dan sebaran kepadatan penduduk
Tingkat kelahiran
Angkatan kerja produktif
Pertumbuhan penduduk.
2.Ekonomi
Tingkat kesempatan kerja
Mata pencaharian penduduk
Tingkat pendapatan penduduk
Prasarana dan sarana perekonomian
Kepemilikan tanah.
3.Sosial Budaya
Pranata sosial
Adat istiadat dan pola kebiasaan
Proses sosial
Sikap dan persepsi masyarakat
Peninggalan sejarah.
d)Kesehatan Masyarakat.
Jenis dan jumlah fasilitas kesehatan
Insidensi dan prevalensi penyakit
Salinitas lingkungan
Status gizi dan kecukupan pangan
Cakupan pelayanan kesehatan.

Identifikasi Wilayah yang Potensial terkana Sebaran Dampak
Identifikasi wilayah studi Amdal merupakan suatu rencana kegiatan biasanya ditetapkan dengan menggunakan metoda overlay karena wilyah studi merupakan resultante dari batas proyek, batas ekologi, batas sosial, dan batas administrasi. Dalam studi amdal, penentuan wilayah studi ini harus disajikan dalam peta dengan skala yang memadai dan memenuhi kaidah kartografi.
a)Batas proyek
Batas proyek adalah batas kajian tapak proyek yang meliputi luas areal rencana kegiatan sesuai dengan yang tertera pada deskripsi rencana kegiatan.
b)Batas Ekologi
Batas ekologi ditetapkan berdasarkan luas wilayah persebaran dampak dalam konteks ruang dan waktu kajian. Batas ekologi biasanya terdiri atas berbagai hamparan ekosistem yang diperkirakan akan terkena dampak rencana kegiatan. Batas ekologi bisa meliputi ekologi terestial, akuatik (sungai, rawa, muara, laut), pesisir, dan atmosferik.
c)Batas sosial
Batas sosial merupakan batas wilayah di sekitar lokasi rencana kegiatan tempat berlangsungnya berbagai interaksi sosial, adat istiadat, kepercayaan, dan stuktur sosial yang diperkirakan akan terkena dampak langsung maupun tidak langsung.
d)Batas administrasi
Batas administrasi ditentukan berdasarkan peraturan perundang-undangan dan kaidah-kaidah administrasi yang membentuk satuan-satuan wilayah administrasi. Batas administrasi biasanya merujuk pada wilayah administrasi desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota, dan propinsi, tempat rencana kegiatan tersebut berlokasi.

Identifikasi Metoda yang Diadaptasi
5.1. Metoda pengumpulan data
Pengumpulan data primer dilakukan untuk menyusun rona lingkungan hidup awal pada saat studi dilakukan sebagai data basis untuk keperluan prediksi dan evaluasi dampak. Data primer biasanya dikumpulkan dari wawancara, survai, observasi, pengukuran in situ dan pengambilan sampel di lokasi yang telah ditetapkan berdasarkan lokasi tapak proyek dan radius arah sebaran dampak sesuai dengan batas wilayah studi.
Data primer komponen geofisik-kimia dikumpulkan melalui pengukuran in situ dan analisis laboratorium untuk udara, air, tanah, dan kebisingan sedangkan data morfologi dan gejala erosi dikumpulkan melalui cara inventarisasi secara visual. Sampel air diambil dengan menggunakan water sampler. Sampel udara menggunakan multiple impinger, pengukuran kebisingan dilakukan memakai sound level meter. .
Pengumpulan data dilakukan melalui pengukuran, pengambilan sampel, dan wawancara, dilakukan dengan metoda purposive random sampling yang ditentukan berdasarakan komunitas atau habitat yang berbeda. Cara pengambilan sampel atau pengamatannya adalah sebagai berikut.
a)Vegetasi
Pengamatan vegetasi dilakukan menggunakan sampling plot dengan transek utama mengikuti kondisi lapangan.
b)Fauna
Pengamatan fauna dilakukan dengan metoda Index Point of Abundance untuk mencatat populasi hewan secara semi kuantitatif yaitu dengan menentukan tempat tertentu untuk keperluan perhitungan populasi hewan dan dilengkapi data/infomasi penduduk serta data monografi desa untuk hewan perairan. Analisis data meliputi jumlah jenis, dominasi atau frekuensi keberadaan fauna..
c)Plankton
Pengambilan sampel plankton dilakukan dengan cara penyaringan air memakai plankton net.
d)Benthos
Pengambilan sampel mokrobenthos dengan memakai penyaringan lumpur dasar perairan yang diambil dengan Eijkman dredge atau bottom sampler dengan diameter saringan tertentu (mm).
Data primer komponen sosial dan kesehatan masyarakat diperoleh melalui wawancara dan observasi di lokasi permukiman penduduk di desa/kelurahan. Responden dipilih dari populasi masyarakat yang diperkirakan akan terkena dampak langsung, secara ”purposive random sampling”
Data sekunder dikumpulkan dari berbagai sumber yang representatif, yang akan digunakan untuk mendukung data primer. Data bisa dianalisis dengan metoda formal secara kuantitatif dan atau metoda secara kualitatif.

Metoda Analisis data
Metoda analisis sampel di laboratorium dan analisis data air, udara dan tanah, harus mengacu pada Keputusan Gubenur Propinsi tentang Baku Mutu Lingkungan di Propinsi tersebut. Parameter-parameter air seperti pH, suhu, DO dan sulfida diukur secara langsung di lapangan, sedangkan parameter air lainnya dianalisis di laboratorium setelah sebelumnya diberi bahan pengawet (seperti H2SO4, HNO3 atau HgCl2). Parameter yang lain dianalisis di laboratorium rujukan yang telah ditetapkan dengan Keputusan Gubenur.
Analisis vegetasi dilakukan dengan menghitung besarnya nilai penting dengan menjumlahkan kerapatan relatif, frekuensi relatif dan dominasi relatif. Frekuensi relatif (FR), kerapatan relatif (KR) dan dominasi relatif (DR) dinyatakan dengan luas bidang dasar menggunakan rumus Cox (1967):
Analisis data fauna dilakukan dengan menghitung jumlah jenis, dominasi atau frekuensi keberadaan fauna. Analisis sampel plankton dilakukan melalui identifikasi di laboratorium sampai tingkat genus menggunakan buku acuan Davis (1965) dan APHA (1981). Perhitungan untuk kelimpahan plankton menggunakan rumus Lackey Drop Micro-transect Counting dari APHA (1992):
Metoda analisis data komponen sosial dan kesehatan masyarakat yang digunakan disesuaikan dengan jenis data yang data akan dianalisis. Analisis data kuantitatif diterapkan untuk data numerik seperti kependudukan, tingkat pendapatan, dan lain-lain sedangkan analisis data kualitatif diterapkan untuk menganalisis subkomponen persepsi masyarakat dan sistem nilai.

 Aplikasi dan Penutup
Metoda identifikasi merupakan dampak proses awal dari kegiatan analisis dampak rencana kegiatan terhadap komponen lingkungan. Langkah awal identifikasi bisa dimulai dengan menyimak masalah utama yang diduga akan muncul dari hasil proses perlingkupan.
Menurut Center (1977), proses identifikasi dampak dapat dilakukan melalui tiga tahapan kegiatan, yaitu:
  a)Membuat uraian rona lingkungan hidup awal,
  b)Menentukan berbagai komponen kegiatan yang menimbulkan dampak,
  c)Menentukan komponen lingkungan yang berubah akibat rencana kegiatan.

Metoda identifikasi dampak yang paling sederhana adalah metoda check-list, yang memuat daftar/informasi tentang:
a)Rincian tahapan dan jenis rencana kegiatan yang menimbulkan dampak,
b)Rincian komponen/sub-komponen/parameter lingkungan yang di perkirakan akan terkena dampak.

Proses identifikasi dampak menggunakan metode checklist ini hasilnya dapat dituangkan dalam matrik interaksi antara komponen rencana kegiatan dan komponen lingkungan. Selain menggunakan checklist dan matriks interaksi, juga digunakan diagram alir dampak untuk memperlihatkan alur dampak sehingga akan terlihat gradasi orde dampak primer, sekunder, tersier, dan seterusnya yang bermanfaat dalam penentuan prioritas pengelolaan dan pemantauan dampak.

Heri Laregrage

About Heri Laregrage

Ayah satu anak | Suka melingkar |Blogger asal Cirebon berdomisili di Semarang | Penulis Lepas | Bukan Pemula, Tapi Juga Bukan Mastah | Konsultan Kelautan | twitter @heri_laregrage | ig @herilaregrage.

Subscribe to this Blog via Email :

Terimakasih sudah berkenan untuk berkunjung. Mohon berkenan juga untuk memberikan tanggapan disetiap tulisan yang pernah dibaca atau dikunjungi.

Mohon tidak menggunakan nama anonim/ unknow, karena akan terdeteksi spam dan tidak langsung terbaca dan ditampilkan.

Yang paling penting adalah jangan pernah meninggalkan link hidup pada komentar ini. Tunggu saja kunjungan balik dari saya.