Sunday, June 27, 2010

Heri Laregrage

Studi komprehensif Harokah



MUQODIMAH
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS Al-Maidah :3)
Al-Islamu Ya’lu wa La Yu’la ‘Alaih (islam itu tinggi dan tidaka ad yang melebihi ketinggiannya). Pertanyaannya, Lantas mengapa dimasa sekarang kondisi umat islam tertinggal oleh umat-umat yang lain? Apakah selogan itu sudah tidak berlaku lagi? Ataukah ajaran islam sudah tidak relevan lagi dengan perkembangan zaman sekarang?
Jawabannya adalah slogan tersebut masih sesuai, tetap berlaku dan benar adanya. Demikian juga dengan ajaran islam masih tetap relevan dengan perkembangan zaman dan kemodernan. Kalaupun kondisi islam saat initidak sedang menggembirakan, letak permasalahannya ada pada umat islam itu sendiri, bukan pada islamnya. Disatu sisii kemaksiatan dan penyimpangan telah menggerogoti kewibawaan umat, disisi lain umat yang ingin bangkit seringkali gagal dalam dalam memahami ajaran islam. Karena pada dasarnya umat islam ada lah umat yang terbaik.
Allah berfirman: "Kalian adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah …" (QS 3 Ali 'Imran : 110)
IKHWANUL MUSLIMIN
Gerakan Ikhwanul muslimin yang didirikan Hasan Al-Banna di Mesir pada tahun 1928 memcoba memberikan jawaban atas 2 permasalahan tersebut (penyimpangan dan kemaksiatan). Melauli metode tarbiyah yang digulirkannya, islam menjadi sedemikan mudah untuk dipahami. Hasan Al-Banna mencoba mengembalikan pola ajaran islam sesuai apa yang dicontohkan Rasulullah saw, dimana tarbiyah di sesuaikan dengan taraf pemahaman umat islam.
TUJUAN IKHWANUL MUSLIMIN
Ikhwanul Muslimin berjuang untuk mencapai tujuan:
1.      Tujuan jangka pendek: tujuan ini dapat dirasakan sejak seseorang bergabung dalam  jamaah ini, atau ketika jamaah Ikhwan tampil berjuang di medan umum.
2.      Tujuan jangka panjang, yaitu tujuan yang memerlukan waktu dan perjalanan panjang, persiapan dan takwin (pembentukan) yang ihsan.
Dengan ikut andil dalam kebajikan umum dan pelayanan sosial apapun bentuknya jika kondisi memungkinkan. Ketika seorang akh bergabung dengan ikhwan, ia diharuskan menyucikan jiwa, meluruskan tingkah laku, mempersiapkan akal, jiwa, dan raganya untuk jihad dan perjuangan panjang di masa yang akan datang. Kemudian ia dituntut untuk menyebarkan ruh (semangat) ini kepada keluarga, kerabat, teman sejawat, dan masyarakatnya. Seorang akh belumlah dikatakan sebagai seorang muslim yang benar hingga ia menerapkan hukum dan akhlak Islam pada dirinya, serta menjaga batas-batas perintah dan larangan Allah dan Rasul-Nya.
"Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya) maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasilkan dan ketaqwaannya sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan merugilah orang yang mengotorinya." (Asy-Syams 7-10)
Sesungguhnya lkhwanul Muslimin senantiasa menyerukan dakwah, meyakini manhaj, memperjuangkan aqidah, dan bekerja untuk membimbing manusia kepada sistem sosial yang mencakup seluruh aspek kehidupan, yaitu Al-Islam yang diturunkan oleh jibril kepada Nabi kita Muhammad saw. dengan bahasa Arab untuk memberi peringatan kepada manusia.


TOLOK UKUR (PEDOMAN) ITU ALQUR-AN & AS-SUNNAH
Ikhwanul Muslimin menghendaki kebangkitan umat yang ideal, yang tunduk kepada aturan Islam, sehingga Islam menjadi petunjuk dan imam mereka, serta dikenal di tengah-tengah manusia sebagai daulah (negara) yang berasaskan Al-Our'an, yang membela, menyeru, berjihad, dan berkurban dengan harta dan jiwa demi Al-Qur'an.Islam datang untuk menjadi sistem dan imam, untuk menjadi agama dan negara, untuk menjadi undang-undang, dan untuk direalisasikan. Akan tetapi, kini Islam tinggallah sistem tanpa kepemimpinan, agama tanpa negara, dan undang-undang tanpa realisasi, Bukankah ini sebuah realita, wahai ikhwan? Kalau tidak, mana. hukum Allah yang diterapkan dalam masalah darah, harta, dan kehormatan? Padahal, Allah berfirman kepada Nabi-Nya,
"Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka Berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yangtelah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?" (Al-Maidah: 49-50)
Ikhwanul Muslimin yakin sepenuhnya, bahwa ketika Allah swt. menurunkan Al-Qur'an, menyuruh hamba-hamba-Nya mengikuti Muhammad saw., dan meridhai Islam sebagai agama bagi mereka, sesungguhnya Ia telah meletakkan -dalam agama ini- seluruh dasar yang mutlak dibutuhkan bagi kehidupan, Kebangkitan dan kesejahteraan umat manusia. Pembenaran terhadap uraian tersebut dapat ditemukan dalam firman Allah swt.,
"(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, nabi yang umi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dari Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka." (Al-A'raf: 157)
Demikian juga kita mendapatkan pembenaran dari sabda Rasulullah saw. dalam sebuah hadits yang mulia, "Demi Allah, aku tiada membiarkan suatu keburukan. melainkan aku pasti melarang kalian dari melakukannya."
Bila anda menyelami ajaran-ajaran Islam secara lebih mendalam, pasti akan menemukan betapa agama yang agung ini telah meletakkan prinsip, sistem, dan tatanan yang paling tepat bagi kehidupan manusia, baik dalam skala individu, keluarga, maupun bangsa-bangsa. Islam juga memformulasikan kerangka konseptualnya secara detail; sesuatu yang tak sanggup dilakukan oleh para reformer dan pemimpin bangsa-bangsa di dunia. Tema-tema besar semacam universalisme, nasionalisme, sosialisme, kapitalisme, komunisme, perang, distribusi kekayaan, hubungan antara produsen dan konsumen, serta berbagai masalah yang terkait dengan tema ini -yang kini memenuhi kepala para pemimpin dan pakar ilmu sosial modern- kami yakin telah diselami begitu dalam oleh Islam. Sebab Islam telah meletakkan suatu sistem bagi dunia yang membuka pintu bagi pendayagunaan dan pemanfaatan semua sumber kebaikan, sekaligus menghindarkan manusia dari semua kemungkinan buruk yang bisa timbul dalam proses menuju ke sana.
DAKWAH IKHWAN KOMPREHENSIF
Karakter paling specifik dakwah kami adalah komprehensif yang meliputi semua aspek, yang terangkum dalam rabaniyah 'alamiyah (ketuhanan universal).
  1. Adapun ia dikatakan Rabaniyyah, karena pusat yang menjadi pores bagi seluruh sasaran dakwah kami adalah bagaimana manusia itu bisa mengenal Tuhannya. Di atas ikatan yang kokoh ini tegaklah spiritual yang mulia, yang mengantarkan jiwa-jiwa mereka melambung tinggi, lepas dari belenggu kegersangan dan kehampaan materi menuju kesucian, keutamaan dan keindahan hakikat manusia. Kami, Ikhwanul Muslimin, selalu menyatakan dari lubuk hati kami, "Allahu Ghayatuna" (Allah tuluan kami). Maka dari itu, sasaran pertama dari dakwah ini adalah mengajak manusia untuk membangun kembali hubungan spiritual transendental yang mengikat mereka dengan Allah tabaraka wataala, yang umumnya manusia sudah melupakannya, maka Allah pun melupakan mereka.
"Wahai sekalian manusia, beribadahlah kepada Tuhan kalian, yang telah menciptkan kalian dan orang-orang sebelum kalian, agar kalian menjadi orangorang bertaqwa". (Al-Baqarah: 21)
Inilah sesungguhnya kunci pertama untuk memecahkan serangkaian masalah kemanusiaan yang disebabkan oleh tirani Materialisme yang mengangkanginya, yang mereka tidak mampu melepaskan diri dari cengkeramannya. Tanpa adanya kunci ini, tidak mungkin upaya perbaikan dapat ditegakkan.
  1.  Adapaun ia disebut 'alamiyah (universal atau Internasionalisme), karena dakwah kami ini ditujukan kepada seluruh umat manusia, dan semua manusia itu pada dasarnya bersaudara; asal kejadian mereka satu, bapak mereka satu, serta nasab dan keturunan mereka pun satu. Tidak ada yang paling utama di antara mereka kecuali taqwa dan kebajikan serta keutamaan yang bisa dipersembahkan salah seorang di antara mereka kepada yang lainnya.
"Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan darinya Allah menciptakan istrinya, dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu." (An- Nisa': 1)
Karena itu, kami sama sekali tidak meyakini prinsip rasialisme dan fanatisme kesukuan, serta tidak mendukung kebanggaan atas ras dan warna kulit. Namun sebaliknya, kami selalu menyeru kepada persaudaraan yang adil di kalangan umat manusia. Saya membaca suatu pendapat salah seorang penulis Barat, bahwa menurutnya jenis manusia itu dibagi menjadi tiga, yakni: pencipta, penjaga, dan perusak. Penulis tadi menggolongkan bangsanya dalam jenis manusia pencipta atau penemu, sedangkan bangsa Barat yang lain sebagai pemelihara, dan kita bangsa Timur ini digolongkan sebagai bangsa perusak.
Sudah barang tentu klasifikasi ini sangat tidak adil dan tendensius, disamping sudah keliru dari asalnya. Semua jenis manusia ini berasal dari darah yang satu dan keturunan yang satu, walaupun akhirnya mereka berdiam di lingkungan yang berbeda, dengan ilmu pengetahuan dan budaya yang berbeda pula. Jika manusia itu terdidik dengan baik, ia dapat mencapai martabat yang setinggi-tingginya sesuai dengan kadar pendidikannya.
Dan tiada satu pun kelompok masyarakat yang tak mampu mengadakan perbaikan dan peningkatan diri, sesuai dengan batas-batas situasi dari kondisi yang melingkupinya. Ini di satu sisi. Sedang di sisi lain, bangsa Timur, yang digolongkan sebagai bangsa perusak, sesungguhnya merupakan sumber kebangkitan peradaban, kebudayaan, dan tempat turunnya semua agama langit. Semua itulah yang menjadi inspirasi bagi orang-orang Barat untuk maju seperti yang kita lihat sekarang. Tidak ada yang mengingkari hal itu kecuali orang yang sombong dan menutup mata terhadap sejarah. Tuduhan-tuduhan tidak berdasar seperti ini sesungguhnya merupakan buah dari ketertipuan dan keburukan perilaku mereka, yang tidak mungkin kebangkitan bisa bertumpu di atasnya, dan kemajuan peradaban bisa tegak di atas sendi-sendinya.
Selama manusia masih ada yang memiliki perasaan seperti itu terhadap saudaranya yang lain, tidak mungkin bisa diwujudkan keamanan, kedamaian, dan ketenteraman sampai mereka mau kembali mengibarkan bendera ukhuwah dan bernaung di bawah naungannya yang teduh. Mereka tidak akan mendapatkan jalan lapang untuk mencapai hal itu, seperti yang mereka dapatkan di jalan Islam, di mana kitabnya memberikan pernyataan,
“Hai manusia sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu bersuku-suku dan berbangsabangsa supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya, orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa." (Al-Hujuraat: 13). Rasulullah saw. bersabda,
"Bukan termasuk golonganku orang yang menyeru kepada ashabiyyah (fanatisme golongan) dan bukan dari golonganku orang yang mati karena (membela) ashabiyyah." (HR. Imam Ahmad, dari Jubair bin Muthim ra.). Inilah sebabnya, dakwah Ikhwanul Muslimin dikatakan berkarakter rabaniyah (berorientasi ketuhanan) sekaligus insaniyah (peduli terhadap aspek-aspek kemanusiaan).
"Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul. Sungguh, telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika ia wafat atau dibunuh, kamu malah berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang (murtad), maka ia tidak akan dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikit pun. Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur." (QS 3 Ali Imran : 144)
Artinya Islam meliputi semua zaman, kehidupan dan eksistensi manusia.Jangkauan keuniversalan dalam risalah Islam ini diungkapkan oleh Hasan al-Banna: "Islam adalah risalah yang panjang terbentang sehingga meliputi semua abad sepanjang zaman, terhampar luas sehingga meliputi semua cakrawala umat dan begitu mendalam (mendetail) sehingga memuat urusan-urusan dunia dan akhirat". Dan di dalam Risalah Ta'lim-nya, yang dimaksud dengan Islam universal yaitu: "Islam adalah sebuah sistem yang universal (komprehensif, total dan integral). Mencakup berbagai aspek hidup dan kehidupan.Islam adalah negara dan tanah air, pemerintahan dan umat, akhlak dan kekuatan, serta kasih sayang dan keadilan.Islam adalah kebudayaan dan perundang-undangan, ilmu dan hukum, materi dan harta benda, serta usaha dan kekayaan. Dan Islam juga adalah jihad dan dakwah, militer dan ideologi serta aqidah yang murni dan ibadah yang benar sekaligus."  
Jadi itulah keistimewaan Islam yang pertama, yaitu : Islam adalah agama bagi semua ummat manusia.  Keistimewaan kedua yaitu : Islam adalah agama bagi semua jaman / waktu. Islam tetap berlaku bagi orang jaman dahulu hingga abad modern sekarang. Dari jaman onta sampai jaman mobil. Dari zaman gerobak sampai jaman pesawat terbang. Bahkan Islam akan tetap sesuai bagi ummat manusia seterusnya hingga akhir jaman. Keistimewaan ketiga : Islam adalah agama bagi semua tempat di dunia. Islam dapat diterima dari Arab Saudi sampai Afrika. Dari India sampai Jepang. Dari Indonesia sampai Australia. Dari Eropa sampai Amerika. Allah telah berfirman: "Dan tidaklah Aku utus engkau sebagai rahmatan lil 'alamin (rahmat bagi seru sekalian alam)." (QS 21 Al Anbiya : 107)
Islam adalah rahmatan lil 'alamin. Rahmat bagi alam semesta. Bagi makhluk hidup dan juga alam sekitarnya, yaitu alam semesta. Rasulullah SAW pun diutus kepada semua ummat manusia. Kepada ummatnya hingga akhir jaman. Baik yang pernah bertemu dengan Rasul, maupun yang sama sekali tidak pernah bertemu dengan beliau. Sehingga di hari kiamat nanti, ummat yang bersama nabi Muhammad berjumlah paling besar dibandingkan ummat nabi-nabi lain sebelum nabi Muhammad diutus Allah.









TAHAP PERBAIKAN DAKWAH IKHWAN
  1. Perbaikan diri sendiri, sehingga ia menjadi orang yang kuat fisiknya, kokoh akhlaknya, luas wawasannya, mampu mencari penghidupan, selamat aqidahnya, benar ibadahnya, pejuang bagi dirinya sendiri, penuh perhatian akan waktunya, rapi urusannya, dan bermanfaat bagi orang lain. Itu semua harus dimiliki oleh masingmasing akh.
  2. Pembentukan keluarga muslim, yaitu dengan mengkondisikan keluarga agar menghargai fikrahnya, menjaga etika Islam dalam setiap aktivitas kehidupan rumah tangganya, memilih istri yang baik dan menjelaskan kepadanya hak dan kewajibannya, mendidik anak-anak dan pembantunya dengan didikan yang baik, serta membimbing mereka dengan prinsip-prinsip Islam.
  3. Bimbingan masyarakat, yakni dengan menyebarkan dakwah, memerangi perilaku yang kotor dan munkar, mendukung perilaku utama, amar ma'ruf, bersegera mengerjakan kebaikan, menggiring opini umum untuk memahami fikrah islamiyah dan mencelup praktek kehidupan dengannya terus-menerus. Itu semua adalah kewajiban yang harus ditunaikan oleh setiap akh sebagai pribadi, juga kewajiban bagi jamaah sebagai institusi yang dinamis.
  4. Pembebasan tanah air dari setiap penguasa. asing -non-Islam- baik secara politik, ekonomi, maupun moral.
  5. Memperbaiki keadaan pemerintah, sehingga menjadi pemerintah Islam yang baik. Dengan begitu ia dapat memainkan perannya sebagai pelayan umat dan pekerja yang bekerja demi kemaslahatan mereka. pemerintah Islam adalah pemerintah yang anggotanya terdiri dari kaum muslimin yang menunaikan kewajiban-kewajiban Islam, tidak berterang-terangan dengan kemaksiatan, dan konsisten menerapkan hukum-hukum serta ajaran Islam. Tidaklah mengapa menggunakan orang-orang non-Islam -jika dalam keadaan darurat- asalkan bukan untuk posisi jabatan strategis. Tidak terlalu penting mengenai bentuk dan nama jabatan itu, selama sesuai dengan kaidah umum dalam sistem undangundang Islam, maka boleh.
Beberapa sifat yang dibutuhkan antara lain: rasa tanggung jawab, kasih sayang kepada rakyat, adil terhadap semua orang, tidak tamak terhadap kekayaan negara, dan ekonomis dalam penggunaannya. Beberapa kewajiban yang harus ditunaikan antara lain: menjaga keamanan, menerapkan undang-undang, menyebarkan nilai-nilai ajaran, mempersiapkan kekuatan, menjaga kesehatan, melindungi keamanan umum, mengembangkan investasi dan menjaga kekayaan, mengokohkan mentalitas, serta menyebarkan dakwah. Beberapa haknya -tentu, jika telah ditunaikan kewajibannya- antara lain loyalitas dan ketaatan, serta pertolongan terhadap jiwa dan hartanya. Apabila ia mengabaikan kewajibannya, maka berhak atasnya nasehat dan bimbingan, lalu -jika tidak ada perubahan- bisa diterapkan pemecatan dan pengusiran. Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Khaliq.
  1. Usaha mempersiapkan seluruh aset negeri di dunia ini untuk kemaslahatan umat Islam. Hal demikian itu dilakukan dengan cara membebaskan seluruh negeri, membangun kejayaannya, mendekatkan peradabannya, dan menyatukan katakatanya, sehingga dapat mengembalikan tegaknya kekuasan khilafah yang telah hilang dan terwujudnya persatuan yang di impi-impikan bersama.
  2. Penegakan kepemimpinan dunia dengan penyebaran dakwah Islam di seantero negeri. "Sehingga tidak ada lagi fitnah dan agama itu hanya untuk Allah belaka." (Al- Baqarah: 193) "Dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya." (At-Taubah: 32)
Empat yang terakhir ini wajib ditegakkan oleh jamaah dan oleh setiap akh sebagai anggota dalam jamaah itu. Sungguh, betapa besarnya tanggung jawab ini dan betapa agungnya tujuan ini. Orang melihatnya sebagai khayalan, sedangkan seorang muslim melihatnya sebagai kenyataan. Kita tidak pernah putus asa meraihnya dan –bersama Allah- kita memiliki cita-cita luhur. "Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan orang tidak Mengetahuinya " (Yusuf: 21)
Pendidikan Islam (tarbiyah Islamiyah) tersebut harus bersifat:
  • Kontinu (Mustamiroh)  
  • Membentuk syahsiyah Islamiyah bukan sekedar transfer ilmu (Takwiniyah)
  • Bertahap/terprogram (Mutadarrijah)  
  • Menyeluruh tidak parsial (Kaaffah)

   Rabbaniyyah baik materi, tujuan, sasaran, motivasi, metode dan caranya.

Tujuan umum tarbiyah Islamiyah adalah beribadah hanya kepada Allah dan memakmurkan bumi dengan aturan Allah. Sasarannya adalah terbentuknya manusia-manusia rabbani (QS. 3:19). Motivasi harus karena Allah semata. Sedangkan sumber materi tarbiyah Islamiyah adalah ilmu Allah baik yang tertulis (wahyu) dan yang tidak tertulis (ayat kauniyah).  




2.
Akhlak sebagai sarana (wasilah)  


Islam menghendaki agar proses pendidikan berjalan sesuai dengan norma dan akhlak Islam, baik dalam pendekatan ataupun dalam penggunaan sarana. Islam melarang penggunaan sarana yang bertentangan dengan syar'i dan merusak fitrah manusia.  

3.
Syumuliyah  


Obyek tarbiyah Islamiyah adalah manusia seutuhnya. Tarbiyah Islamiyah berusaha menjaga keseimbangan pertumbuhan dan perkembangan potensi akal, jasad dan ruh manusia. Dengan adanya keseimbangan diharapkan dapat membentuk manusia secara utuh, manusia yang memiliki kepribadian kokoh, tahan menghadapi tantangan hidup dan berguna bagi orang lain.
 Pertama : Islam mengangkat harkat dan martabat wanita dan menjadikannya partner laki-laki dalam hak dan kewajiban. Masalah ini sepertinya dianggap telah selesai. Islam telah meninggikan derajat wanita dan mengangkat nilai kemanusiaannya serta menetapkannya sebagai saudara sebagai sesamanya dan partner bagi laki-laki dalam kehidupan. Wanita adalah bagian dari laki-laki dan laki-laki adalah bagian dari wanita, "Sebagian kamu adalah bagian dari yang lain." Islam mengakui hak-hak pribadi, hak-hak peradaban, dan hak-hak politik wanita secara umum dan sempurna. Islam memperlakukannya sebagai manusiadengan kesempurnaan kemanusiaannya. Ia mempunyai hak dan kewajiban, ia dipuji jika berhasil menunaikan kewajibannya, dan pada saat yang sama hak-haknya wajib dipenuhi. Al-Qur'an dan Al-Hadits penuh dengan nash-nash yang menegaskan dan menjelaskan pernyataan di atas.
Kedua : Membedakan laki-laki dan wanita dalam hak, sesungguhnya yang terjadi menyusul adanya perbedaan-perbedaan penciptaan yang sudah pasti ada di antara keduanya. Juga karena perbedaan tugas yang harus dilaksanakan serta dalam rangka menjaga keutuhan hak yang dianugerahkan kepada keduanya. Ada yang mengatakan bahwa Islam membedakan antara laki-laki dan wanita dalam banyak situasi dan kondisi serta tidak memberikan persamaan yang sempurna kepada keduanya. Pernyataan itu benar namun dari sisi yang lain perlu juga dicatat bahwa jika ada hak wanita yang kelihatannya dikuramgi dalam satu sisi, maka Islam pasti menggantinya dengan yang lebih baik pada sisi yang lain.2) atau bisa jadi pengurangan ini demi manfaat dan kebaikan wanita itu sendiri sebelum yang lainnya. Dapatkah seseorang mengatakan bahwa pembentukan jasmani dan rohani wanita itu sama persis dengan pembentukan laki-laki? Dapatkah seseorang mengatakan bahwa peran yang harus dimainkan wanita dalam kehidupan ini sama dengan peran yang harus dimainkan laki-laki, selama kita mengakui adanya ibu dan bapak? Saya yakin bahwa proses pembentukan keduannya berbeda dan bahwa tugas keduannya dalam hidup ini juga berbeda. Perbedaan ini sudah barang tentu akan diikuti berbagai pranata kehidupan yang berhubungan dengan keduannya. Inilah rahasia dari apa yang telah digariskan oleh Islam dari adanya pembedaan-pembedaan antara wanita dan laki-laki dalam hak dan kewajiban.
Ketiga : Antara wanita dan laki-laki terdapat fitrah keterikatan yang kuat satu sama lain. Ini merupakan asas pertama dalam hubungan di antara keduanya. Dan bahwa tujuan dari hubungan tadi-sebelum berupa kenikmatan dan apa saja yang terikat dengannya-adalah kerja sama untuk menjaga keberlangsungan hidup manusia dan bersama-samna menanggulangi beban kehidupan. Islam telah mengisyaratkan adanya kecenderungan jiwa ini, menyucikannya, dan mengendalikannya dari makna kebinatangan dengan satu pengalihan yang sangat indah  menuju makna spiritual, mengagungkan tujuannya, menjelaskan maksud yang ada di dalamnya, dan tinggi nilainya dari sekedar kenikmatan semata menuju sebuah kerja 2 Dalam hal warisan, Islam menjadikan bagian wanita adalah setengan dari bagian laki-laki, namun di sisi lain Islam membebani laki-laki untuk mencari nafkah  sama yang sempurna. Marilah kita dengarkan firman Allah swt.:
"Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah, Dia menciptakan untukmu istriistri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya dia antaramu rasa kasih dan sayang." (Ar-Ruum: 21).

Heri Laregrage

About Heri Laregrage

Ayah satu anak | Suka melingkar |Blogger asal Cirebon berdomisili di Semarang | Penulis Lepas | Bukan Pemula, Tapi Juga Bukan Mastah | Konsultan Kelautan | twitter @heri_laregrage | ig @herilaregrage.

Subscribe to this Blog via Email :

Terimakasih sudah berkenan untuk berkunjung. Mohon berkenan juga untuk memberikan tanggapan disetiap tulisan yang pernah dibaca atau dikunjungi.

Mohon tidak menggunakan nama anonim/ unknow, karena akan terdeteksi spam dan tidak langsung terbaca dan ditampilkan.

Yang paling penting adalah jangan pernah meninggalkan link hidup pada komentar ini. Tunggu saja kunjungan balik dari saya.