Kontribusi Dalam Dakwah

Membangun masa depan lebih baik tentunya harus diawali dengan persiapan yang baik pula. Dengan kita berencana maka ada keinginan kuat untuk menuju apa yang kita rencanakan. Sebaliknya jika kita tidak mempuunyai rencana maka hasil yang akan didapatpun menjadi sesuatu yang biasa dan ala kadarnya.

akwah mempunyai 2 peran penting, yaitu dakwah dan khidami. Peran dakwah meliputi syiar dan kaderisasi sedangkan dalam khidami, ita dituntut untuk berkontribusi dalam lingkungan kita . Salah satunya dengan melayani masyarakat dengan aktif dalam kegiatan yang ada disekitar.

Setiap massa ada pemudanya

Analogi Dakwah sama dengan Analogi Tong Setan. Roda dakwah akan berputar dan terus berputar. Perputarannya stabil dan konsisten sehingga yang harus menyesuaikan dengan kecepatan putaran dakwah adalah para aktifisnya (pengusung dakwah). 

Kecepatan putaran dakwah  disesuikan dengan medan masa dakwahnya. ketika dakwah itu bisa melewati fase kecepatan pertama, maka ketika ingin naik kelas, ia harus menaikan lagi kecepatannya begitu seterusnya naik kecepataanya seiring dengan tingginya tingkatan fasenya. Sampai ia mencapai posisi yang tertinggi dalam dakwah yaitu terbentuknya masyarakat madani.

Ketika putarannya cepat dari sebelumnya maka membutuhkan energi yang lebih besar. Begitu pula sebaliknya jika dakwah ini mengalami penurunan kinerja, maka kecepatan putarannya pun akan menurun. Barang siapa yang tidak bisa menyesuaikan dengan kecepatan putaran dakwah, maka bisa dipastikan ia akan keluar dari lintasan dakwah (orbit dakwah). 

Ketika aktifis itu ingin bertahan lama dalam putaran dakwah, maka ia membutuhkan kesiapan yang semakin besar. Begitu juga sebaliknya jika aktifis itu tidak ingin berlama-lama dalam aktifitas dakwah maka dia tidak membutuhkan bekal apa-apa. Cukup dengan diamnya aktifis, sebentar lagi ia akan terlempar meninggalkan orbit dakwah.

Setiap satu putarakan dakwah ada rijalnya masing masing yang akan mengomandoi seberapa besar kecepatan putaran yang harus dihasilkan, agar dakwah stabil keberjalanannya atau agar dakwah bisa mencapai posisi yang lebih tinggi atau lebih baik dari sebelumnya (mengalami perkembangan yang bagus dalam dakwah).

Kelangsungan dakwah telah mendapat jaminan dari Allah dalam Al-Maidah : 54. Mereka yang terdepan dalam perjuangan dakwah maka mereka itulah yang menjadi pelangsung dakwah. Sebaliknya mereka yang diam atau yang tidak ada dalam barisan dakwah maka merekalah yang menjadi penyebab mandulnya atau setatisnya dakwah itu sendiri bahkan kemunduran dakwah. Jika kita tidak melakukan kebaikan maka pilihannya adalah kita melaksanakan kemaksiatan atau hal yang tidak ada manfaatnya sama sekali.

Demisioner bukan akhir dari ladang amal kita

Organisasi dakwah dalam keberjalanannya secara tidak langsung akan menyiapkan banyak kader dengan segala keberagaman potensi dan keahlian. Sehingga potensi itu sangat bermanfaat bagi organisasi dakwah itu sendiri. Sekecil apapun peran mereka sesungguhnya dalam dakwah peran mereka sangat berarti dan Organisasi dakwah menjadi tempat berkontribusi nyata semua kader dakwah. 

Penempatan orang/kader yang tepat sesuai kemampuan dan keahlian dan potensi yang dimiliki membuat dakwah semakin hidup dan dinamis, seolah bisa menjadi orchestra kepengurusan yang harmonis. Begitu juga sebaliknya jika ada orang yang tidak bisa menjalankan fungsinya maka orchestra manjadi kacau, sumbang tak beraturan.

Pergantian kepengurusan adalah suatu keniscayaan. Dalam setiap prosesi pergantian kepengurusan organisasi ada suasana khas. Ada pengurus lama yang sudah berpengalaman dan bertambahnya ilmu karena telah mengaplikasikan amanah itu dan ada kader baru yang ngantri siap ditempatkan dalam kepengurusan periode kedepan. Regenerasi bisa menjadi upaya untuk menghilangkan kejumudan dan statisnya periode kepengurusan. Untuk itu pengalaman pengalaman berstrukstur perlu dibuka seluas luasnya bagi kader baru agar terjadi dinamisasi dan percepatan kaderisasi.

Kontribusi dakwah tidak selalu dan tidak harus dibangun dalam wadah kepengurusan formal. Purna kepengurusan tidak berarti purna kontribusi karna kontribusi bisa diberikan dalam banyak hal. Tetapi jika kita bisa berada dalam sebuah organisasi maka itu lebih baik. Sehingga akan ada keteraturan dalam bergerak dalam pusara amal jama’i yang akan lebih memudahkan pertolngan Allah muncul untuk membantu memudahkan perjuangan kita. Karna sesunggguhnya tangan Allah itu bersama Jamaah.

Penempatan kita dalam struktur organisasi merupakan amanah dakwah , bukan sebuah pemuliaan atau penghormatan. Kalau menjadi pengurus dinilai sebagai pemuliaan atau penghormatan, maka ketika ia tidak menjadi pengurus organisasia maka akan menilai itu sebagai upaya pembuangan atau pencapakan potensinya dalam organisasi.

Semangat dalam berdakwah dibarengi dengan asupan gizi yang baik.

Pada dasarnya semua orang menginginkan perubahan dalam hidup baik secara individu maupun kolektif. Dalam lingkup dakwah, untuk menuju perubahan yang lebih baik itu salah satunya dengan adanya penataan dakwah sebaik-baiknya. Untuk menghadirkan perubahan dalam dakwah tentu juga memerlukan kontribusi yang totalitas, tidak setengah-setengah. Karena kontribusi dakwah merupakan salah satu alasan pertolongan Allah itu muncul.

Tabiat dakwah yang mempunyai massa yang panjang, jalan dakwah tidaklah mulus dan yang ikut sedikit. Maka dakwah perlu asupan gizi yang baik akan memperlancar penataan dan meneguhkan kita dalam berdakwah ini.
Panjangnya jalan dakwah maka memerlukan perbekalan yang cukup bagi para pengusungnya. Hal yang harus dipersiapkan diantaranya
· Persiapan pemikiran (al Atha’ Al Fikri)
Jiwa dari perjuangan dakwah adalah kontribusi pemikiran karena nilai nilai islam hidup bersama hidupnya pemikiran islam ditengah umat, umat tidak boleh sepi dalam pendayagunaan pemikiran akar memberikan solusi yang telah diberikan islam.
· Persiapan keterampilan (Atha’ Fanny)
Ketrampilan merupakan anugrah yang mahal yang akan menjadikan kekayaan yang tak ternilai
· Persiapan Materi (Atha’ Al Maaly)
· Persiapan Jiwa (Atha’ An Nafsy)
Termasuk persiapan ini adalah kontribusi waktu dan kesempatan
· Persiapan Kewenagan (Atha’ Al Mulky)


“Fain Faqadu syaian lam yu’thi” Barang siapa yang tidak mempunyai sesuatu maka ia tidak akan dapat memberikan sesuatu. Sehingga kunci utama kontribusi adalah kita punya sesuatu yang bisa kita berikan terhadap orang lain atau dakwah itu sendiri

“Wahai ikhwah, ingatlah baik-baik, dakwah ini adalah dakwah yang suci. jamaah ini adalah jamaah yang mulia. Sumber keuangan dakwah ini dari kantong-kantong kita sendiri, bukan yang lain. Nafkah dakwah ini disisihkan sebagaian dari jatah makan anak dan keluarga kita. Sikap seperti ini hanya ada pada diri kita (para aktifis dakwah) dan tidak ada pada yag lain. Ingatlah dakwah ini menuntut pengorbanan minimal harta dan jiwa.” (Hasan Al-Bana).

Kiat berkontribusi
· Mulailah dari hal terkecil
· Meningkatkan kemampuan visualisasi terhadap gambaran balasan dan ganjaran dunia dan akhirat
· Selalu bercermin pada orang lain demi pengorbana yyang lebih baik
· Yakin kalau kontribusinya bemanfaat untuk diri sendiri dan orang lain
· Berdoa pada Allah dimudahkan dalam berkonraban dan berkontribusi.

Post a Comment for "Kontribusi Dalam Dakwah"