Thursday, July 19, 2012

Heri Laregrage

Antara Ustad Kolang-Kaling dan Ustad Penampilan (bagian 2 Habis)

Ada dua kisah tak serupa tapi sama. Tak serupa dalam hal jalan cerita dan sama dalam hal ujung cerita. Saya dapatkan kisah ini degan jarak yang berbeda, yaitu sekitar lima tahunan jaraknya. Biar bisa cepat terungkap mana yang shohih langsung saja saya ceritakan kisahnya.
Kisah kedua
Taubat dan Merubah Penampilan
Islam memang baik dan mengatur semua aspek untuk keharmonisan alam semesta. Tapi jika ada sesuatu yang buruk tentang islam maka itu bukan buah dari islam, hanya ulah dari oknum yang tidak bertanggung jawab. Bukan sistemnya yang salah tapi pelaksananya yang salah.
Begitu juga dengan apa yang terjadi pada orang yang satu ini. Kita samakan saja inisialnya dengan Fulan. Ia seorang preman dan menyadari perbuatannya tidak baik dan bertaubat. Ia minta bimbingan sang ustad bagaimana tata cara taubat yang benar dan sang ustad menyaran kan taubatan nasuha dan membuang semua perilaku dan barang yang haram.
Si Fulan pun menuruti nasehat sang ustad. Di potong rambutnya biar rapi, dia mencoba mencari pekerjaan yang halal dan dengan susah payah akhirnya ia dapatkan juga pekerjaan tersebut meskipuun hasilnya tidak seberapa, berbeda jauh sekali nominalnya dari punglinya dipasar atau hasil curiannya. Ia mencoba bersyukur dan mulai menyisihkan pendapatannya. Dengan pendapatannya ia belikan gamis dan sorban yg akan dikenakannya menunaikan sholat.
Sebelum kumandang subuh dia sudah terbangun dan iapun telah menunaikan sholat malamnya. Ia tampil dengan Potongan rapi, baju gamis yang baru, sorban putih yang melingkar dikepala. Setelah dinilai rapi ia pun pergi ke masjid dengan perlahan sambil beristigfar meminta pegampunan terhadap dosanya yang telah ia perbuat.
Jamaah shubuhpun satu persatu berdatangan ke masjid. Hampir semua jamaah yang datang kemasjid melirik ke arah si fulan. Jamaah sekitar  tidak mengenali si fulan karena penampilannya berbeda dari yang jamaah lihat selama ini. Tampilannya berbeda dengan tampilan yang dulu, tak terlihat anting dan tato yang selalu ia tampilkan untuk menunjukkan kesangarannya. Ia menjelma seorang lelaki bak seorang ulama besar yang senantiasa siap menunaikan seruan Rabb-nya.
Jamaah pun kagum karna sekilas melihat penampilan si Fulan. Sebagian besar mereka memandang bahwa kampungnya kedatangan seorang ulama yang kharismatik.
Iqomahpun dikumandangkan, dan imam masjid utama mempersilahkan si Fulan untuk menjadi imam shubuh kali ini, tapi si Fulan menolaknya dengan halus “maaf, saya hanya orang biasa yang ingin bertaubat  yang baru belajar islam, tidak pantas mengimami jamaah sekalian yang lebih terhormat dari pada saya”. Sang jamaahpun dengan serentak mengucapkan masyaaAllah, dan sang imam masjid tetap pun menambahkan “sungguh rendah hati benar saudara ini”. Dan ia pun segera maju ke mihrab imam dan memimpin jamaah subuhnya.
Selepas dzikir subuh si fulan pun pulang dan sebelum pulang dia menyalami beberapa jamaah yang ada.
Hari itu ia pun bekerja kembali di tempat kerjanya. Waktu sudah menjelang shalat jumah, ia pun meminta izin kepada bosnya untuk menunaikan shalat jumat. Dan si bos mengizinkannya. Setelah mendapat izin dari bosnya ia pun menggendong tasnya ke kamar mandi. Ia mengganti baju yang dikenakannya dengan  pakaian yang ia kenakan saat jamaah subuh. Si bos pun takjub dengan si Fulan tatkala ia pamit meninggalkan tempat kerjanya dan melangkah ke masjid yang sama ketika ia shalat subuh.
Di masjid baru ada takmir masjid yang sedang menyiapkan tempat sholat jumat. Si Fulan memilih duduk di shaff terdepan. Setelah shalat dua rakaat iapun duduk bersila dan berzikir dengan tasbihnya.
Jamaah sudah mulai berdatangan, jamaah yang hadir pun menaruh prasangka baik kepada si Fulan. Prasangkanya sama seperti yang ia sangkakan di kala subuh. Orang yang hendak mengambil posisi di samping kanan kirinya menyalami Fulan sebelum melakukan shalat tahiyatul masjid.
Adzanpun berkumandang dan ruang tengah masjid sudah penuh dengan jamaah, begitu juga teras bagain luar.
Ternyata orang yang duduk disebelah kanannya adalah khatib yang bertugas pada hari itu. Sebelum melangkah kemimbar, sang khotibpun mempersilahkan si Fulan untuk menggantikan khutbahnya tapi sekali lagi si fulan menolak dengan halusnya. Jawabannya sama seperti yang ia utarakan ketika ditawari menjadi imam shalat subuh. “maaf, saya hanya orang biasa yang ingin bertaubat  yang baru belajar islam. Tidak pantas mengimami jamaah sekalian yang lebih terhormat dari pada saya”. Para jamaahpun takjud dengan sikap tawadhunya, dan sang khotibpun menerima permohonannya.
Khutbahpun selesai, sekali lagi sang khoytib yang sekaligus imam shalat jumat mempersilahkan si Fulan untuk mengimami shalat jumat tapi sang imampun menerima dengan lapang permohonan maaf si Fulan. Ketika sang imam hendak melangkah ke mihrab imam, jamaah dari belakang mendorong si Fulan kedepan dan si fulan dengan cepat berada di posisi imam. Sang imam utamapun mengurungkan diri melangkah ke mihrab imam dan kembali ke shaf makmum di shaff pertama. Ketika si Fulan ingin kembali ke shaff makmum, ia di cegah oleh jamaah yang berada di haff depan dan diminta untuk meneruskan dan menjadi imam shalat jumat. Dia pun sekali lagi meminta maaf tetapi permintaanya kali ini di indahkan oleh jamaah dan dengan terpaksa iapun mengimami jamaah sekalian.
Sebelum takbiratul ihram ada pergolakan dalam hatinya. Masa ia seorang preman dan pencuri mengimami seorang ustad. Bacaanya saya pun belum fasih. Surah pendek pun belum ada yang saya hafal. Masih sering lupa dengan ayat ayat yang berusaha ia hafalkan. Al-fatihahpun ia masih belum lancar melafadzkannya, masih terbata bata dan belum sesuai makhrojul huruf dan ilmu tahsi qur’annya.
Dengan mengucap bismillah ia iapun memasrahkan semuanya kepada Allah berharap Allah akan melancarkan lidahnya untuk melantunkan bacaan shalat yang di jahrkan. Si Fulan pun memulai rangkaian sholat jumaat degan takbir keras yang lirih dengan perasaan berat dan ketegagangan yang ada.
Akhirnya sampai pada pembacaan surah al-fatihah, si Fulan pun membancanya dengan terbata-bata dan cukup lama. Dengan keringat yang bercucuran dan isak tangis karena ketegangan dan takut hafalannya hilang atau lupa, tapi akhirnya bacaan tersebut bisa ia tuntaskan meskipun dengan waktu yang cukup lama, hampir 15 menit hanya melafadzakan surat fatihah.
Tetapi perasaan jamaah berbeda dengan perasaan si Fulan, jamaah berfikir bahwa si Fulan membaca surah fatihah dengan khusus’ dam khidmat. Isakan tangis dan tubuh berkeringat menurut jaamah itu menandakan bahwa hubungannya dengan Allah seperti dekat sekali seakan akan ia asedang berkomunikasi dengan Allah. Akhirnya sebagian jamaahpun ikut menangis dan menghayati bacaan surah fatihah.
Setelah tuntas bacan fatihah sang imam dalam hatinya mengucap syukur alhamdulillah karena bisa menamatkan bacaan fatiha dan tidak ada yang lupa meskipun harus meyelesaikannya dalam waktu yang lama. Setelah membaca fatihah iapun berhenti sejenak dan memikirkan surah pendek apa yang akan ia baca di rakaat pertama shalat jumat.
Mengingat belum ada surah yang dihafal, renungan itu menjadi semakin lama dan jamaahpun menanti dengan sabarnya. Ia tidak menemukan surah yang akan dibacakan, ia gundah dan semakin cemas. Ia sudah membaca di dalam hati surah al –ikhlas atau An-Nas serta Al Ashr tapi semuanya hanya tuntas ayat pertama, ia tidak bisa melanjutkan ayat ayat selanjutnya.
Setelah berfikir lama iapun mengambl sebuah sikap. Iapun lagi keluar masjid dengan menangis kecil dan ia lepaskan tangisannya ketika berada di luar masjid. Semua makmumpun keheranan, tanpa fikri panjang semua orang diruang utama berlari keluar mengikuti si Fulan. Akhirnya di ruang utama pun tidak ada seorangpun karena semua orang berkumpul disekitar si Fulan yang menjadi iman shalat jumat. Melihat yang ada di ruang utama berlari keluar, Jamaah yang ada di teras masjidpun mengikuti jamaah lainnya mendekati sang imam. Sebelum sang imam memberikan penjelasan pada semua jamaah jumat. Tiba tiba bangunan masjidpun ambruk. Seluruh jamaahpun mengucap syukur merasa diselamatkan oleh Allah lewat si imam tadi. Semua jamaah sujud syukur dan bergantian memeluk sang imam. Sang imampun berdoa kepada Allah dalam hati karena aibnya telah di tutupi Nya dengan skenario Allah yang luar biasa.
Allahu ‘alah bishowab
Itulah dua kisah tak sama latar belakangnya tapi di akhir ending kisah tersebut menemukan ada kesamaan. Allahu ‘alam kisah mana yang benar dan ada sanadnya. Atau semuanya hanya sebatas kisah analogi atau motivasi belaka.
Kisah pertama saya dapatkan sebulan yang lalu di acara pengajian masjid kampung sedangkan kisah kedua saya dapatkan di semester awal ketika saya menjadi mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di semarang. Baca Antara Ustad Kolang-Kaling dan Ustad Penampilan (bagian 1)

Heri Laregrage

About Heri Laregrage

Ayah satu anak | Suka melingkar |Blogger asal Cirebon berdomisili di Semarang | Penulis Lepas | Bukan Pemula, Tapi Juga Bukan Mastah | Konsultan Kelautan | twitter @heri_laregrage | ig @herilaregrage.

Subscribe to this Blog via Email :

Terimakasih sudah berkenan untuk berkunjung. Mohon berkenan juga untuk memberikan tanggapan disetiap tulisan yang pernah dibaca atau dikunjungi.

Mohon tidak menggunakan nama anonim/ unknow, karena akan terdeteksi spam dan tidak langsung terbaca dan ditampilkan.

Yang paling penting adalah jangan pernah meninggalkan link hidup pada komentar ini. Tunggu saja kunjungan balik dari saya.