Thursday, July 5, 2012

Heri Laregrage

Karakteristik (ciri) Dakwah Kita


Berbicara tentang dakwah maka kita dituntut untuk mengerti apa yang kita sampaikan dan kita lakukan, tidak hanya sekedar teori atau retorika para da’i. Pengetahuan menjadi hal utama dalam dakwah islamiyah karena pengetahuan itulah yang akan kita tawarkan kepada objek dakwah kita.
Imam Ghazali berkata: “Ilmu tanpa amal adalah gila dan pada masa yang sama, amalan tanpa ilmu merupakan suatu amalan yang tidak akan berlaku dan sia- sia (bahkan bisa            juga celaka).” Saya yakin semuanya memiliki ilmu tetapi kadarnya saja yang berbeda beda. Sehingga kewajiban manusia adalah mencari tahu lebih banyak akan ilmu tersebut. Bukan hanya ilmu dunia, tetapi juga diakhirat, begitu juga dengan dakwah.
Dakwah yang baik mempunyai karakter dan ciri yang baik pula. Tentunya semua yang mengatasnamakan dakwah isalamiyah wajib berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunah. Imam Hasan Al-Bana merumuskan ciri gerakan dakwah islamiyah memiliki beberapa karakter yang membedakannya dengan dakwah-dakwah yang lain, yaitu;
1.      Rabbaniyah, artinya bersumber pada (dari) wahyu Allah swt.
Landasan utama yang dipakai oleh seorang da’i adalah Alquran dan Assunah. Karena landasan tersebut merupakan landasan tertinggi bagi umat islam. Ketika ada hadist yang bertentangan dengan  nash Al-Qur’an maka wajib kita menolak hadist tersebut.
2.      Wasathiyah, artinya tengah –tengah atau tawazun (seimbang)
Pertengahan berati berada di antara dua belah pihak. Kita mencampur dengan mereka tetapi kita tidak melebur. Kita tidak terlalu ekstrim dan kita terlalau lemah. Posisi tengah biasanya menjadi pengatur. Penengah merupakan rujukan banyak orang dan menjadi pertimbangan dalam sebuah keputusan tentunya bersumberkan Al Quran dan ditafsirkan oleh sunnah Rasulullah saw  membawa pesan pelaksanaan kebaikan yang terbaik dengan benar dan istiqamah serta meninggalkan segala kemunkaran dan mencegahnya secara hikmah.
3.      Ijabiyah, artinya positif dalam memandang alam , kehidupan dan manusia
Berfikir positif dengan keadaan, Allah menciptakan sesuatu tentu dengan perimbsngsn yang matang dan terencana, tergantung bagaimana seorang hamba menyikapi hal ini. Tidak memandang yang remeh dan tidak membesar besarkan perkarla yang  sepele. MAsnusia merupakan makhluk social sehingga wajib berinteraksi dan mengetahui kondisi sekitar, jika ada yang salah, bukan hanya dengan retorika tetapi dengan aksi nyata.
4.      Waqi’iyah, artinya realistis dalam memperlakukan individu dan masyarakat.
Keputusan yang diambil tentunya dengan melihat segala aspek yang ada. Kita tidak bisa menyamaratakan semua komponen masyarakat. Kita hidup dijaman apa,  dan seberapa intelekah orang yang kita dakwahi. Bukan kah rasul ketika memberi nasehat pada sahabat disesuaikan dengan keadaannya?
5.      Akhlakiyah, syarat dengan nilai kebenaran. Baik dalam sarana maupun tujuan
Akhlak merupakan perbuatan yang spontan tanpa dibuat buat. Akhlak terpuji wajib dimiliki para da’i. baik dia sendir ataupun dia bersama komunitas yang lain. Begitu juga dengan dakwah, aktifitas yang kita tawarkan adalah aktifitas yang telah terinternal dalam diri kita, buka kamuflase belaka.
6.      Syumuliyah, artinya utuh dan menyeluruh dalam manhajnya
Universal, meyangkut segala aspek kehidupan, penyempurna ajaran terdahulu dan aplikatif diterapkan hingga akhir zaman, tidak membeda-bedakan atau menyekat nyekat persoalan. Baik itu politik, social. Budaya. Pertahanan. Kemanan dan pengetahuan serta agama.
7.      ‘Alamiyah, bersifat mendunia
Umat islam itu adalah umat yang satu. Islam juga agama yang satu sehingga kita berdasar pada kesatuan akidah yang mendunia bukan hanya nasionalisme daerah atau Negara. Dimana ada seorang yang mengucap syahadat maka itu bumi islam.
8.      Syuriyah, artinya berpijak diatas prinsip musyawarah dalam menentukan segala sesuatunya.
Makhluk social adalah makhluk yang bermusyarokah, tentunya untuk kepentingan golongan. Pandangan beberapa pemikiran (kepala) akan lebih rasional dari pada pandangan personal. Sehingga timbal balik antar sesame semakin tergalakan dan perpecahan semakin dihindarkan.
9.      Jihadiyah, artinya terus memerangi siapa saja yang berani menghalang-halangi islam, dan mencegah tersebarnya dakwah.
Islam itu indah, islam itu damai, Islam memerangi dalam rangka untuk mempertahankan diri jika diserang bukan mengawali peperangan. Jika permintaan kami yg sudah disampaikan dengan mauizah hasanah tidak diindahkan, maka adakalanya kami juga bias main kekerasan,. Tapi itu adalah pilihan terakhir. Selama jalur negosiasi bias dilakukan kenapa tidak dimaksimalkan?
10.  Salafiyah , artinya menjaga orisinilitas dalam pemahaman dan akidah
Dakwah kita dakwah yang murni, aqidah yang lurus ibadah yang benar dan akhlaq yang terpuji. Sehingga perbuatan dai hendaknya mencontohkan apa yang rasul ajarkan.
Inlah dakwah kita dengan segala karakternya yang yang membedakan dengan dakwah-dakwah yang lainnya. Sesungguhnya dia merupakan dakwah (seruan) Allah. Karena dakwah itu sendiri adalah aktifitas menyeru manusia kepada agama yang telah diturunkan dan diridhaoi Allah untuk seluruh alam semesta, dan ajaran-ajarannya telah diturunkan oleh Allah sebagai wahyu atas Rasul-Nya.
Allah swt memelihara dakwah itu dan Allah juga akan memerintahkan Rasul-Nya untuk menyampaikan dakwah itu kepada seluruh manusia. Sesunguhnya seorang dai bertugas untuk mengajak seluruh manusia baik yang muslim ataupn nonmuslim untuk memahami islam dan mengamalkannya serta menegakkan  syariatnya dimuka bumi agar manusia meraih kebahagiaan didunia dan mendapat kenikmatan yang kekal di akhirat-Nya. Sehingga ini semua menuntut seorang dai untuk menjelaskan, menguraikan, dan merinci dengan mengambil keteladanan pada Rasulullah saw.
“Serulah manusia kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan mau’izah hasanah dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (An-Nahl ; 125)
Imam Al-‘Aini mengatakan, “ Hikmah itu adalah ilmu yang mendalam dan menyakinkan, mengajarakannnya adalah kesempuranaan ilmu dan metutuskan suatu permasalahan dengannya adalah kesempurnaan amal”, beliau juga berkata bahwa, “Hikmah memerlukan ilmu yang mendalam mengenai rahasia kehidupan dan tabiat manusia serta  berberbagai kondisi masyarakat”. Allah swt juga telah memerintahkan kepada kita untuk mempelajari hikmah. Bagaimana tidak, Allah telah mengutus para rasul dengan hikmah.
“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta hruf seorang Rasu diantara mereka yang membacakan ayat-ayat-Nya kepadamereka, mensucikanmereka dengan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah.” (A-Jum’ah : 2)
Sesungguhnya Kami telah memberikan kitab dan hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikannya kerajaan yang besar.” (An-Nisa :54)
Alangkah Butuhnya para da’i untuk mengetahui perjalanan hidup para nabi secara umum dan perjalanan hidup Nabi Muhammad saw secara khusus, serta perjalanan hidup salafus shalih. Dari mereka para da’i dapat mengetahui manhaj mereka dan dapat menerapkannya secara hikmah. Untuk itu suatu keharusan bagi seorang da’i untuk bertanya pada dirinya (pertama kalinya), kearah mana seharusnya kita mendakwahi manusia. Kemudian disusul dengan pertanyaan lain, bagaimana cara kita mendakwahi mereka. Agar dengannya kita bisa merealisasikan dakwah baik secara ilmu maupun penerapan secara hikmah.
Dengan cara demikian maka seorang da’i mempunyai kepentingan yang sangat besar untuk mngetahui uslubul ‘iqna (cara-cara untuk membuat orang puas) dan berbagai metode yamg beraneka ragam semisal
·         Menyampaikan dengan baik
·         Memilih uslub yang baik
·         Targhib (memberi rangsangan) dalam kebenaran
·         Menggunakan hikmah dan mauzah hasanah
·         Berdebat dengan cara yang lebih baik
·         Mempertimbangakan situasi dan kondisi
·         Mempergunakan saarana publikasi dan media moder yang paling baik.
kefahaman dibutuhkan dalam berdakwah agar manhaj dakwah yang dijalankan para dai tidak menyimpang dari manhaj Rasullulah SAW. Kefahaman sendiri bersumber dari ilmu, hal ini yang menjadi penting karena bila seseorang memiliki ghirah yang tinggi dalam berdakwah tanpa disertai ilmu maka bukannya ia menerangi objek dakwahnya, tetapi justru dapat mengarahkan mereka kepada kebatilan dan kesesatan .
Oleh karena itu imam Al-Bana meletakan syarat al-fahmu pada urutan pertama ketika seorang dai akan berdakwah. Ada beberapa faktor pendukung keberhasilan dakwah, yaitu :
  1. Al fahmu ad-daqiq (pemahaman yang rinci)
  2. Al-iman al-‘amiiq (keimanan yang dalam)
  3. Al-hubb al-watsiiq (kecintaan yang kokoh)
  4. Al-wa’yu al-kaamil (kesadaran yang sempurna)
  5. Al-‘amal al-mutawashil (kerja yang kontinue)
Allahu’alam bishowab

Heri Laregrage

About Heri Laregrage

Ayah satu anak | Suka melingkar |Blogger asal Cirebon berdomisili di Semarang | Penulis Lepas | Bukan Pemula, Tapi Juga Bukan Mastah | Konsultan Kelautan | twitter @heri_laregrage | ig @herilaregrage.

Subscribe to this Blog via Email :

Terimakasih sudah berkenan untuk berkunjung. Mohon berkenan juga untuk memberikan tanggapan disetiap tulisan yang pernah dibaca atau dikunjungi.

Mohon tidak menggunakan nama anonim/ unknow, karena akan terdeteksi spam dan tidak langsung terbaca dan ditampilkan.

Yang paling penting adalah jangan pernah meninggalkan link hidup pada komentar ini. Tunggu saja kunjungan balik dari saya.