Monday, March 25, 2013

Heri Laregrage

Kita ingat dia (tarbiyah) atau melupakannya



Refleksi untuk kader tarbiyah
Aktifitas tarbiyah seyogyanya dijalankan sepekan sekali bagi orang-orang yang tinggal dengan akses jalan dan kendaraan yang sudah dimudahkan. Berbeda dengan wilayah-wilayah pedalaman atau yang transportasi dan akses jalan terbatas, maka bisa menjadi maklum (ruksoh) kalau mereka melaksanakan halaqoh tarbiyah dua pekan sekali. Tetapi banyak juga dari mereka meski akses jalan dan kendaraan sulit, ia berusaha menjalankan aktifitas tarbiyah tetap sesuai manhaj yaitu satu pekan sekali. Subhanallah bukan....

Sekarang coba kita tanya pada diri. Seberapa komitmenkah kita dengan aktifitas tersebut?

Kita ingat dia (tarbiyah) atau kita melupakannya.
Aktifitas yang sejatinya sudah disepakati seminggu sekali dengan jam, hari dan tempat yg telah menjadi kesepakatan bersama dengan mudah kita khiyanati dengan tanpa bukti dan dalil syar'i.

Kita ingat dia atau kita melupakannya
Aktifitas yang sejatinya sudah disepakati seminggu sekali, sudah tak sabar kita untuk bertemu dengannya kembali, walau baru tiga hari lalu kita bertemu saudara-saudara kita dalam majelis halaqoh tarbiyah ini.

Kita ingat dia atau melupakannya.
Kita tanpa merasa bersalah membiarkan sang murabbi menunggu hingga lamanya. Tak bisakah kita hadir tepat waktu atau konfirmasi jikalau kita telat atau tidak bisa hadir dalam agenda tarbawi.

Kita ingat dia atau kita melupakannya
Berusaha tepat waktu dan mendahului sambil membuka buku bacaan atau mushaf al-quran baik tilawah atau murajaah, sebagai siasat menunggu kehadiran murabbi dan saudara seperjuangan lainnya.

Kita ingat dia atau melupakannya.
Kita tanpa merasa bersalah, tak hadir dengan tanpa kabar beritanya. Mungkin kita berfikir, memang siapa dia sampai sampai-sampai kita harus mengabarinya. Toh tugas orang tua (tugas kuliah) lebih penting dari pada menghadiri majelisnya.

Kita ingat dia atau kita melupakannya
Berusaha hadir dengan energi yang terbaik meski seharian kulaih, bisnis dan berorganisasi. Kita sudah merasa terikat dengan rukun halaqoh dalam jamaah ini, menjadikan mereka sebagai keluarga kami dan berusaha membatu kondisi dari teman-teman kami. Kita bangun majelis ini dengan ikatan cinta karna ilahi.

Kita ingat dia atau melupakannya.
Kita tanpa bersalah tidak hadir dalam majelisnya dan malah asik dengan pekerjaan yg sejatinya bisa kita serahkan (delegasikan) pada orang lain atau bisa kita tunda sejenak aktifitas itu. Karna saya ketuanya lah, saya ini it dan sebagainya. Bahkan tak jarang kita membuat atau memilih aktifitas tandingan agar kita punya alasan untuk tidak hadir pada aktifitas pekanan tersebut.

Kita ingat dia atau kita melupakannya
Kita luangkan waktu untuk majelis ini, berusaha mengosongkan agenda pada malam yang sudah kita sepakati menjadi malam cinta dipekan ini. Berusaha menggesar rapat, syuro dan betemu dengan klien bisnis kami. Tugas kuliahpun berusaha diselesaikan sebelum dimulainya pertemuan cinta ini atau kita tunda dan lanjutkan setelah selesainya aktifitas lingkaran cinta ini. Karena kami rindu dengan majelis ini.

Kita ingat dia atau kita melupakannya
Kita masih belum menjadwalkan dalam agenda kita, bahwa halaqoh tarbiyah menjadi bagian dari daftar kegiatan kita. Yang ada kita hanya menunggu apakah ada pesan dari sang ustad/ ketua kelompok untuk bisa hadir dlam majelis tersebut. Tak ada inisiatif utk bertanya atau mengingatkan murabbi atau teman-teman satu kelompoknya. Jika tak ada pesan atau pengingat lainnya tak jarang kita berdalih lupa. Jangankan menanyakan informasi atau materi dimajelis tersebut, mananyakan kapan pertemuan selanjutnyapun kita pun masih sungkan..

Kita ingat dia atau kita melupakannya
Berusaha memastikan jadwal kembali, kapan pertemuan cinta dalam pekan ini. Meski baru saja 3 hari lalu dilalui dan berusaha mengingatkan murabbi dan teman seperjuangan jika tak ada pesan yang singgah sebagai notifikasi halaqoh pekan ini. Kita bersemangat menghadirkan saudara kita dalam majelis halaqoh ini, meski bonus sms sdh tdk ada lagi dan meski pulsapun harus saatnya diisi.

Kita ingat dia atau kita melupakannya
Tarbiyah memang bukan segala-galanya tapi segala-galanya berawal dari tarbiyah. Berawal dari kesadaran kita mengkaji ilmu qauniyah dan qauliyah dengan itu tasqofah dan pemahaman kita insyaAllah bertamabah.

Ya Allah, sungguh Engkau tahu bahwa hati-hati ini telah berkumpul dalam kecintaan kepada-Mu, telah bertemu dalam ketaatan kepada-Mu, telah bersatu dalam dakwah-Mu, telah berjanji untuk membela syariat-Mu.
Maka eratkanlah Ya Allah, rabithahnya (ikatannya), abadikan kecintaannya, tunjukilah jalan-jalannya, isilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tak pernah padam, luaskanlah dada-dadanya dengan luapan iman kepada-Mu, keindahan tawakkal kepada-Mu, hidupkan dengan ma'rifat-Mu, matikanlah dalam syahadat di jalan-Mu.
Sungguh Engkau sebaik-baik Pelindung dan Penolong.Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahawa hati-hati ini telah berhimpun kerana mengasihi-Mu, bertemu untuk mematuhi (perintah)-Mu, bersatu memikul beban dakwah-Mu, hati-hati ini telah mengikat janji setia untuk mendaulat dan menyokong syari’at-Mu.

Heri Laregrage

About Heri Laregrage

Ayah satu anak | Suka melingkar |Blogger asal Cirebon berdomisili di Semarang | Penulis Lepas | Bukan Pemula, Tapi Juga Bukan Mastah | Konsultan Kelautan | twitter @heri_laregrage | ig @herilaregrage.

Subscribe to this Blog via Email :

Terimakasih sudah berkenan untuk berkunjung. Mohon berkenan juga untuk memberikan tanggapan disetiap tulisan yang pernah dibaca atau dikunjungi.

Mohon tidak menggunakan nama anonim/ unknow, karena akan terdeteksi spam dan tidak langsung terbaca dan ditampilkan.

Yang paling penting adalah jangan pernah meninggalkan link hidup pada komentar ini. Tunggu saja kunjungan balik dari saya.