Saturday, August 20, 2016

Heri Laregrage

Dibalik Keberhasilan ASi Ekslusif, Ada Ayah Asi yang Selalu Mendukung dan Menemani




Dibalik keberhasilan Ibu menyusui bayinya dengan ASI ekslusif, ternyata ada peran ayah yang tak kalah penting disana. Bukan bermaksud meninggikan saya sendiri atau kaum bapak pada umumnya,  tapi memang demikian faktanya. Tanpa ada dukungan penuh dari Ayah ASI maka impian ASI ekslusif untuk si kecil bisa-bisa tidak terwujud. Ditambah lagi disekitar kitapun ternyata sudah banyak “agen” susu formula (sufor) secara tidak langsung, dan agen agen itu bisa jadi ada didekat kita sendiri dan menjadi penghalang dalam program ASI ekslusif yang kita canangkan. 


Mumpung masih dalam bulan Agustus, dimana ada peringatan Pekan ASI Dunia di bulan tersebut. Tak ada kata terlambat untuk membagi pengalaman meskipun pekan asi dunia terperingati tanggal 1-7 Agustus kemarin.

Istilah Ayah ASI disematkan kepada para ayah yang membantu perjuangan seorang istri untuk memberikan ASI untuk si kecil dari bayi hingga si anak berumur 2 tahun. Ia pun berusaha menjauhkan susu formula pada anaknya meskipun hanya sebatas kebutuhan “tambahan”. Ia bukan hanya memotivasi dengan kata-kata tapi juga mengupayakan dengan tindakan nyata. [Baca Juga : Menjadi Calon Ayah Siaga]

Pengetahuan tentang manfaat ASI lah yang harus diketahui dan ditanamkan kepada semua orang tua, dengan mengetahui manfaat yang luar biasa dari ASI maka kita akan lebih termotivasi untuk selalu memberikan ASI kepada anak kita. Jika ASI belum keluar atau sudah keluar tapi sedikit maka para orang tua itupun akan selalu mengusahakan agar ASI itu bisa keluar dengan lancar. Pengetahuan tentang bahaya susu formula juga tidak kalah penting untuk digali agar kita semakin bisa menjauhi barang tersebut meskipun dalam kondisi kepepet.

Berilah makanan untuk si kecil sesuai dengan fitrahnya. ASI lah makanan yang fitrah dan yang terbaik untuk si kecil. Al-Qur’an dan Ilmu kesehatan sudah memerintahkan demikian.


“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” [QS al-Baqoroh : 233]

Terisnpirasai dari ayat di atas, saya dan istri bertekad untuk bisa memberikan ASI pada anak kami hingga usianya mencapai 2 tahun tanpa ada tambahan susu formula. Tidak mudah memang untuk mewujudkan itu semua dan ikhtiar itu masih akan kami lakukan. Kenapa tidak mudah? Bukankah jika ASI itu makanan yang fitrah untuk si kecil Allah akan menjamin itu semua? Ternyata dalam kenyataannya tidak semua ibu yang baru melahirkan langsung keluar ASInya. Ujian ini jika melihat ayat diatas maka Allah berikan berdasarkan kadar kesanggupan hambaNya. Sehingga harus ada ikhtiar bagi para orang tua agar bisa lulus dari ujian-ujian tersebut jika ia menginginkan ASI itu menjadi makanan utama bagi anaknya.

Memilih Tempat Persalinan Pro-ASI
Memilih tempat persalinan yang mendukung IMD merupakan langkah awal yang sangat penting bagi kelancaran ASI untuk si kecil. Gampang-gampang susah untuk menemukan tempat persalinan yang mendukung IMD dan pro ASI. Sehingga harus mencoba berkunjung kebeberapa bidan untuk pemeriksaan rutin kehamilan sekaligus investigasi terkait penanganannya saat menangani persalinan. Sehingga menemukan bidan dan tempat persalinan yang cocok sesuai harapan kita. Giliran sudah ada yang cocok, saat detik-detik persalinan, istri malah harus dibawa ke Rumah Sakit dan harus melahirkan disana. Alhamdulillahnya rumah sakit tersebut mendukung IMD dan istri saya ditangani oleh bidan yang pro ASI. Meskipun setelah beberapa hari di R.S  diketahui ada bidan-bidan yang pro dengan susu formula.
Bersyukur sekali bisa menyaksikan persalinan, kehamilan hingga IMD anak pertama saya secara langsung. Bersyukur sekali bisa kembali melihat senyum mengembang cerah sang istri, setelah perjuangannya dalam kegelisahan dan menahan rasa sakit hampir selama 3 hari. Bersyukur pula karena kondisi ibu dan bayinya yang sehat setelah mengalami masa persalinan yang cukup panjang.  Butuh perjuangan seorang ibu yang luar biasa agar anak pertama kami bisa lahir dengan selamat. Kisah perjuangan tersebut bisa baca di artikel yang istri saya buat [ASI Ekslusif itu Harus Kita Perjuangakan]. Nikmat mana lagi yang kita dustakan?

IMD pun bisa dikatakan berhasil meskipun kita tidak bisa mengukur seberapa banyak ASI yang masuk ke mulut si kecil saat pertama kali ia menyusui. Gerakan lemahnya berusaha menjangkau makanan pertamanya dan Alhamdulillah ia pun bisa sampai dan mengambil haknya mengkonsumsi kolostrum. Bersyukur pula saat pihak rumah sakit tidak memberikan susu formula kepada anak kami meskipun istri pernah menyampaikan kalau ASI nya yang keluar masih sedikit.
 
Cerewet Kadang Diperlukan
Cerewet diperlukan disaat seperti ini, cerewet meminta dan menegaskan kepada para perawat dan bidan agar anak saya tidak diberi susu formula. Perihal itulah yang menjadi pesan istri terhadap semua petugas kesehatan yang menanganinya. Kalau tidak berpesan diawal, bisa-bisa anak saya nanti diberi susu formula. Karena sudah menjadi kebiasaan beberapa petugas kesehatan yang pro sufor untuk memberikan sufor pada bayi –bayi baru lahir. Dengan dalih bayi kelaparan, sering menangis dan ada aja alasan lainnya yang nanti disampaikan ke orang tuanya atau keluarga si bayi. Padahal menurut  saya ketahui bahwa bayi baru lahir masih membawa cadangan makanan dan masih bisa bertahan tanpa asupan apapun sampai dengan 3 hari.

Perjuangan Kedua Baru Dimulai
Perjuangan pertama, berjuang melawan rasa lelah dan sakit saat mengandung dan melahirkan terbayar sudah. Perjuangan kedua, Perjuangan ASI pun di mulai saat hari kedua di RS. Saat istri saya mempertanyakan ASI yang tidak lancar karena si kecil selalu menangis setiap beberapa menit, padahal ia tidak pipis ataupun BAB. Ibu yang ikut menunggupun bilang, “Mungkin kurang kenyang itu si dedek, dari semalem nagis terus. ASInya Icha keluar ndak?” Meskpiun hanya sebatas pertanyaan, namun hati ibu mana yang tidak sedih mendengar ucapan demikian, ditambah sifat istri yang perasa membuat ia merasa bersalah dan bersedih, ternyata hal itu mempengaruhi produksi ASI. Ditambah hari ketiga harus imunisasi HB0, untuk mengurangi efek panas setelah imunisasi maka si kecil harus banyak mengkonsumsi ASI. Karena ASI adalah abat utama saat si kecil terkena demam.

Setelah mendapat observasi 24 jam setalah persalinan, istri dan anak sayapun diperbolehkan pulang. Berat memang meninggalkan Istri dan Anak saat itu, ditambah kurang lancarnya ASI menjadi ujian tersendiri bagi Saya dan istri. Saya sendiri juga tidak bisa terus terusan dirumah karena ada kewajiban kantor yang harus ditunaikan. Setiap Akhir pekan, Perjalanan Semarang-Bumiayu adalah agenda rutin saya yang baru, untuk menuntaskan rindu pada Anak dan istri, sekaligus memberikan dukungan langsung kepada istri dalam menjalani ujian ASI. 

Meski harus berpisah sejenak, dukungan akan perjuanagn ASI harus terus diberikan. Berbekal beberapa artikel dari internet, saya selalu mengabarkan hal-hal yang harus dilakukan istri agar produksi ASI semakin lancar. Temuan-temuan baru terkait tips untuk memperlancar produksi ASI saya terus laporkan kepada istri melalui komunikasi telepon seluler. Begitu juga motivasi lain untuk menguatkan dan meyakinkan bahwa ia bisa mengatasi ujian ini dan semuanya akan berada pada hasil akhir yang lebih baik. 
Semua informasi penting tersebut baik dari saya ataupun ia dapat sendiri mencoba diterapkan mulai dari sering disusukan, dipompa, makan makanan yang memperlancar ASI, minum suplemen pelancar ASI, konsultasi ke Klinik laktasi, Pijat Oksitoksin, Kompres air hangat, sampai dengan memperbaiki posisi menyusui sudah semua dilakukan tapi tetap saja belum menunjukkan tanda-tanda yang lebih baik. 

Ketenangan adalah Kunci Keberhasilan
Ternyata kesimpulan akhirnya adalah semua ikhtiar apapun jika ibu tidak dalam kondisi tenang hasilnya tidak akan maksimal. Kenapa saya katakana demikian? Karena ketenangan itulah yang akan menjadikan produksi ASI akan semakin lancar. Manajemen stress inilah, yang belum bisa diterapkan oleh istri saya sehingga hasil ikhtiar kurang maksimal.

Pijat Oksitoksi memang membuat rileks dan terbukti saat dipijat ASI menjadi lancar, tapi setelah pijat selesai dan tekanan lain datang kembali maka produksi ASI pun macet kembali.

Selama dirumah orang tua, bisa dibilang setiap hari makanannya adalah makanan yang berkhasiat melancarkan produksi ASI seperti sayur bening kelor, bayam, katuk, kacang hijau, marning dan lainnya, tapi karena ketidaktenangan menjadikan ASI pun keluar tidak begitu lancar. Suplemenpun untuk memperlancar ASI pun menjadi konsumsi rutin istri dan sudah beberapa merk suplemen telah ia konsumsi. 

Ibu mana yang tidak merasa bersalah dan stres, melihat anaknya sendiri menangis kelaparan karena terbatasnya ASI yang bisa ia berikan. Siapa yang tidak penat disaat ngantuk-ngantuknya tapi dilarang tidur karena kebiasaan setempat memaksa seorang ibu yang baru lahir dilarang tidur setelah subuh hingga dzhuhur menjelang. Sekali dilanggar, akan bikin riuh suasana. Padahal semaleman pun juga tidak bisa tidur karena si kecil sering terbangun dan menangis. Karena ASI tidak lancar, untuk menenangkannya pun harus digendong hingga ia tertidur dan pulas dan kebiasaann ini bisa berlangsung semaleman sampai subuh menjelang. Orang tua mana yang tidak sedih jika anaknya yang baru lahir terkenan penyakit kulit, hingga menimbulkan merah di kepala dan beberapa bagian tubuhnya. Orang dewasapun menagis kesakitan jika mengalaminya, begitu pula si kecil yang mungil.

Nenek dan kakek mana yang tega melihat cucunya sedikit-sedikit selalu menangis minta mimi’ tapi si cucu tidak mendapatkan sepenuhnya apa yang ia butuhkan. Ditambah lingkungan sekitar yang kebanyakan pro sufor, dimana hampir semua saudara dan tetangga disana memberikan sufor sebagai susu sambung pada bayi-bayinya. Ditambah lagi tangisan sikecil karena alergi kulit yang ia derita, membuat menangis kesakitan. Sehingga tak salah ketika keadaan sudah semakin jenuh, dan orang tua dengan  berat hati, memohon agar cucunya diberikan susu formula saja supaya merasakan kenyang dan bisa tidur pulas. Dan permintaan itupun kami kabulkan. 

Dua kali anak saya diberikan susu formula dengan sangat terpaksa, yang pertama diberikan tetapi sempat anak saya muntahkan kembali dan yang kedua selang beberapa pekan saat ia menginjak usia 1 bulan. Tapi setelah istri bisa mengendalikan ketenangan hatinya maka perlahan ASI pun keluar semakin lancar disaat sikecil mau menginjak usia 2 bulan.

Alhamdulillah hingga hari ini, saat usia anak kami sudah 10 bulan, ia masih diberi ASI dan tentunya dengan tambahan MPASI yang selalu dibuat sendiri dirumah. Konsumsi susu pun hanya ASI, tanpa ada tambahan susu formula sama sekali. Semoga kami bisa konsisten untuk mempertahankan dan melanjutkan kebiasaan ini hingga anak kedua kami dan seterusnya. Begitu juga kami doakan bagi para orang tua lainnya semoga bisa memberikan ASI ekslusif untuk anaknya.

Punya cerita menarik atau pengalaman seru seputar pemberian ASI? yuk ikutan give away ASI dan segala cerita tentangnya yang di adakan DuniaBiza.com. Baca info selengkapnya di Give Away ASI.


  http://duniabiza.com/2016/07/25/give-away-asi-dan-segala-cerita-tentangnya/

Baca Juga Tips Meningkatkan Produksi ASI agar ASI bisa lancar setiap hari. Untuk serial Persiapan melahirkan silakan mampir di koleksi saya yang lain [Baca ; Persiapan Melahirkan]   
Semoga Bermanfaat. 

Heri Laregrage

About Heri Laregrage

Ayah satu anak | Suka melingkar |Blogger asal Cirebon berdomisili di Semarang | Penulis Lepas | Bukan Pemula, Tapi Juga Bukan Mastah | Konsultan Kelautan | twitter @heri_laregrage | ig @herilaregrage.

Subscribe to this Blog via Email :

6 comments

Write comments
Santi Dewi
AUTHOR
August 22, 2016 at 8:25 PM delete

menyusui tanpa dukungan terutama suami, memang sulit utk berhasil.karena seorang busui butuh motivasi. Alhamdulillah suami saya pun turut mendukung pemberian ASI pada dua anak saya :)

Reply
avatar
Relita Aprisa
AUTHOR
August 22, 2016 at 11:09 PM delete

Makasiih ataas semuanya mas..:)

Reply
avatar
August 23, 2016 at 9:17 AM delete

Tanpa penguatan suami bisa rawan terjangkit baby blues syndrome yg berujung pada stres yang berefek pada kelancaran ASI. Terimakasih sudah berkunjung bu dewi...

Reply
avatar
August 23, 2016 at 9:18 AM delete

Terimakasih juga atas kepercayaannya say....

Reply
avatar
September 3, 2016 at 11:58 PM delete

Bener banget ini. ASI eklusif untuk Bintang dan Azizah tak akan terpenuhi tanpa peran dari suami. Terima kasih ya para Ayah ASI yang sudah dengan penuh cinta mendukung kami... :-)

Baca komen di atas so sweet banget. ehemmm

Reply
avatar
September 5, 2016 at 4:17 PM delete

sudah menjadi kewajiban bagi para ayah mengupayakan ASI untuk anak-anaknya. Tetap berjuang untuk para bunda-bunda semuanya..

Reply
avatar

Terimakasih sudah berkenan untuk berkunjung. Mohon berkenan juga untuk memberikan tanggapan disetiap tulisan yang pernah dibaca atau dikunjungi.

Mohon tidak menggunakan nama anonim/ unknow, karena akan terdeteksi spam dan tidak langsung terbaca dan ditampilkan.

Yang paling penting adalah jangan pernah meninggalkan link hidup pada komentar ini. Tunggu saja kunjungan balik dari saya.