Monday, August 1, 2016

Heri Laregrage

Ikhtiar Akan Menuntunmu Pada Takdir Lain Yang Sudah Allah Siapkan


Allah Sudah menetapkan kejadian tentang kita, baik kejadian yang kita sukai ataupun yang tidak kita sukai yang biasa dikenal dengan sebutan takdir. Bab takdir adalah bab konsistensi dan pembuktian keimanan. Karena banyak juga orang yang ditimpa takdir buruk ia uring-uringan dan bahkan sampai menyalahkan yang menggariskan takdir. Pantaskah itu? Meskipun terkadang orang mengatakannya karena pengaruh tekanan batin yang kuat, tapi setelah tenang ia pun beristighfar akan apa yang ia katakan sebelumnya.


Sudah banyak yang membahas apakah takdir itu bisa dirubah atau tidak? Tinggal bagaimana kita mau menggali informasinya atau tidak. Tapi ingatlah selalu bahwa apa yang sudah digariskan oleh Allah untuk kita, kita tidak bisa lari atau menghindar darinya apalagi menundanya, kecuali atas izin Allah. Yakin pada takdir bukan berarti  kita berputus asa dan lari dari usaha untuk mendapatkan yang lebih baik.

Jika takdir kita ingin selalu baik, maka dekatlah dengan Allah dan mintalah apa yang engkau inginkan. Tapi terkadang saya dan segelintir orang hanya kenceng doanya tanpa ada ikhtiar lebih untuk lebih dekat dengan Sang penentu takdir. Tapi jika kita sudah merasa dekat dan sudah ikhtiar dengan maksimal, kalau Allah menakdirkan lain, kita juga harus siap menerimanya. Yakinlah Allah ingin memberikan balasan yang terbaik bagi kita lewat jalan lain. Kata Allah dalam Surah Al-Baqarah 216 yang terbaik menurut Allah tentu akan baik bagi makhluknya.
Teringat dengan perjuangan seorang wanita tangguh yang ia berusaha menghindari takdir Allah yang buruk dengan melakukan ikhtiar yang luar biasa yang ia lakukan selama satu tahun. Melalui ikhtiar itu ia mencoba menacari jalan (tengah) terbaik, pindah dari tempat satu ke tempat lain dan tidak sedikit pula uang yang ia keluarkan untuk itu. Diperjalanan ikhtiar iapuan dikuatkan dengan kisah orang lain yang hampir serupa dengannya agar ia tetap memaksimalkan ikhtiarnya. Pun dorongan keluarga kecil dan keluarga besar yang mensupport penuh atas apa yang ia lakukan. Ditengah perjalanan itu pula ia merasa mendapat angin segar atas ikhtiarnya. 

Tapi Allah berkata lain, ia harus mengikuti apa yang sudah Allah gariskan sebelumnya. Meskipun dengan ikhtiarnya secara tidak langsung sudah ada takdir-takdir lain yang membersamai peristiwa itu telah berubah menjadi lebih lunak (baik) dari ketetapan Allah sebelumnya. Mungkin cerita ini pula yang pernah dirasakan kita atau orang-orang disekitar kita.

Ada riwayat masyhur dari Hadist Bukhari no 5288, dituturkan dengan narasi panjang. Singkatnya Khalifah Umar akan kesuatu negeri. Sebelum sampai di negeri tersebut ia mendapat kabar bahwa di negeri tersebut sedang terjadi wabah. Umar pun meminta pendapat Orang Anshar, Muhajirin dan Orang Qurays, dimana keputusan akhirnya adalah Umar memilih pulang dan tidak jadi berkunjung ke negeri tersebut.

Lalu bagaimana narasi panjangnya, berikut riwayat lengkapnya:
”Telah menceritakan kepada kami [Abdullah bin Yusuf] telah mengabarkan kepada kami [Malik] dari [Ibnu Syihab] dari [Abdul Hamid bin Abdurrahman bin Zaid bin Al Khatthab] dari [Abdullah bin Abdullah bin Al Harits bin Naufal] dari [Abdullah bin Abbas] bahwa Umar bin Khatthab pernah bepergian menuju Syam. Ketika ia sampai di daerah Sargha, dia bertemu dengan panglima pasukan yaitu Abu 'Ubaidah bersama sahabat-sahabatnya, mereka mengabarkan bahwa negeri Syam sedang terserang wabah. Ibnu Abbas berkata; "Lalu Umar bin Khattab berkata; 'Panggilkan untukku orang-orang muhajirin yang pertama kali (hijrah), ' kemudian mereka dipanggil, lalu dia bermusyawarah dengan mereka dan memberitahukan bahwa negeri Syam sedang terserang wabah, merekapun berselisih pendapat. Sebagian dari mereka berkata; 'Engkau telah keluar untuk suatu keperluan, kami berpendapat bahwa engkau tidak perlu menarik diri.' Sebagian lain berkata; 'Engkau bersama sebagian manusia dan beberapa sahabat Rasulullah Shalla Allahu 'alaihi wa sallam. Kami berpendapat agar engkau tidak menghadapkan mereka dengan wabah ini, ' Umar berkata; 'Keluarlah  kalian, ' dia berkata; 'Panggilkan untukku orang-orang Anshar'. Lalu mereka pun dipanggil, setelah itu dia bermusyawarah dengan mereka, sedangkan mereka sama seperti halnya orang-orang Muhajirin, daan meraka (Orang-orang Anshar) berbeda pendapat seperti halnya mereka (Orang Muhajirin) berbeda pendapat. Umar berkata; 'keluarlah kalian, ' dia berkata; 'Panggilkan untukku siapa saja di sini yang dulu menjadi tokoh Quraisy dan telah berhijrah ketika Fathul Makkah.' Mereka pun dipanggil dan tidak ada yang berselisih dari mereka kecuali dua orang. Mereka berkata; 'Kami berpendapat agar engkau kembali membawa orang-orang dan tidak menghadapkan mereka kepada wabah ini.' Umar menyeru kepada manusia; 'Sesungguhnya aku akan bangun pagi di atas pelana (maksudnya hendak berangkat pulang di pagi hari), bagunlah kalian pagi hari, ' Abu Ubaidah bin Jarrah bertanya; 'Apakah engkau akan lari dari takdir Allah? ' maka Umar menjawab; 'Kalau saja yang berkata bukan kamu, wahai Abu 'Ubaidah! Ya, kami lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lain. Bagaimana pendapatmu, jika kamu memiliki unta kemudian tiba di suatu lembah yang mempunyai dua daerah, yang satu subur dan yang lainnya kering, tahukah kamu jika kamu membawanya ke tempat yang subur, niscaya kamu telah membawanya dengan takdir Allah. Apabila kamu membawanya ke tempat yang kering, maka kamu membawanya dengan takdir Allah juga.' Ibnu Abbas berkata; "Kemudian datanglah [Abdurrahman bin 'Auf], dia tidak ikut hadir (dalam musyawarah) karena ada keperluan. Dia berkata; "Saya memiliki kabar tentang ini dari Rasulullah Shalla Allahu 'alaihi wa sallam beliau bersabda: "Jika kalian mendengar suatu negeri terjangkit wabah, maka janganlah kalian menuju ke sana, namun jika dia menjangkiti suatu negeri dan kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dan lari darinya." Ibnu 'Abbas berkata; "Lalu Umar memuji Allah kemudian ia pergi."

Atau kisah masyhur dari Ali bin Abi thalib ketika ia sedang duduk bersandar pada sebuah tembok yang ternyata rapuh, lalu beliau pindah ke tempat yang lain. Sehingga meninmbulkan Tanya bagi sahabat yang lain : “Apakah engkau mau lari dari takdir Allah?”. Ali menjawab, bahwa rubuhnya tembok, berjangkitnya penyakit dan sebagainya adalah hukum dan Sunnatullah. Maka apabila seseorang tidak menghindarinya maka ia akan mendapatkan bahayanya itu, itulah yang dinamakan takdir. Dan apabila ia berusaha menghindar dan luput dari bahayanya, itu juga disebut dengan takdir. bukankah tuhan telah menganugrah kan manusia, kemampuan memilah dan memilih, dan kemampuan berusaha dan berikhtiyar. kemampuan itu juga takdir yang telah ditetapkan-nya.

Zaid bin tsabit mendengar dari Rasulullah, Beliau bersabda “Sungguh, seandainya Allah mengazab penduduk langit Nya dan bumi-Nya sungguh Dia mengazab tanpa menzalimi hamba-Nya. Demikian pula, seandainya Allah merahmati mereka (memasukkan mereka ke jannah-Nya), sungguh rahmat-Nya melebihi amalan-amalan mereka. Seandainya engkau memiliki emas sebesar Gunung Uhud yang engkau infakkan fi sabilillah, amalanmu tidak akan diterima hingga engkau beriman kepada takdir seluruhnya dan engkau meyakini bahwa apa yang telah ditakdirkan akan menimpamu tidak akan meleset darimu, apa yang ditakdirkan tidak menimpamu tidak akan mengenaimu. Sungguh, seandainya engkau mati tanpa beriman kepada takdir, engkau akan masuk ke dalam neraka.” (Muqaddimah Sunan Ibnu Majah, Bab al-Qadar, no. 77, disahihkan oleh al-Albani)

Semua orang tidak mau hal yang buruk menimpanya, tapi disisi lain kita pun tidak tahu apa yang sudah Allah gariskan untuk kita dalam sejarah kehidupan kita. Semoga do’a, sodaqoh, silaturrahim, birrul walidain serta amal baik dan segala ikhtiar menjadi wasilah (perantara) kepada Allah untuk mengubah takdir buruk menjadi baik. Tak ada hal yang sia-sia akan ikhtiar yang sudah kita lakukan, semua akan diperhitungan Allah yang Maha Adil. Tinggal bagaimana cara kita dekat dan mengambil hati Allah swt Sang pemilik dan pembolak balik hati agar Allah mensukseskan ikhtiar kita.


Namun bukan berarti kita sebagai orang beriman tidak akan diuji dengan hal-hal yang tak “mengenakkan”, Ujian itu bukan karena Allah membenci kita, tapi justru karena Allah sayang kepada kita dan ingin menaikkan derajat kita menjadi lebih tinggi dihadapan Allah. Allahu A’lam

Heri Laregrage

About Heri Laregrage

Ayah satu anak | Suka melingkar |Blogger asal Cirebon berdomisili di Semarang | Penulis Lepas | Bukan Pemula, Tapi Juga Bukan Mastah | Konsultan Kelautan | twitter @heri_laregrage | ig @herilaregrage.

Subscribe to this Blog via Email :

Terimakasih sudah berkenan untuk berkunjung. Mohon berkenan juga untuk memberikan tanggapan disetiap tulisan yang pernah dibaca atau dikunjungi.

Mohon tidak menggunakan nama anonim/ unknow, karena akan terdeteksi spam dan tidak langsung terbaca dan ditampilkan.

Yang paling penting adalah jangan pernah meninggalkan link hidup pada komentar ini. Tunggu saja kunjungan balik dari saya.