Header Ads

Bekal atau Tips Itikaf Bagi Pemula



Tips I'tikaf Bagi Pemula ini merupakan artikel khusus yang saya siapkan dalam rangka melancarkan penyampaian kultum ramadhan di masjid dekat rumah. Agak ribet kalau harus ngeprint terus kemudian dibaca untuk mndalami materi, mending diposting lewat blog saja agar bisa dibuka kapan saja dan dimana saja jika sewaktu-waktu ingin mendalami materi kultum. Sengaja dibuat tidak kebanyakan dalil, tapi lebih aplikatif, lebih pada apa yang harus kita kuasai untuk bekal itikaf  bagi pemula.  

_____________________

Sebentar lagi ramadhan tahun ini, ramadhan 1440 H memasuki 10 hari terakhir. Pada sepuluh hari terakhir, ada satu amalan spesial yang mulai ramai digaungkan atau di syiarkan oleh pengurus-pengurus masjid baik takmir atau DKM serta beberapa orang (personal) terkait amalan ini. Amalan tersebut adalah ibadah itikaf. 

I’tikaf adalah amalan atau ibadah yang populer saat sudah memasuki 10 hari terakhir ramadhan. Saking utamanya ibadah ini, Rasulullah Muhammad SAW tidak pernah meninggalkan itikaf selama hidupnya ketika ramadhan. Bahkan di ramadhan terakhir sebelum Rasulullah wafat, beliau melaksanakan itikaf hingga 20 hari terakhir. Melihat kebiasaan Rasulullah tersebut, i'tikaf adalah amalan yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan oleh muslimin dan muslimat asalkan memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku.

Ketika kita mengaku umat Rasulullah, sudah tentu kita menginginkan dan meniatkan ibadah tersebut bisa kita lakukan ditengah kesibukan kita. Kalaupun pada akhirnya kita belum bisa melakukannya karena kesibukan atau halangan lain. Yang penting dalam diri kita sudah ada niat dulu dari awal untuk bisa melaksanakan i'tikaf. Jika sudah kita niatkan tapi tidak terlaksana, insyaAllah sudah dicatat Allah sebagai sebuah amalan tersendiri untuk kita. 

Nah, agar kita bisa beritikaf dengan maksimal, maka tidak ada salahnya untuk bisa menerapkan tips itikaf bagi pemula berikut ini;

Niat lurus karena Allah

Jangan sampai ibadah atau amalan yang kita lakukan hanya ikut ikutan semata, apalagi ingin mendapat pujian dari orang lain (riya). Niatkanlah diawal, bahwa kita juga bisa beritikaf dengan maksud dan tujuan kita sendiri tentunya dengan maksud mendapat ridho dan pahala dari Allah. Bukankah dalam hadist disebutkan, nantinya apa yang kita dapatkan itu berdasarkan apa yang kita niatkan? 

Pelajari dalil i'tikaf, hukum itikaf dan keutamaan Itikaf

Setelah punya niat, agar semakin kuat, semakin mantap dan semakin bersemangat menjalani ibadah itikaf dan semakin yakin dengan itikaf yang kita kerjakan, tentunya kita harus mengetahui terlebih dahulu dalil itikaf, hukum itikaf dan Keutamaan itikaf itu sendiri. berikut penjelasan singkat mengenai dalil itikaf, hukum itikaf dan keutamaan itikaf.

Dalil itikaf 

Dalil itikaf disebutkan dalam quran surah albaqoroh ayat 125, dimana Allah memerintahkan kepada Nabi Ibrahim dan Ismail untuk membersihkan sekitar kabah agar bisa digunakan untuk itikaf dan ibadah lainnya. Allah berfirman :
وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى ۖ وَعَهِدْنَا إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ
“Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i'tikaf, yang ruku' dan yang sujud". (QS Albaqorah 125)
Kalau dalam ayat ini itikaf dilakukan disekitar Baitullah (kalau sekarang sekitar kabah) adalah tempat yang digunakan orang mukmin zaman nabi Ibrahim dan Ismail untuk beritikaf. Dalam perkembangannya dizaman Rasulullah Muhammad SAW, itikaf dipusatkan di Madinah, karena madinah saat itu adalajh ibu kota dan nabi tinggal di madinah, tapi bukan berarti di sekitar kabah masjidil haram tidak ada itikaf.

Dan dalam perkembangan selanjutnya, tempat itikaf tidak dibatasi hanya di sekitar baitullah ataupun di masjid nabawi, tapi melebar kepada rumah-rumah Allah yang lain, yang didalamnya dilaksanakan shalat lima waktu berjamaah maka tempat tersebut sah digunakan sebagai tempat itikaf. Sehingga memudahkan umat islam disegala penjuru dunia untuk beritikaf, tidak harus ke madinah atau ke makkah.

Hadis lain yang sering digunakan sabagai dasar pelaksanaan itikaf adalah Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. 
Dari Aisyah ra, : “Rasulullah saw melakukan i’tikaf setiap bulan ramadhan selama sepuluh hari terakhir, maka ketika di tahun menjelang wafatnya, Rasulullah beri’tikaf dua puluh hari. Dan istri-istrinya beri’tikaf setelah itu.” ( HR. Bukhori & Muslim).

Disini ditegaskan bahwa Rasaullah selalu melaksanakan itikaf di 10 hari terakhir selama ramadhan semasa ia masih hidup. Bahkan ketika menjelang wafatnya beliau melaksanakan itikaf yang biasanya 10 hari  ia tambah menjadi 20 hari. Kita bisa mengukur diri, sepuluh hari terakhir saja kita tidak bisa full! bahkan hanya bisa menyempatkan beberapa jam saja dalam malamnya, itupun setelah shubuh kita sudah buru-buru pulang dengan alasan ada pekerjaan lain yang harus diselesaikan.

Hukum itikaf

Berdasarkan hukum pengerjaannya, hukum itikaf sendiri adalah Sunah Muakad yang berlaku bagi muslim dan muslimah. Sunnah muakad adalah sunnah yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan dan punya penekanan yang kuat agar bisa dikerjakan. Seperti halnya shalat rawatib, shalat tahajud dan shalat tarawih, nabi menekankan amalan tersebut untuk selalu dikerjakan pada waktunya dan berusaha tidak ditinggalkan. Sunah muakad adalah sunah yang sangat diutamakan dan sering dikerjakan oleh rasullullah (sebisa mungkin rasul tidak meninggalkannya tanpa udzur atau halangan mendesak atau darurat).

Keutamaan itikaf :  

Tidak banyak dalil yang bisa kita jumpai untuk menemukan keutamaan itikaf berdasarkan hadist nabi. Ada satu hadist, itupun  dipertentangkan keshahihannya. Hadis yang dimaksud adalah hadist yang diriwayatkan Imam Thabari, baihaqi padahal hadist ini di shahihkan oleh Imam Hakim. Tapi tidak mengapa kita gunakan sebagai motivasi beribadah asal tidak meyakini itu adalah hadis dari nabi, bunyi hadistnya sebagai berikut ;
“Dari ibnu Abbas ra: “Barang siapa beri’tikaf satu hari karena mengharap keridhoaan Allah, Allah akan menjadikan jarak antara dirinya dan api neraka sejauh tiga parit, setiap parit sejauh jarak timur dan barat.” (HR. Thabrani, Baihaqi dan dishohihkan oleh Imam Hakim) 

Ibadah sunah muakad yang disebutkan dalam alquran dan dilestarikan Rasulullah.

Jika ada ibadah yang disebutkan dalam Alquran keutamaannya atau kekhususannya padahal tidak wajib, maka ibadah tersebut dipandang penting oleh quran. Misal dalam shalat sunnah, shalat sunnah yang disebutkan dalam Alquran adalah tahajjud, dan nabi pun tidak meninggalkan tahajud hingga akhir hayatnya.

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَىٰ أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا

“Dan pada sebahagian malam, lakukanlah shalat Tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu; mudah-mudahan Rabb-mu mengangkat ke tempat yang terpuji” [Al-Israa/17 : 79

Itikaf disebutkan dalam quran sekalipun termasuk ibadah sunah, dengan begitu artinya ada keistimewaan tertentu yang sampai Rasulullah saw tidak meninggalkan selama hidupnya. Seperti hadis yang sudah disebutkan diatas bahawa Rasul beritikaf 10 hari terakhir ketika bertemu bulan ramadhan dan 20 hari terakhir ketika setahun menjelang wafatnya dan bahkan istrinya meneruskan setelah wafatnya beliau.

Itikaf adalah sarana untuk menunjukkan keseriusan ibadah kepada Allah

Keseriusan ini ditunjukkan disaat sebagian yang lain telah malas menunaikannya atau bahkan meninggalkannya. Aktifitas persiapan mudik lebih menonjol biasanya dari pada persiapan akhirat dengan itikaf. itikafnya pindah ke mall atau jalan raya yang selalu padat merayap diakhir-akhir ramadhan.

Dapat menuntun setiap muslim untuk fokus mengambil peluang ibadah

Saat itikaf, peluang ibadah lebih besar dari pada tidak itikaf. Kalau kita berdiam di masjidm yang sering diliat adalah alquran kita sendiri, orang yang sedang shalat, orang yang sedang tilawah, orang yang sedang mengkaji ilmu agama. 

Coba jika ibadah dilakukan dirumah, liat kasur langsung ngantuk, liat tivi langsung mendekat asyik menonton siarannya, dan hal-hal lain yang dapat mengganggu konsentrasi ibadah. Kalau di masjid, mau tidur nggak ada yang tidur, mau buka hape malu karena yang lain pada buka quran.

Berpeluang menghadirkan pahala yang melimpah

niat saja sudah berpahala apalagi melakukan itikaf betul. Langkah kita ke masjid juga berpahala, saat masuk masjid baca doa juga berpahala, saat masuk masjid dengan kaki kanan juga berpahala dan segala aktifitas yang baik insyaAllah semuanya berbuah pahala kalau diniatkan karena Allah Swt. Apalagi jika sudah ditambah tilawah berjuz-juz atau shalat sunah berpuluh -puluh rakaat ketika itikaf.

Membantu mendapatkan keutamaan malam alqodar

Yang menjadi tujuan utama orang-orang beritikaf adalah ingin menjumpai lailatul qodr dalam keadan beribadah kepada Allah dengan maksimal. Sehingga ia mendapat keutamaan beribadah lebih dari 1000 bulan, bukan sama dengan 1000 bulan. 

Jadi dengan beritikaf kita bisa :
1. Mencari malam Lailatul Qadar.
2. Terjaga dari perbuatan maksiat, baik besar ataupun kecil
3. Dijauhkan dari neraka jahanam sejauh tiga parit. Menurut Al-Kandahlawi  jarak satu parit itu lebih jauh dari pada jarak antara langit dan bumi.
4. Dengan mudah dapat mendirikan shalat fardhu secara kontinu dan berjamaah.
5. Mendapatkan pahala menunggu datangnya waktu shalat.
6. Membiasakan jiwa  untuk senang berlama-lama di masjid, dan menggantungkan hati pada masjid.
7. Memudahkan pelakunya untuk menjalankan shalat malam.
8. Membiasakan hidup sederhana, zuhud, dan berlaku tak tamak terhadap dunia.

Pelajari Hal yang dianjurkan / diperbolehkan dan apa yang dilarang bahkan hingga bisa membatalkan

Agar itikaf kita maksimal, maka tips i’tkaf bagi pemula selanjutnya adalah harus mengetahui Apa yang dianjurkan bagi orang yang sedang beritikaf dan apa yang dilarang, dan apa-apa saja yang bisa membatalkan itikaf yang sedang kita lakukan. 

Yang dibolehkan dalam beritikaf adalah segala ibadah yang bisa dilakukan didalam masjid seperti tilawah, shalat, baca buku keislaman, kajian, berdzikir dan lainnya. Sedangkan hal yang dilarang adalah apa-apa yang bertolak belakang  dengan syarat itikaf itu sendiri serta hal-hal yang berkaitan dengan pembatal pembatal itikaf. 

Hal-Hal yang menjadi syarat itikaf adalah muslim, berakal, baligh, niat, dan aktifitasnya dilakukan didalam mesjid, serta suci. Jadi tidaklah sah itikaf seseorang atau tidak bisa dianggap itikaf jika seseorang bermasalah dengan 6 poin diatas yang merupakan syarat yang harus dipenuhi sebelum melakukan itikaf. 

Selain 6 poin syarat sah itikaf yang harus kita perhatikan, ada juga empat hal yang harus dihindari ketika kita sedang beritikaf seperti : Jual beli, Berbicara biasa atau ngobrol, Berbicara kotor atau berbicara yang mendatangkan dosa, Diam tidak bicara sama sekali ketika ditanya atau ada kawajiban untuk menjawab. Empat poin tadi adalah hal yang dilarang kita lakukan saat kita sedang beritikaf, namun 4 hal tadi tidak membatalkan itikaf yang sedang dilakukan. Jadi setidaknya ada 10 point yang harus kita fahami agar itikaf kita bisa berjalan lancar. 

Selain 10 poin yang harus kita perhatikan diatas, ada 5 (lima) poin lagi yang harus kita perhatikan juga. 5 (lima)  point tersebut adalah hal-hal yang akan membatalkan itikaf kita. Hal-hal yang akan membatalkan itikaf seseorang adalah Sengaja keluar tanpa keperluan, melakukan aktifitas suami istri, Gila/ mabuk, Haid dan Nifas, Murtad.

Dari 5 poin diatas, ada pembatal yang memiliki durasi lama dan ada yang memiliki durasi sebentar. Yang memiliki durasi lama adalah haid dan nifas. Seorang wanita paling cepet selesai dari haid adalah 6 hari sedangkan untuk nifas adalah rata-rata 40 hari. Kalau durasi haidnya selbih dari 10 hari bisa jadi ketika sudah suci  moment 10 hari ramadhan sudah berlalu. Sedangkan poin lain bisa lebih cepat selama ia menyadari kesalahannya dan sudah hilang dari dirinya poin-pont diatas. 

Persiapakan perlengkapannya

Setelah kita mengetahui hal prinsip dan dasar mengenai itikaf, biar lebih maksimal kita juga harus mempersiapkan segala kebutuhan selama itikaf. Mushaf adalah peralatan wajib utama yang harus ada. Meskipun bisa juga kita pakai alquran punya masjid. Tapi kalau kita sendiri punya kenapa tidak memanfaatkan apa yang kita punya, toh pahala bacanya akan maksimal kembali kekita. Kalau itu pemberian orang lain, sebagai penghargaan juga bagi mereka agar pahala bacanya sampai ke mereka yang memberikan mushafnya kepada kita.  

Dalam itikaf boleh kok bawa bantal atau kasur, selama peralatan tersebut kita yakini bisa memaksimalkan itikaf yang kita lakukan. Bagi yang menginap jangan lupa membawa peralatan mandi, meskipun kita berdiam diri dimasjid, bukan berarti kita tidak mandi. Kasian juga kanan kiri kita dibuiat tidak khusyuk sama kita jika tidak membawa peralatan mandi atau sampai tidak mandi saat itikaf. 

Membuat program/ target iktikaf

Itikaf tidak melulu shalat dan tilawah, tapi bisa juga diisi dengan aktifitas lain seperti membaca buku islam atau ibadah lainnya. Biasanya di masjid-masjid tertentu panitia itikaf sudah membuat jadwal atau program untuk menjamu tamu Allah yang hendak beritikaf, jika sudah begitu maka hormatilah kegiatannya, hentikan sejenak aktifitas ibadah pribadi kita dengan membaur dengan jamaah lain untuk mensukseskan program yang sudah panitia siapkan. Panitia biasanya menyiapkan kajian keislaman di waktu-waktu tertentu dan melaksanakan shalat malam di waktu sepertiga malam. Jika tidak ada program dari panitia, maka fokuskan untuk mencapai targetan-targetan pribadi.

Definisi Itikaf

Setelah panjang lebar membahas hal yang harus menjadi bekal kita selama itikaf, kini kita sejenak menghayati makna atau asal kata dari itikaf itu sendiri. I’tikaf sendiri merupakan kata kerja, diamana asal katanya dari kata 'akafa yang berarti diam, fokus terhadap sesuatu. Sedangkan orang yang melakukan ibadah itikaf disebut dengan ‘aakifun.

Penceramah biasanya mengambil contoh untuk menjelaskan itikaf, ia mengambil pelajaran dari QS Al-Anbiya (21) ayat 52,
إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا هَٰذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ

 (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?" 

Dimana kaum musa yang belum beriman, ketika dihadapkan pada tuhan berhalanya ia sangat fokus dan konsentasi dengan berhala yang ada di depannya sambil memanjat doa atau hal-hal yang mengagungkannya. Sampai sampai ketika di panggil ia tidak menoeh sedikitpun saking khyusuknya, saking fokusnya pada sesuatu yang ada dihadapannya. 

Sehingga disini itikaf disini adalah usaha yang sungguh sungguh, serius dan fokus pada suatu hal yang ingin diraih dalam kehidupan. Sedangkan jika dikaitkan dengan itikaf ramadhan adalah sebuah usaha berdiam diri dimasjid dengan penuh kefokusan, kesungguhan dalam rangka menundukkan dan mendekatkan diri kepada Allah dalam rangka ibadah.  

Jadi point yang ada dalam itikaf itu Ada yang difokuskan, yaitu fokus beribadah dalam segala aspek. Ada yang diharapkan yaitu mengharap ridho Allah atau pahala dari Allah hingga mendapatkan lailatul qodr. Allahu'alam

1 comment:

  1. selalu salut dengan orang-orang yang itikaf di mesjid ��

    ReplyDelete

PERHATIAN :
Komentar menggunakan anonim/ unknown idak akan DIBALAS dan akan dihapus, karena akan terdeteksi spam.

Menyisipkan Link hidup akan langsung DIHAPUS

Terimakasih sudah berkenan untuk berkunjung.
Simak juga komentar" yang ada karena bisa jadi akan lebih menjawab pertanyaan yg akan diajukan.

Powered by Blogger.