Belajar Jurnalisme dari Mas Iwan Kelana: Menulis dengan Isi dan Nurani

Menulis berita bukan sekadar menuangkan kata. Ada seni, ada logika, dan tentu saja ada tanggung jawab moral di baliknya. Hal inilah yang disampaikan oleh Mas Iwan Kelana (Setiawan Hendra Kelana), Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Tengah periode 2025–2030 dalam sebuah sesi pelatihan jurnalistik.

Mas Iwan—yang sebelumnya dikenal sebagai Sekretaris PWI Jateng sekaligus Komisioner Komisi Informasi Publik (KIP)—berbagi pengalaman tentang bagaimana tulisan kita bisa layak muat di media arus utama atau media nasional.

1. Isu Kapasitas dan Teknis Penulisan

Menurut Mas Iwan, hal pertama yang harus diperhatikan seorang jurnalis adalah kapasitas diri dan kemampuan teknis menulis. Tulisan yang baik lahir dari pemahaman yang utuh terhadap isu yang diangkat. Jurnalis harus paham konteks, sumber informasi, dan cara menulis yang sesuai kaidah jurnalistik.

2. Angkat Persoalan

Tulisan jurnalistik yang kuat selalu berangkat dari persoalan nyata di lapangan. Jangan menulis hal yang mengambang atau sekadar opini. Temukan masalah yang menyentuh publik, lalu hadirkan dengan cara yang tajam dan faktual.

3. Pahami Regulasi

Dalam dunia jurnalistik, regulasi adalah pagar etika sekaligus perlindungan. Jurnalis harus tahu batas mana yang boleh dan tidak boleh, terutama yang menyangkut hak privasi, data publik, dan etika pemberitaan.

4. Sajikan Gagasan Solusi

Mas Iwan menekankan, berita yang baik tidak hanya mengangkat masalah, tapi juga memberikan gagasan atau alternatif solusi. Di sinilah peran jurnalis sebagai pencerah publik, bukan sekadar pengabaran fakta.

5. Faktor Non-Teknis: Kedekatan dan Kemanusiaan

Selain kemampuan teknis, Mas Iwan mengingatkan pentingnya faktor kedekatan (human interest). Tulisan yang punya sentuhan manusiawi lebih mudah diterima pembaca maupun redaksi media. Kedekatan bisa bersifat geografis, sosial, bahkan emosional.

Nilai Berita: Pilar yang Menentukan Layak Tidaknya Suatu Tulisan

Mas Iwan juga mengulas kembali lima nilai berita yang menjadi kompas setiap jurnalis:

  • Objektif – Berdasarkan fakta, tidak memihak.

  • Aktual – Terbaru, segar, belum “basi”.

  • Luar biasa – Menyajikan sesuatu yang besar, unik, janggal, atau tidak umum.

  • Penting – Memiliki pengaruh bagi masyarakat luas atau menyangkut tokoh penting.

  • Jarak (Kedekatan) – Makin dekat secara geografis, kultural, atau emosional, makin menarik.

Nilai-nilai inilah yang membuat berita punya daya jual dan relevansi di mata pembaca maupun redaksi.

Lead: Kunci yang Menggoda Pembaca

Bagian terpenting dari sebuah berita adalah lead—paragraf pembuka yang menjadi inti dari seluruh laporan. Lead yang baik tidak hanya berisi fakta utama, tapi juga mengusik rasa ingin tahu pembaca untuk terus menelusuri isi berita.

Mas Iwan mengibaratkan lead seperti “pintu rumah”. Jika pintunya menarik, pembaca akan ingin masuk dan melihat isi di dalamnya.


Dari sesi ini, satu hal yang paling membekas adalah bahwa jurnalis sejati bukan hanya pandai menulis, tapi juga berani berpihak pada kebenaran. Tulisan yang hidup adalah tulisan yang lahir dari nurani dan empati.

Seperti pesan Mas Iwan:

“Tulislah dengan hati, tapi pastikan pikiranmu tetap jernih. Karena tugas jurnalis bukan sekadar menulis, tapi menjaga nurani publik.”

Post a Comment for "Belajar Jurnalisme dari Mas Iwan Kelana: Menulis dengan Isi dan Nurani"