Wednesday, October 28, 2015

Heri Laregrage

Menjemput Bidadari Dunia , Part 9 ~Menentukan Mahar ~




Salah satu kewajiban yang harus diberikan suami kepada istrinya adalah mahar. Mahar adalah harta yang wajib diserahkan suami kepada istrinya karena sebab akad nikah.

 Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban” (QS. An Nisa : 24). 

Sedangkan untuk besarnya nilai mahar, maka tidak ada batasan minimal atau maksimal nilai suatu mahar. Kaidahnya adalah segala sesuatu yang sah dijadikan alat transaksi jual beli atau alat pembayaran sewa menyewa, maka ia sah untuk dijadikan mahar. 

Sehingga mahar atau mas kawin adalah sesuatu harta (baik barang ataupun uang) yang diberikan oleh keluarga atau  calon mempelai laki-laki kepada calon mempelai wanita. Mahar adalah hak murni wanita, dan dalam perkawinan harus ada pemberian harta dari pihak laki-laki terhadap wanita sebagai mahar, adapun jenis dan kadar mahar berbeda-beda sesuai dengan kemampuan.

Abu Salamah bin Abdurrahman berkata, “Aku bertanya kepada Aisyah, isteri Nabi SAW, “Berapakah nilai mahar yang diberikan Rasulullah? 

Aisyah menjawab, “Mahar  yang baginda diberikan untuk isteri-isterinya sebesar 12 uqiyah dan nasya. Aisyah berkata, Apakah engkau tahu apakah nasya itu?
Aku berkata, “Tidak? 

Kata Aisyah, “Nasya adalah ½ uqiyah. Maka nilainya sekitar 500 dirham. Demikianlah mahar Rasulullah  untuk isteri-isterinya.- (HR. Muslim)

Dalam hadist  yang panjang  Riwayat Bukhari no. 5087 dan Muslim no. 3472 kisah pemberian mahar Sahabat Sahl bin Sa’ad Ra. Rasul menjelaskan bahwa mahar adalah sesuatu yang kita atau keluarga kita punyai yang bisa kita minta untuk dijadikan mahar.

Rasul bertanya “Apakah engkau punya sesuatu untuk dijadikan mahar?”. “Tidak demi Allah, wahai Rasulullah,” jawab Sahl

 “Pergilah ke keluargamu, lihatlah mungkin engkau mendapatkan sesuatu,” pinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Laki-laki itu pun pergi, tak berapa lama ia kembali, “Demi Allah, saya tidak mendapatkan sesuatu pun,” ujarnya. 

Rasulullah bersabda: “Carilah walaupun hanya berupa cincin besi.”
Setelah berusaha mencari dan sudah ditegaskan ia tidak punya apa-apa, Rasulpun kembali bertanya :“ Apa yang kau hafal dari Al-Qur`an?”. “Saya hafal surah ini dan surah itu,” jawab Sahl.

Rasulpun bertanya kembali : “Apakah benar-benar engkau menghafalnya di dalam hatimu?” tegas  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.“Iya,” jawabnya.

“Bila demikian, baiklah, sungguh aku telah menikahkan engkau dengan wanita ini dengan mahar berupa surah-surah Al-Qur`an yang engkau hafal,” kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sehingga dalam pemberian mahar hendaknya jangan mempersulit diri dan membebani. Meskipun ada juga yang menaksir nilai mahar karena gengsi.

Heri Laregrage

About Heri Laregrage

Ayah satu anak | Suka melingkar |Blogger asal Cirebon berdomisili di Semarang | Penulis Lepas | Bukan Pemula, Tapi Juga Bukan Mastah | Konsultan Kelautan | twitter @heri_laregrage | ig @herilaregrage.

Subscribe to this Blog via Email :

Terimakasih sudah berkenan untuk berkunjung. Mohon berkenan juga untuk memberikan tanggapan disetiap tulisan yang pernah dibaca atau dikunjungi.

Mohon tidak menggunakan nama anonim/ unknow, karena akan terdeteksi spam dan tidak langsung terbaca dan ditampilkan.

Yang paling penting adalah jangan pernah meninggalkan link hidup pada komentar ini. Tunggu saja kunjungan balik dari saya.