Tuesday, September 20, 2016

Heri Laregrage

Ikhtiar Menyambut Buah Hati 9 : Detik-Detik Melahirkan, Begini Rasanya Persalinan


Wanita mana yang tidak mau mengandung dan melahirkan?
Karena ini merupakan sebuah impian semua wanita meskipun harus merasakan sakit, lemah lagi bersusah payah.
"....Seorang ibu yang mengandung dalam keadaan lemah yang bertambah tambah..." (QS. Lukman : 14)
Menurut tafsir Jalalainnya, Seorang wanita yang sedang mengandung akan merasakan kondisi kepayahan (susah Payah). Selain dalam kondisi susah payah, seorang wanita hamil pun akan ada dalam kondisi yang lemah dan semakin bertambah lemahnya sesuai dengan semakin besar umur kehamilannya dan mendekati persalinannya.
Persalinan dan Melahirkan adalah sunnatullah yang akan dirasakan oleh hampir semua wanita. Meski terkadang Allah uji beberapa kaum hawa untuk bersabar dan mengikhtiari agar sunatullah tersebut menghampirinya.

Detik-detik persalinan dan kehamilan adalah waktu dimana Ibu hamil merasakan puncak kepayahan dan kelemahan, bahkan dengan kondisi itu bisa jadi lebih mendekatkan ia dengan maut dan susah untuk berpikir jernih akibat rasa sakit dan nyeri yang mendera. Hal itu pula yang dirasakan istri saya saat mengandung dan melahirkan anak pertama kami.

Kepayahan dan kelemahan semakin menjadi kala mendekati persalinan dan melahirkan. Semua aktifitasnya dilalui dengan dihantui rasa sakit. Bukan hanya sekedar dari bangun tidur hingga menjelang tidur, bahkan ditengah tengah waktu tidurnyapun masih merasakan sakit akibat kontraksi menjelang melahirkan. Alhasil tidur tidak nyenyak dan kurang tidur.

Lilitan sakit itupun tak mampu menegakkan rangkanya, ditambah sedikit jeritan kecil sambil meramas apa yang ada disekitar, hanya bisa menahan dan memegangi perut untuk mengurangi rasa sakit tersebut.

Kondisi tersebut tentu tidak membuat nyaman aktifitas yangg sedang ia kerjakan, baik makan, bercengkrama, dan aktiftas menarik lainnya. Meskipun sudah mengungsi sementara tinggal serumah dengan orang tua, tapi tetap saja perhatian dan  kenyamanan  bersama keluarga seakan terkikis oleh sakit yang mendera. Belum lagi anjuran orang tua yang melarang wanita hamil tidur sebelum duhur, meskipun ia tahu anaknya belum bisa tidur semalaman.

Rasa sakit itu selalu menjadi dzikrul maut sekaligus membayangkan kembali apa yang telah dirasakan oleh ibu kita kala melahirkan kita dan suadar-saudara kita. Kalau kita sebagai orang dekatnya saja bisa membayangkan sesakit apa rasanya, lantas masihkah kita mengelak perjuangan melahirkan para orang tua kita? Sudah sejauh apakah bakti kita padanya. Sering membuatnya tersenyum atau manbuatkanya mengenyitkan dahi? atau bahkan kita pernah membuatnya menangis..?!

"YA Rabbana, Ampunilah dosa-dosa ibu kami dan bapak kami, kasihanilah mereka sebagaimana mereka mngasihani kita sewaktu kita kecil, Hentikanlah kesedihannya, perlihatkanlah senyum mengembangnya dengan berita yang membuat ia bangga. Berilah kebahagiaan dunia dan akhirat padanya. Aamiin.."


Benar pula apa yang dituturkan kawan ataupun seorang bidan bahwa tanda-tanda persalinan diantaranya akan merasakan sakit pinggang,  nyeri yang samar, ringan, kadang hilang dan kadang muncul, dan semakin dekat melahirkan maka semakin amat nyeri menyerang. Kadang keram perut, keram paha dan kesakitan lain yang membuat semuanya menjadi tidak nyaman.

Dalam dunia kebidanan, persalinan merupakan proses membuka dan menipisnya serviks dan janin mulai perlahan turun kedalam jalan lahir. Sedangkan kelahiran adalah proses dimana janin dan ketuban didirong keluar melalui jalan lahir.

Menikmati proses persalinan dari  pembukaan satu hingga selesai tuntas kepembukaan sepuluh katanya luar biasa memang luar bisa. Bukan hanya untuk wanita hamil yang sedang merasakan kepayahan itu, tapi juga bagi orang-orang disekitarnya pun seolah merasakan sakit yang sedang dirasakannya. Sehingga alangkah baiknya jika seorang suami bisa berada disamping istrinya, selalu memotivasi agar bisa kuat dalam kepayahan untuk menyambut buah hati nan rupawan. Semua istri menginginkan itu (ditunggui suami saat melahirkan) tinggal bagaimana suami merespon keinginan tersebut dan semoga ada keluangan waktu untuk memenuhi permintaan tersebut.

Istriku termasuk yang mengalami masa "pembukaan yang lama", dari jumat sore sudah nge-flek. Hari sabtu menjelang sore sudah merasakan nyerinya dan vonis bidan menyatakan sudah pembukaan satu dan kami pun diminta kembali empat jam kemudian. Setelah empat jam kembali vonispun masih sama. "masih pembukaan satu ini mah, sabar heula, sambil melakukan aktifitas untuk mengabaikan rasa sakit. besok pagi pagi coba kesini lagi saja barang kali sudah bertambah atau kalau sudah nyerinya meningkat bisa balik lagi kemari" Bidan pun memberikan saran.

Bidan juga menginformasikan kepada kami bahwa ada yang mengalami pembukaan satu sampai sepuluh (lengkap) itu bisa berhari hari, bisa seminggu atau bahkan lebih dari seminggu. Bidan tersebut juga baru saja menangani persalinan seorang ibu yang mengalami pembukaan satu sampai dengan sepuluh dengan waktu satu minggu persis. Si pasien lebih memilih menunggu satu mingu sampai benar-benar lengkap pembukaannya dengan menikmati rasa sakit disetiap aktifitasnya. Tapi tidak semua orang tahan dengan rasa sakit itu, kalau ibu hamil tahan pun maka keluarga (orang orang didekatnya) merasa kasihan dan ingin mengupayakan agar proses itu cepat selesai dan bayipun bisa keluar dengan selamat. Orang-orang yang baru pertama melahirkan katanya akan lebih mungkin mengalami proses pembukaan dengan waktu yang lumayan panjang. Meskipun ini bukanlah keumuman tapi hanya terjadi di sebagian orang.

Siapa yang tidak kasihan, melihat istri sendiri  merintih kesakitan menikmati proses persalinan. Sehingga dalam keadaan tersebut wanita hamil memerlukan perhatian ekstra dan penguatan maksimal kalau ia mampu menjalani dan melewati proses-proses tersebut. Bukan malah disalahkan karena tidak bisa sabar atau sering mengeluh karena tidak bisa menahan rasa sakitnya. Apalagi memarahinya karena dianggap merintih manja.

Kamipun mencoba menunggu dan tidak keseringan bolak-balik kebidan, karena setiap kali kebidan otomatis akan mengalami pengecekan dan pengecekan tersebut lumayan sakit bagi ibu hamil.

Ternyata tidak kuat juga menunggu sampai benar benar pembukaan itu penuh. Belum lagi setiap melihat istri pun semakin tidak tega, sehingga memutuskan untuk melakukan pengecekan ke tempat lain, yaitu di RSUD dan di RSU Muhammadiyah.Setelah mengemas peralatan kebutuhan persalinan baik kebutuhan istri dan calon bayi kitapun berangkat menuju rumah sakit terdekat.

Di daerah masih belum banyak klinik atau rumah sakit yang membuka poli kandungan dan kebidanan full time. Keterbatasan dokter kandungan membuat rumah sakit atau klinik pun harus berbagi jadwal dokter spesialis. Sehingga tidak heran kalau antriannya selalu mengular. Terlebih sekarang, ibu hamil  yang ada di desa sepertinya sudah sering memperhatikan kondisi kehamilannya dengan memeriksakan ke dokter spesialis kandungan bukan hanya kepada bidan.

Saat datang di RS Muhammadiyah yang melayani hanya bidan dan bidanpun menyampaikan hal yang sama seperti bidan didekat rumah "Ini masih pembukaan satu bu!". Bidanpun memberikan penguatan untuk bisa bersabar. Karena bidannya sendiri sewaktu mengandung anak pertama pembukaan 1 sampai 10 ia lalui dalam waktu empat hari, dan ia pun memilih menunggu itu.

Kamipun melakukan pengecekan ketempat lain agar lebih meyakinkan dan valid. Sebelum menentukan RS mana yang akan didatangi terlebih dahulu memastikan Rumah sakit atau poli mana yang pada hari dan jam itu ada dokter kandungan yang membuka praktek.  RSUD masih membuka praktek poly kandungan dan Kebidanan, kami pun bergegas kesana karena jam 11.00 Pendaftaran di tutup dan dokternya ada praktek di tempat lain.

Setelah mengantri dan menunggu lama kami masuk ruangan, tak ada raut muka yang ramah dan halus dari sang dokter. istri saya hanya bilang sudah mules-mules dok!. Kemudian istri diminta berbaring, di cek pembukaannya dan di USG. Setelah selesai sang dokter bilang "ini masih bukaan 1 tapi ketubannya sudah merembes. Saya buatkan rujukan untuk rawat inap ya!". Tanpa memberikan kesempatan dialog, sang dokter seakan fokus kepada memo yang akan ditulisnya.

hmm makin was-was dan tambah dagdigdug. Sudah cemas dengan pembukaan satu yang tak kunjung nambah, ditambah lagi vonis dokter yang bilang ketubannya sudah rembes.

Istripun tidak percaya, karena ia tidak merasakan ada cairan yang mengalir, dan maaf celana dalam pun masih dalam kondisi kering, hanya ada bercak darah sedikit. Istripun menayakan kembali karena membutuhkan jawaban penegasan dari sang dokter, tapi dakter malah jawab dengan nada ketus. "Ini harus segera ditangani. kalau ibu mau bisa rawat inap, kalau tidak pun juga silahkan" tegas Dokter.

Siapa yang tidak makin nyeri hati mendapat perlakuan yang tidak ramah dari dokter disaat sedang ikhtiar menyelesaikan sakit. Ditambah lagi yang katanya efek ketuban rembes atau pecah berdasar informasi harus segera diambil tindakan. Setelah menimbang, putusannya lebih baik rawat inap kembali kembali ke RS muhammaiyah saja. Dengan pertimbangan kebersihan, pelayanan dan akses transportasi.

Kamipun kembali lagi ke IGD RS muhammadiyah dan untuk memastikan vonis dokter, bidan pun berkonsultasi dengan dokter kandungan yang ternyata dokter kandungan tersebut adalah orang yang sama dengan yang di RSUD.

Berharap akan lebih mendapat perlakuan yang baik karena berfikir, mungkin jika di RS swasta pelayanan pada pasiennya akan berbeda,  dia akan lebih ramah, karena besaran tarifnyapun berbeda.

Didepan ruangan pak dokter sudah banyak orang yang mengantri untuk konsul dan periksa. Tapi waktu itu istri saya didahulukan untuk konsul agar segera ditangani proses persalinan dan kelahirannya. ternyata apa yang disangkakan tidak sejalan dengan keinginan hati. bahkan lebih tidak ramah lagi pelayanannya. Si dokterpun bilang dengan nada tegas "Ibu, dimana-mana proses mau melahirkan itu sakit, kalo ibu mau nunggu ya silahkan nunggu dirumah, kalau disini (rumah sakit) tempat orang yang mau dirawat. nanti di induksi biar tidak terlalu lama nahan rasa sakit". Kalau sudah begini mau bertanya lebih lanjut juga sudah malas. Dari pada memilih ribut yang tidak akan menyelesaikan rasa sakit, lebih baik langsung ditangani oleh perawat yang bertugas.

Jam 11 siang istri masuk ruang bersalin dan langsung dipasang infus. Beberapa menit kemudian setelah mengecek ada alergi atau tidak, bidanpun langsug memasukkan obat perangsang rasa mules kedalam infus cair yang lebih dikenal dengan proses induksii. Tentu sang perawat tidak menyampaikan ke pasien kalau ia mau memasukkan obat perangsang mules pada. Tapi ia berkomunikasi dengan pihak keluarga pasien agar lebih menenagkan pasien.

Proses induksi ini memungkinkan seseorang bisa dengan mudah menentukan hari kelahiran anak seperti apa yang diinginkan tanpa harus melakukan operasi cesar. Dengan syarat posisi janin sudah tepat berada di jalan lahir (mapan untuk keluar) meskipun belum datang rasa mulas sebagai pertanda terjadi proses pembukaan. Jadi tidak mesti harus di cesar agar bayi lahir pada hari atau tanggal yang diingnkan. Asal sudah mapan posisinya maka proses induksi bisa dilakukan, tentunya ini diluar pembahasan boleh atau tidak perbuatan tersebut berdasarkan dalil fiqihnya.

Mendengar kata induksii, istri saya makin kefikiran lagi. Karena menurut yang ia pantau dari artikel dan grup-grup kesehatan, persalinan dengan induksi akan mengakibatkan rasa sakit yang 2 kali lipat bahkan lebih dari persalinan biasanya. Sehingga istripun selalu bertanya setiap bidan akan memasukkan tambahan cairan kedalam infus cairnya.

Beberapa menit kemudian istripun merasakan sakit yang lebih dahsyat lagi. Bisa dibilang inilah awal persalinan sebenarnya. Efek obat mulas pun semakin bereaksi. Tapi jam 14.00 pengecekan masih di pembukaan 1. Bidanpun memberikan himbauan jika sampai jam 17.00 tidak ada penambahan pembukaan maka harus tambah dosis atau dilakukan tindakan lain.

Alhamdulillah Pengecekan pukul 17.00 sudah masuk pembukaan 2 dan Pukul 19.00 sudah pembukaan 4 dan pukul 20.30 ketuban mulai pecah dan beberapa menit bidan pun datang untuk pengecekan dan Alhamdulillah pembukaan sudah lengkap.

Ada rasa senang dan haru yang menyelimuti. Setelah penantian rasa sakit yang panjang, ada sedikit senyum dari istri untuk menyambut sang buah hati. Gurat di dahi tak terlalu mengernyit, senyum simpul sedikit mengembang meski dengan menahan rasa sakit. Bidan dan tim pun menyiapkan segala suatu yang dibutuhkan dalam proses melahirkan tersebut.

Bersambung.... :)



Artikel terkait : 
Ikhtiar Menyambut Buah Hati 10 : Detik-Detik Melahirkan, Selamat Datang Putri Kecilku 

Akan Tayang :
Ikhtiar Menyambut Buah Hati 11 -Sunah-Sunah Pada Bayi Baru Lahir 

Heri Laregrage

About Heri Laregrage

Ayah satu anak | Suka melingkar |Blogger asal Cirebon berdomisili di Semarang | Penulis Lepas | Bukan Pemula, Tapi Juga Bukan Mastah | Konsultan Kelautan | twitter @heri_laregrage | ig @herilaregrage.

Subscribe to this Blog via Email :

6 comments

Write comments
Dewi Rieka
AUTHOR
September 21, 2016 at 11:08 AM delete

keren banget deeeh yayangnya mba relita, bermanfaat sekali tulisanmu mas, keep blogging yaaa..segera didotkom yaaa hehe..

Reply
avatar
Relita Aprisa
AUTHOR
September 21, 2016 at 11:37 PM delete

He..he jadi malu sama mba dewi :) siip mba, lagi dalam proses ganti .com :)

Reply
avatar
September 22, 2016 at 8:46 AM delete

makasih info realitarelita.com, alhamdulillah bisa dapet harga promo...

Reply
avatar
September 22, 2016 at 8:51 AM delete

hehe... apalah diriku ini mba... hanya butiran debu...

Ini lagi di semedikan kan dulu mau kontennya dari Nol atau mengakuisisi blog yang sudah ada. Ada saran mungkin mba dew?

Saembari cari cari info kalo sudah dapet domain tahapan selanjutnya apalagi.

Reply
avatar
September 22, 2016 at 8:53 AM delete

Nah... Tokoh utamanya nongol juga :p

Reply
avatar

Terimakasih sudah berkenan untuk berkunjung. Mohon berkenan juga untuk memberikan tanggapan disetiap tulisan yang pernah dibaca atau dikunjungi.

Mohon tidak menggunakan nama anonim/ unknow, karena akan terdeteksi spam dan tidak langsung terbaca dan ditampilkan.

Yang paling penting adalah jangan pernah meninggalkan link hidup pada komentar ini. Tunggu saja kunjungan balik dari saya.