Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Mendorong Perilaku Baru Melalui Gowes (Bersepeda)


Mendorong perilaku baru melalui Gowes (Bersepeda) menjadi perlu di tengah kondisi pandemi covid 19. Tidak inginkan?! Alih alih ingin lebih bugar dengan bersepeda, malah yang terjadi adalah sakit tertular corona setelah bersepeda. 

Dalam rangka mengkampanyekan bersepeda yang aman dan sehat di masa pandemi atau era adaptasi kebiasaan baru, Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyararakat Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyelengarakan #SeminarOnlinePromkes dengan tema Sepedaan Aman dan Sehat di Tengah Pademi  Bersama Komunitas Sepeda

Pandemi Meningkatkan Pengunaan Sepeda

Tak dipungkiri, baik di Indonesia atau di negara lain, pengggunaan sepeda semakin meningkat di masa pandemi. Di China, sedikitnya 20.000 sepeda yang masih dalam tahap produksi dan  pengiriman bahkan sudah dipesan orang atau terjual. Di Amerika Serikat, angka penjualan sepeda listrik Van Moof naik 138 %. 

Di Inggris, angka penjualan sepeda listrik Van Moof naik sampai 184 % pada bulan Februari-April. Kenaikan juga terlihat di negara-negara Eropa lain. Naiknya penjualan sepeda di Italia dipicu oleh pemberian insentif dari pemerintah sampai 60 % dari harga sepeda. 

Bertambahnya jumlah pengguna sepeda di beberapa negara juga diimbangi dengan kebijakan pemerintah untuk membuat jalur khusus sepeda. Seperti London, berencana untuk melarang mobil dari beberapa jalan, karena jalan tersebut akan digunakan khusus untuk pesepeda. 

Sedangkan di Indonesia, menurut survey The Institute for Transportation and Development Policy (ITDP), di Jakarta selama bulan  Oktober 2019 - Juni 2020 pengguna sepeda meningkat 1000% atau 10 kali lipat di sejumlah titik tertentu di Jakarta.

Sempet juga, saking ramainya minat, karyawan toko sepeda mengamankan jualan tokonya sendiri dan dijual ulang dengan bandrol yg lebih tinggi. Pembeli offline diminta inden dan baru bisa menerima sepeda paling cepat 2 pekan.

Fakor ynga Memicu Naiknya Aktivitas Bersepeda

Sepeda menjadi pilihan saat menghindari transportasi umum yang cenderung penuh sesak dan menyebabkan kerumunan masa. Sebagai upaya menghindari itu, beberapa masyarakat memilih bersepeda sebagai alternatif transportasi. Jika sedikit dijabarkan, faktor yang memicu naiknya aktivitas bersepeda diantaranya ;
  • Menghindari transportasi umum
  • Bersepeda sebagai salah satu pilihan olahraga untuk yang tidak bisa ke gym karena pandemi
  • Orang-orang sudah mulai merasa bosan di dalam rumah
  • Kebutuhan rekreasi tidak dapat dipenuhi hanya dengan aktivitas di dalam rumah
  • Kebijakan bekerja di rumah (WFH) membuat kesempatan untuk melakukan aktivitas lain, salah satunya bersepeda
  • Untuk menjaga imunitas tubuh

Bersepeda sebagai Perubahan Perilaku

Kondisi hari ini, ada masyarakat yang patuh terhadap protokol kesehatan, namun ada yang masih setengah patuh dan tidak sedikit juga yang tidak patuh. Sehingga semua elemen wajib bekerja sama mendorong perubahan perilaku di sekitarnya yang masih setengah patuh atau tidak patuh sama sekali terhadap protokol kesehatan.

“Kenali dirimu, kenali musuhmu, kenali medan perangmu, seribu kali kau berperang, seribu kali kau menang”. Letnan Jenderal TNI Doni Monardo Kepala BNPB Selaku Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19
Merubah yang setengah patuh dan tidak patuh memang perlu energi yang besar. Perlunya ada intervensi dari pemerintah setempat,  lingkungan masyarakat terkecil (RT), komunitas dan orang-orang disekitar kita untuk membantu mengintervensi agar semua orang menjadi patuh.

Motivasi Masyarakat Akan Pentingnya Perubahan Perilaku

Pelunya memotivasi atau mengintervensi masyarakat agar kebiasaannya bisa menyesuaikan diri dengan kondisi hari ini (masa pandemi). Motivasi atau intervensi ini bisa dilakukan 2 arah, baik motivasi dari dalam yang dilakukan oleh diri sendiri serta motivasi dari luar yang melibatkan instansi atau orang lain. Jenis intervensi bermacam-macam disesuaikan dengan kondisi dan wilayah tertentu.

Mendorong Perilaku Baru Melalui Gowes (Bersepeda)

Memotivasi Seseorang dari Dalam dan Dari Luar

Minimalnya ada 4 cara intervensi atau motivasi dari luar yang bisa dilakukan oleh pihak lain agar mendorong masyarakat untuk merubah kebiasaannya di masa pandemi, yaitu;

Insentif

Melalui pemberian insentif seperti memberikan penghargaan bagi orang yang melakukan hal yang diharapkan. Insentif bisa dilakukan sebagai bentuk apresiasi. Insentif tak harus berupa hadiah mewah atau uang. Misal saja bisa memberikan insentif dengan pemberian  sticker bagi Institusi/ kawasan/ unit dengan mekanisme yang sudah ditetapkan.

Hukuman 

Salah satu motivasi atau intervensi yang biasa digunakan untuk mendisiplinkan adalah pemberian hukuman, bisa melalui pembebanan kewajiban atau larangan. Hukuman sendiri merupakan dampak yang tidak diinginkan akibat sesuatu yang melawan hukum.

Pemberian sanksi bagi yang tidak mematuhi protokol kesehatan 3M dapat berupa teguran langsung ataupun tertulis. Sanksi yang diberikan sebaiknya tidak hanya menimbulkan efek jera tetapi juga bisa mendidik.

Nasehat

Pemberian motivasi atau intervensi juga bisa melalui nasehat. Pemberian nasehat tidak harus secara langsung person to person, tapi bisa melalui kampanye atau informasi secara massif seperti melalui iklan, banner, spanduk dan lainnya yang bisa memberitahu masyarakat perilaku apa yang sedang diharapkan.

Dorongan

Mendorong perilaku yang diharapkan menjadi pilihan yang mudah dilakukan. Mengingatkan pegawai/pengunjung secara berulang-ulang. Instansi atau pengelola juga mendorong tersedianya fasilitas agar mereka mudah menjalankan protokol kesehatan. Memberikan inovasi dan kreatifitas sebagai pendorong untuk mengingatkan penerapan protokol kesehatan.

Sedangkan motivasi dari dalam manjadi tanggungjawab masing-masing individu dengan menjadikan perilaku baru (adaptasi kebiasaan baru) tersebut menjadi suatu kebutuhan dengan banyak menggali informasi agar bisa meyakinkan diri sendiri bahwa perubahan tersebut penting dan bermanfaat.

Aktivitas Bersepeda yang Baik

Jangan berlebihan dalam bersepeda karena dapat mempengaruhi kesehatan. Jika sudah terbiasa, kita bisa melakukan aktivitas bersepeda dengan intensitas 3-5 kali perminggu, dengan durasi sekitar 30-45 menit. Kita sendiri yang mengerti kemampuan fisik kita dalam bersepeda. Jangan paksakan diri demi gengsi yang akibatnya bisa fatal untuk diri sendiri.

Mendorong Perilaku Baru Melalui Gowes (Bersepeda)


Memakai Masker Saat Berolahraga

Bersepeda meningkatkan kebutuhan oksigen. Penggunaan masker menyebabkan berkurangnya oksigen kedalam paru-paru. Kondisi ini dapat menyebabkan hipoksia atau tidak cukupnya oksigen dan dapat memperlambat kinerja jantung. Sedangkan di masa pandemi penggunaan masker sangat dianjurkan. Oleh karena itu, hindarilah kerumuman dan pakailah masker yang breathable.

Pilih masker yang breathable dan terbuat dari dari bahan yang mudah menyerap keringat supaya kenyamanan ketika bersepeda tidak terganggu. Jika harus membuka masker sejenak, pastikan kondisi sekitar sedang sepi atau mencari tempat sepi sejenak untuk melepas masker. jika sudah enakan, pakai kembali dan lanjutkan perjalanan bersepeda.

Program Bidang Perubahan Perilaku Satgas Covid 19

Model terstuktur

(1) Dilakukan oleh tenaga lapangan di Provinsi, Kabupaten/ Kota, dan RW yang direkrut oleh Satgas bekerjasama dengan institusi pembina (BKKBN, Kemendikbud, dll);
(2) Spesifik di 12 Provinsi prioritas, pada 57 Kabupaten/ Kotadengan kasus positif terbanyak;
(3) Didanai melalui Satgas

Mendorong Perilaku Baru Melalui Gowes (Bersepeda)


Model Gerakan

(1) Dilakukan oleh Duta Perubahan Perilaku dalam bentuk Gerakan, bekerjasama dengan berbagai asosiasi/ jaringan; 
(2) Dilakukan diseluruh Indonesia, bukan hanya daerah prioritas;
(3) Tidak ada pembiayaan khusus, namun memperoleh apresiasi (pin, rompi, sertifikat) sesuai kinerja. Untuk mahasiswa dan dosen mendapat kredit pengabdian masyarakat.

Kedua model tersebut dipantau oleh Satgas menggunakan aplikasi yang sama. Dengan aplikasi tersebut Satgas bisa memonitoring duta perubahan perilaku baik terstruktur ataupun gerakan. Satgas bisa memonitor kegiatan Duta Perubahan Perilaku di lapangan secara real time melalui aplikasi yang sudah disiapkan. Dimana setiap duta menginput data  aktivitas sosialisai di lapangan melalui aplikasi. Duta Perubahan Perilaku yang melakukan kegiatan sosialisasi minimal 5 kali dalam 1 minggu akan diberikan sertifikat.

Peran Komunitas Gowes untuk Perubahan Perilaku

Komunitas gowes diharapkan menjadi role model perubahan perilaku dengan menjadi yang terdepan menerapkan 3M dan protokol kesehatan. Goweser juga menerapkan dan menjaga menjaga pola hidup sehat yang kemudian bisa menularkan kebiasaan baik tersebut kepada orang lain atau orang diluar komunitas.  Terakhir goweser juga bisa melakukan sosialisasi dan edukasi atas nama komunitas ke komunitas lain, atau tempat lain. Bisa juga melakukan edukasi pada komunitas sendiri tentang perubahan perilaku di masa pandemi.

3 M Kunci Sukses Perangi Covid

Ayo Kendalikan COVID-19 dengan IMAN - AMAN - IMUN (3M) disertai dengan Menggunakan Masker, Menjaga jarak dan menjauhi kerumanan, Mencuci tangan pakai sabun minimal 20 detik.

Demikian ulasan singkat materi "Mendorong Perilaku Baru Melalui Gowes (Bersepeda)" dari Bapak Sonny Harry B Harmadi Selaku Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan Covid 19 Mndorong perilaku Baru Melalui Gowes. Materi tersebut disampaikan dalam #SeminarOnlinePromkes yang diadakan oleh Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyararakat Kementerian Kesehatan Repubik Indonesia.

Jika artikel yang berjudul Mendorong Perilaku Baru Melalui Gowes (Bersepeda) ini bermanfaat, silakan dibagikan atau disebarluaskan. Terima kasih atas kunjungannya. 

1 comment for "Mendorong Perilaku Baru Melalui Gowes (Bersepeda)"

  1. yeah, saya kerap melihat pegowes yang gegayaan doang ... hehehehehe ...

    ReplyDelete

Berlangganan via Email