Header Ads

Ojek Stasiun Poncol Semarang : Jauh Dekat Sepuluh Ribu

https://www.heriheryanto.com/

Akhirnya kami menyudahi berdingin ria di atas kereta api relasi Purwokerto - Semarang atau yang biasa dinamakan Kereta Api Kamandaka. Kami naik dari Stasiun Bumiayu dan turun di Stasiun Semarang Poncol. Tak seperti biasanya, perjalanan pagi dengan kereta api kamandaka kali ini lebih dingin dari biasanya. Duo kecilpun yang biasanya tidak pakai jaket saat menaiki kereta pagi, kali ini harus mengenakan pakaian tambahan untuk menahan hawa dingin.

Baca juga  :

- Cara Transfer /Isi Ulang Saldo OVO Ke DANA Tanpa Biaya Admin

- Manfaatkan Transfer Saldo OVO Ke GOPAY Tanpa Biaya Admin 

Pemberhentian akhir semakin dekat. Saat ada informasi kalau sebentar lagi kereta api kamandaka akan tiba di stasiun semarang poncol, kamipun bersiap dengan tas masing-masing. Si kakak bawa tas ransel sendiri, umminya bawa tas ransel sendiri dan sayapun bawa tas ransel sendiri. Ditambah bawaan lain berisi cemilan dan sarapan pagi. Meskipun saat diluar kereta, Abi nya yang harus bawa semua ransel-ransel tersebut. Ketika kereta sudah benar-benar berhenti, kamip langsung menuju pintu keluar terdekat.

Setelah keluar dari pintu keluar stasiun (bukan pintu gerbang stasiun), seperti biasa banyak orang yang menawarkan jasa antar, baik menggunakan mobil (taksi atau bukan taksi) ataupun sepeda motor (yang biasa kita sebut ojek). Ada juga yang pakai argo (untuk mobil) dan ada pula yang tidak pakai argo. Yang tidak pakai argo ini biasanya ada proses tawar menawar setelahnya. Meskipun ada juga yang tanpa proses tawar-menawar, langsung nurut dan masuk aja sama si supir, baik sudah tahu harganya ataupun belum.

Kalau yang menawarkan jasa tahu diri, tentu dia akan memberikan tarif yang wajar. Tapi bisa dibilang apes bagi yang dapat supir yang memberikan harga seenaknya sendiri. Biasanya membidik pendatang baru atau muka-muka polos dan lugu kayak tampang saya.

Jujur sejak era ojek online, saya sudah bertekad untuk tidak menggunakan jasa pengantaran manual/ tradisional yang ada di stasiun, selama tidak ada kebutuhan khusus yang penting dan mendesak.

Baca juga : Upgrade Layanan OVO Premier Semarang di Hypermart Java Mall dan Paragon Mall  

Pernah suatu ketika, waktu menunjukkan hampir pukul 21.00 WIB. Karena tidak ada yang bisa jemput, sayapun menghampiri si tukang ojek. Setelah saya utarakan maksud dan tujuan, si bapak minta dihargai 80ribu untuk bisa mengantarkan saya ke Tembalang n(harga segitu bisa dipakai buat perjalanan mudik Semarang Bumiayu).

Tawar menawar terjadi, tapi si bapak mentok ngasih harga ke saya 60.000 rupiah dan tidak bisa turun lagi. Beruntung ada mobil putih bertulis taxi diatasnya. Taxi tadi lewat didepan saya, dan sayapun  langsung memberhentikannya. Saya langsung masuk kedalam mobil meninggalkan si Bapak. Untung saja si taxi pakai argo normal. kalau tidak, bisa-bisa di kasih tarif tembak yang tidak wajar.

Setelah sampai di tujuan, argo taxi menunjukkan angka 46.800 dan saya keluarkan 1 lembar 50.000-an untuk membayar jasa si bapak. Beruntung sekali lepas dari jeratan rentenir ojek malam itu. kan lumayan, selisihnya bisa dipakai untuk jajan mie ayam bakso dua porsi berikut esteh manisnya.

Saya tahu, apa yang dilakukan si Bapak ojek tadi tak lain karena tuntutan keadaan. Supaya bisa menafkahi anak istri yang ada di rumah dan memanfaatkan keadaan malam. Tapi baiknya tetap pakai harga wajar lah ya.. Ia sekali dua kali dapet tarif besar, tapi setelahnya ditinggal pelanggan dan sepi orderan kan lebih menyakitkan..! Sudahlah kita lupakan cerita ini....

Baca juga : 30 Fakta Lunpia Cik Me Me yang Harus Kamu Ketahui

Pagi tadi, ada yang beda dengan salah satu tukang ojek di stasiun semarang poncol. Setelah menaikkan anak istri ke dalam kendaraan yang telah dipesan, saya pun menepi dan mengambil ponsel di saku celana untuk memesan ojek online. Tapi tiba-tiba ada bapak tukang ojek yang menghampiri dan menawarkan jasa, "Ojek mas, Jauh dekat sepuluh ribu". Mendengar apa yang ditawarkan, saya sempat kaget dan tidak percaya. Tapi tawaran Bapak itu saya tolak secara halus.

Masih dengan rasa penasaran, saya perhatikan si bapak ojek tadi menawarkan jasanya kepada setiap orang yang berdiri atau yang keluar dari stasiun. Hingga sempat saya ikuti kemana bapak ini bergerak.

Sayapun sampai lupa dengan ponsel saya. Saya perhatikan lama si bapak itu, dan tak ada satupun orang yang berminat dengan jasanya. Akhirnya saya beranikan diri menghampiri dan minta bantuan bapaknya untuk mengantar saya. "Ojek Pak" kata saya kepada si bapak. "Kemana Mas?" jawab si bapak. Saya pun membalas pertanyaannya "Kradenan Baru, Arah jembatan besi Unnes atau sampangan". "Oh.. Ayo mas", ia pun pergi meninggalkan saya sambil agak bingung mencari sepeda motornya. "Oalah ternyata tak parkir disini to, ayo mas naik". Sayapun naik setelah ia menaiki sepeda motornya yang dipakai untuk mencari rizki.

Di perjalanan saya mencoba berkomunikasi untuk mengetahui sedikit asal si bapak, tapi sepertinya beliau lebih fokus mengendarai sepeda motornya. Saya pun mengurungkan niat untuk mengajak bicara lebih jauh. Saya lebih memilih untuk mengeluarkan hape dan melihat tarif ojek online pada aplikasi. Dari stasiun poncol ke tempat tujuan saya, Gr*b menghargai perjalanan itu sebesar 18.000 (delapan belas ribu), jika saya pake kode voucher, yang saya bayar ke gr*b bisa lebih murah lagi, yaitu hanya bayar 11.000. 

Sangat jarang ada tukang ojek stasiun seperti bapak ini, yang menawarkan ongkos murah untuk perjalanan jauh dekat. Pikirku, berani benar ini si bapak banting harga hanya untuk mendapatkan pelanggan. berani ngasih diskon yang lebih gede dari pada ojek online. Mungkin ini yang disebut dengan orang kaya sebenarnya. Lah iya, pemilik Dexacorn aja memberi tarif 1000 perak lebih tinggi dari si bapak yang omset atau kekayaannya sangat jauh jika dibandingkan dengan pemilik dexacorn. 

Tapi di awal saya sudah memutuskan untuk tidak memberi sesuai dengan tarif yang ia sampaikan. Minimal saya harus membayar sesuai harga aplikasi sebelum ada potongan harga atau kode voucher. Atau seharga tarif ojek tradisional normal dari kradenan baru ke stasiun poncol, dimana mamang ojek biasanya meminta tarif 25.000 rupiah.

Di perjalanan, sayapun mencoba menyiapkan uang dengan merogoh saku celana samping kanan kiri dan saku jaket. Ternyata di saku celana kanan kiri saya hanya menemukan 1 lembar 10.000-an dan 1 lembar 2.000-an. Cukup sih untuk bayar jasa sesuai dengan tarif yang bapak tawarkan diawal. Tapi saya tidak setega itu. Minimal ya tadi saya sampaikan yaitu sesuai tarif ojek online atau tarif ojek tradisional dari kradenan ke stasiun poncol. Saya cek dompet ndak ada uang kecil. Tapi Setelah saya cek ke saku yang lain, ternyata masih ada lembaran 1 lembar uang pecahan 5000, 10.000 dan 2000-an.

Uang pembayaran untuk jasa si bapak sudah saya siapkan. Saat berhenti, saya tak perlu lagi rogah rogoh saku celana atau buka dompet. \

Di perjalanan, tepat di depan kantor kelurahan sampangan, Si Bapak menanyakan arah selanjutnya, "dari sini kemana lagi mas?". Saya jawab, "maju lagi, sebelum jembatan besi terus belok kanan arah Bendan Dhuwur". Bapak ojek menimpali "Wah kalau kesitu ndak 10.000 mas". Saya jawab singkat "deket kok pak, belok dikit masuk gang terus sampai". Bapak ojek malah panjang lebar menjelaskan hal lain, "Kalau bendan dhuwur dari sana juga bisa. Kalau dari ini nanti setelah terowongan tol maju lagi terus belok kiri terus naik sampe akpelni....bla..bla...bla..." 

Jarak dari kelurahan sampangan ke tujuan saya menurut google map sekitar 900 meter. Sayapun membranikan diri bertanya ke si Bapak saat setelah saya arahkan untuk masuk gang tanda tujuan hampir sampai. "terus tarifnya berapa pak?" Tapi tak ada jawaban yang keluar dari mulut si bapak. Sampai berapa detik kemudian saya tepat berada di pemberhentian akhir.

Saya  mau menyerahkan uangnya, si bapak malah ngajak ngobrol terkait adanya panggung yang ada di dekat tempat kami berhenti. Beberapa saat dia ngobrol dengan bapak-bapak yang sedang menyiapkan dekorasi panggung pengajian hari Asyura (10 Muharram). Ya, semoga bukan karena malu karena mendadak di tengah jalan minta uang tambahan. Meskipun di akhir saya kasih ongkos tidak seperti yang ia tawarkan. Saya pun menrahkan uangnya dan tak lupa mengucapkan terima kasih kepada si bapak. Dan bergegas masuk ke dalam rumah meninggalkan bapak ojek yang masih ngobrol dengan pendekor panggung.

Baca Juga :  Kini Bisa Transfer Gratis dengan OVO hingga 10x Perbulan

Hikmah yang bisa diambil adalah..
1. Konsisten dengan apa yang menjadi pilihan itu berat. Jika kita menemui kendala sedikit atau menganggap tidak sesuai dengan yang diharapkan, mudah bagi seseorang termasuk saya untuk tidak konsisten dengan apa yang sudah kita tetapkan.

2. Kadang untuk mendapatkan pelanggan kita butuh banting harga, tapi tetap harus disesuaikan dengan pengeluaran atau biaya-biaya yang ada. Karena kita tidak disupport penyandang dana seperti gojek atau grab yang diberi kucuran dana milyaran rupiah. Untung sedikit lebih baik, tapi berlanjut, dari pada untung banyak tapi sekali transaksi

3. Rizki sudah Allah yang atur. Meski banyak tukang ojek atau orang seprofesi bahkan dengan saingan kita yang kita lihat punya teknologi lebih maju, tapi ketika Allah gerakkan hati seseorang ke tempat kita, siapa yang bisa menolaknya?

Jadi meski profesi kita sama, atau barang yang kita tawarkan sama dan dijajakan di tempat yang sama, tetap saja akan ada pembelinya atau peminatnya hanya kadar rejekinya saja yang berbeda

4. Sebagai manusia, saat kita punya sesuatu yang berlebih (rejeki), cobalah perhatikan orang lain  yang sedang membutuhkan. Kecuali kita sama-sama pas-pasan dan memilih untuk membeli dan mencari alternatif yang lebih murah dan masuk dihitungan kita. Tapi ada juga orang yang saat sulit tetap memperhatikan orang lain, meskipun kita tahu bahwa berbagi disaat sempit itu sulit

Itulah sedikit kisah perjalanan ke kantor dari stasiun poncol. Sudah jarang bahkan sudah tidak ada mungkin, tarif ojek jauh dekat 10.000. Jika artikel yang berjudul  Ojek Stasiun Poncol Semarang : Jauh Dekat Sepuluh Ribu ini bermanfaat, silakan dibagikan atau disebarluaskan. Terima kasih atas kunjungannya.

2 comments:

  1. Artikel yang bagus. Memang luar biasa banting harganya. Saya pernah dari stasiun Cimahi yang notabene stasiun & kita kecil naik ojek pangkalan jauh dekat asal masih seputaran Kota Cimahi itu tarufnta Rp. 20 ribu, itupun jam 2 dinihari. Mungkin kalau tidak banting harga seperti di Semarang, penumpang lebih pilih online, biarin harus jalan kaki ke mall terdekat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Murah masuknya bang..
      Saya klo mudik ke tempat mertua, dari stasiun kerumah minta bayaran minimal 50ribu... Setengah jam perjalanan motor dari stasiun. Dan tarif standar plus online belum masuk

      Delete

PERHATIAN :
Balasan dari komentar anonim/ unknown akan dihapus setelah 24 jam.

Menyisipkan Link hidup akan langsung DIHAPUS

Terimakasih sudah berkenan untuk berkunjung.
Simak juga komentar yang ada karena bisa jadi akan lebih menjawab pertanyaan yg akan diajukan.

Powered by Blogger.