Header Ads

Cerita Liburan Wisata ke Bromo Membawa Bayi dan Batita

Ini adalah perjalanan kali kedua saya berwisata di Kawasan Wisata Gunung Bromo. Perjalan pertama waktu akhir tahun 2014. Saat itu sedang ada tugas negara ke Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang Jawa Timur, tepatnya di kompleks Sekolah Tinggi Penyuluh Pertanian Malang.

https://www.heriheryanto.com/


Perjalanan pertama ke Bromo ini sebenarnya tidak direncanakan. Karena dari Malang pulang ke Semarang masih terlalu pagi, maka saya iseng untuk mengusulkan ke driver yang juga satu-satunya teman seperjalanan, bagaimana kalau belok dan mampir ke Bromo dulu? Perjalanan ini hanya kami lakukan berdua saja. Saat itu rute yang kami tempuh adalah perjalanan ke Bromo lewat jalur Pasuruan.

Tak disangka di awal tahun 2019, setelah 5 tahun berlalu, tawaran ke bromo itu datang kembali dan kali ini dengan membawa keluarga. Setelah melalui pertimbangan, pada akhirnya diputuskan untuk ikut perjalanan ke Bromo. Lika-liku sebelum memutuskan untuk ikut piknik ke Bromo bisa baca di artikel yang berjudul Pilih Wisata ke Bromo atau ke Telaga Sarangan?

Berdasarkan jadwal awal, liburan ke Bromo direncanakan berangkat 26 Januari 2019 yang jatuh pada hari sabtu pukul 15.00 WIB. Berangkat menggunakan bus sedang atau bus 3/4 berkapasitas 33 orang dengan titik awal pemberangkatan dari Mijen Semarang.  Sengaja dipilih siang agar perjalanan lebih santai dan bisa menikmati perjalanan malam hari di bus. Selain itu, dengan berangkat siang dari Semarang, harapannya kita bisa menyaksikan matahari terbit dengan view gunung bromo yang indah jika cuaca cerah. Lokasi untuk melihat sunrise ini berada di View Point Penanjakan, salah satu spot yang sangat bagus menikmati Kawasan Wisata Gunung Bromo dari Kejauhan.

https://www.heriheryanto.com/
Penampakan Bromo dari View Point Penanjakan, sumber : Pesona Travel
Sebenarnya, untuk bisa sampai ke Kawasan Wisata Gunung Bromo, kita bisa memilih masuk melalui jalur yang berbeda-beda. Ada 4 (empat) jalur atau 4 pintu masuk menuju Kawasan Wisata Gunung Bromo yaitu, jalur Pasuruan, Jalur Malang, Jalur Probolinggo dan Jalur Situbondo. Karena rombongan kami punya kenalan guide dari Malang, jadinya kita memilih masuk Bromo dari Malang. Estimasi perjalanan Semarang-Malang kurang lebih ditempuh dalam waktu 8-9 jam jam (normal tanpa macet). Sedangkan dari rest area atau tempat transit bus pindah ke hardtop atau jeep menuju bromo kurang lebih membutuhkan waktu tempuh 1,5 jam.

Baca juga :  7 Tips Liburan Wisata Ke Bromo Membawa Anak Kecil (Bayi dan Batita)

Jika berangkat jam 15.00 dari Semarang, prediksinya jam 24.00 baru sampai di rest area Poncokusumo. Sebelum melanjutkan perjalanan dari rest area poncokusumo menuju bromo menggunakan hardtop atau jeep yang sudah disiapkan, biasanya pengunjung memaksimalkan waktu untuk istirahat sejenak menyiapkan tenaga dan menyiapkan baju berlapis untuk dirinya dan keluarganya sebelum meneruskan perjalanan ke Bromo. Hardtop atau Jeep adalah kendaraan wajib bagi wisatawan yang akan menuju kawasan wisata bromo tengger dengan mobil.

Jika dini hari sudah sampai poncokusumo, biasanya rombongan akan diantar ke view point penanjakan untuk bisa melihat sunrise (matahari terbit) dari sekitar kawasan bromo tengger. Bayangkan saja, dini hari di daerah gunung bagaimana hawa dan suasana disana? Normalnya suhu di kawasan wisata bromo adalah 5-20 derajat celcius. Tapi katanya diwaktu tertentu suhu di kawasan wisata bromo bisa mencapai -1 sampai dengan -4 derajat celcius. Brrr sudah pasti dingin banget bagi yang biasa hidup di pantai utara jawa. Gimana nasib bayi dan batitaku disana?! kalau begini teror hipothermia bisa dialami siapa saja tanpa memandang usia. Hipothermia sendiri merupakan kondisi dimana seseorang mengalami kedinginan yang sangat parah dan bisa menyebabkan kematian. Bukan menakut-nakuti tapi hanya untuk kehati-hatian saja, biar tidak menyepelekan.

Teror Hipothermia dan Cuaca Ekstrim Bromo

Terkait hipothermia itu bukan saya menakut nakuti, memang bisa saja terjadi. Dan biasanya kondisi paling dingin di malam hari adalah saat musim kemarau. Jadi siangnya panas sekali, tapi malamnya dingin sekali. Tips pertama yang hendak berlibur ke bromo adalah hindari berkunjung saat puncak kemarau jika ingin melihat sunrise atau matahari terbit apalagi membawa pasukan kecil.

Di Semarang sendiri beberapa hari sebelum berangkat memang cuacanya cukup ekstrim, hampir tiap hari hujan deras dan selalu mendung. Bisa jadi kondisi itu hampir sama diseluruh pulau jawa termasuk malang, bromo dan sekitarnya. Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, lebih bijak jika pemberangkatan diundur agar sesampainya di Bromo tidak dini hari dimana suhu sedang dingin-dinginnya. Tentunya dengan risiko meniadakan agenda melihat sunrise dari view point penanjakan saat pagi buta.

H-3 sebelum berangkat kamipun mencari tahu perkiraan cuaca di sekitar kawasan bromo tengger. Dari pantauan website BMKG, perkiraan cuaca  pada tanggal 24-25 diprediksi hujan deras disertai petir di daerah Malang, Pasuruan dan sekitarnya. Tentunya bromo yang beberapa kawasaanya berdekatan dengan Malang dan Pasuruan akan tekena dampaknya juga dong?! Belum lagi komposisi yang  ikut lebih banyak anak kecilnya dari pada yang dewasa. Dewasa 13 orang sedangkan anak-anak 15 orang, termasuk anakku yang paling kecil berusia 10 bulan  dan kakaknya yang berusia 3 tahun.  

H -3 pun dapat kabar kalau teman seperjalanan, anaknya sedang tidak enak badan, kondisinya demam dan sering muntah, sehingga terpaksa si kecil tidak ikut piknik. Selagi ibu dan bapaknya piknik, si kecil ikut sama mbahnya. Anak saya juga yang kecil (si adik) malam hari H-1 sebelum berangkat sempat demam hingga 40 derajat celcius, dengan sigap ibunya langsung memberikan paracetamol sesuai dosis dan Alhamdulillah bangun pagi sikecilpun sudah ceria dan tidak demam lagi.

Perubahan Jadwal ke Bromo

Setalah mempertimbangkan satu dan lain hal, jadwal pemberangkatan ke bromo pun diubah. Dari semula berangkat tanggal 26 Januari jam 15.00 WIB menjadi tanggal 25 Januari pukul 19.30 WIB. Waktunya ditambah sehari agar lebih maksimal menikmati tempat wisata yang ada di bromo dan sekitarnya. Sehingga yang sebelumnya dijadwalkan pulang sabtu malam, akhirnya menjadi hari minggu tanggal 27 habis ashar dari malang agar anak-anak bisa istirahat penuh di bus. Senin paginya anak-anak sudah  dalam kondisi segar dan berharap bisa berangkat sekolah.


Hari H pun tiba, meski semalam si kecil sempat demam, kami mutuskan untuk tetap berangkat. apalagi perlengkapan "tempur" yang dibutuhkan sudah siap semuanya. Jumat 25 Januari dari pagi hingga sore hari langit selalu mendung, Bahkan setelah jumatan, sempat turun hujan, yang disambung gerimis hingga menjelang pemberangkatan.

Barang yang hendak dibawa sudah tergeletak di balik pintu rumah. Jadi kalau taksi sudah datang tinggal sedikit mengangkatnya keluar dan meletakkannya dibagasi belakang. Magribpun tiba, kami tapi konsidi diluar masih terdengar khas suara rintikan hujan yang membentur atap baja ringan teras kami.
https://www.heriheryanto.com/

tepat pukul 19.00 WIB kamipun memesan taksi, dikala hujan baik online ataupun offline biasanya sangat susah mendapatkan armada. Tapi setelah ditolak 2 kali sama taksi offline dan mencoba beberapa kali menggunakan online, alhamdulillah akhirnya dapat juga armada taksi online yang bisa mengantar.

Sesampainya di titik kumpul, kamipun bergantian untuk shalat isya. Kami sengaja tidak menjamak atau mengqhosor dirumah, karena menurut rujukan fiqih yang kami yakini, qoshor atau jamak itu dihitung jika kita sudah keluar rumah atau meninggalkan tempat kita sebelumnya. Jadi meskipun sudah pasti tujuan dan pemberangkatannya, kalau belum keluar rumah maka belum bisa menjamak atau mengqhosor shalat.

Petualangan Bromo pun Dimulai

Menunggu adalah "tradisi" kita, sudah jam 19.30 bus kecil yang akan mengangkut kamipun tidak kunjung datang juga. Baru sekitar pukul 20.05 bus pun tiba dilokasi penjemputan. Saat sudah berada di bus, pastikan barang bawaan yang tidak terpakai wajib ditaruh dibagasi bawah agar tidak membuat sesak sekitar tempat duduk. Obat pribadi, jaket atau selimut dan bantal wajib berada di dekat tempat duduk, karena semakin malam suasana di bus semakin dingin.

https://www.heriheryanto.com/

Di kursi sudah disiapkan nasi box, snack box dan air mineral. Sebelumnya memang sudah ada himbauan kalau akan disiapkan makan malam dalam bentuk nasi kotak, jadi tidak perlu makan malam dirumah atau mampir ditempat makan saat perjalanan malam. Bus paling berhenti kalau ngisi bahan bakar atau jika ada penumpang yang ingin ke kamar kecil.

Selepas makan malam, kami pun sibuk dengan urusannya masing-masing sembari tour leader menjelaskan rencana perjalanan malam ini hingga esok pagi. Semakin malam, hembusan angin dari atas semakin terasa dingin. Hampir semua menutup lubang ac yang ada di atas kepala. Akibatnya angin dingin yang hendak keluar tertahan dan menghasilkan embun. Semakin lama embunpun semakin banyak dan akhirnya menetes ke tempat duduk. Dilema memang, tidak di tutup nanti kedinginan, tapi kalau ditutup bisa netes terus menerus. Akhirnya harus ada yang ngalah, tiap beberapa menit harus membersihkan enbun sebelum ia jatuh ke tempat duduk. Jadi perlu bawa tisue kering jika kondisinya seperti ini, kalau bisa bawa kanebo lebih bagus hehehe...

 Baca juga : 10 Hal Yang Harus Disiapkan Saat Liburan Wisata ke Bromo Membawa Bayi dan Batita dengan Naik Bus Malam

Bus pun semakin melaju kencang, karena perjalanan yang cukup lama tentu akan berhenti di beberapa lokasi untuk menyalurkan hasrat buang air kecil. Hampir jarang perjalanan ke bromo dari Semarang menggunakan jalur malang. Alhasil, supir kamipun harus dipandu untuk bisa kelokasi. Maksud hati ingin lebis cepat, tapi google maps salah mengarahkan, bus sempat masuk area tentara dan harus putar balik, sehingga diputuskan menggunakan jalur manual atau jalur normal.

Ganti Mobil Jeep/ Hardtop di Rest Area

Mendekati pukul 04.00 pagi, bus pun sudah tiba di perempatan Tulus Ayu, Tumpang Malang Jawa Timur. Karena mendekati waktu shubuh, bus pun menepi sekalian dan para penumpang pun diarahkan untuk shalat subuh dan persiapan ke Kawasan Gunung Bromo. Sayapun bertanya, kenapa tidak sekalain berhenti di rest area poncokusumo? kan biar lebih dekat persiapannya!

Setelah shalat, kami langsung merangkap pakaian terutama si bayi dan si batita. Si batita mengenakan 2 rangkap atasan dan bawahan ditambah jaket, tapi untuk jaket dia tidak mau pakai, tapi tetap kami bawa untuk jaga-jaga. Sedangkan adiknya yang berusia 10 bulan saya pakaikan 4 rangkap sudah dengan jaketnya. Tak lupa kacamata, sarung tangan dan kaos kami tebal. si Adik dan si kakak sebenarnya sudah disiapkan juga kumpuk yang menutupi telinga tapi hanya di adik yang pakai, si kakak seperti biasa ogah-ogahan, orangnya sudah pnya prinsip dan nggak mau rbet. Jangan lupa makanan si adik, tongsis, payung, jas hujan/ ponco dan obat pribadi, wajib dibawa. Si adik juga sekalian ganti popok nya biar lebih nyaman. Alat gendong pastikan bawa yang gendongan depan atau model ransel.

Baca juga : 14 Daftar Barang Bawaan Yang Harus Dibawa Saat Liburan ke Bromo Bersama Bayi dan Batita

Mendekati pukul 04.30 WIB beberapa mobil hardtop yang kami sewa satu persatu berdatangan, kami menyewa 6 hardtop yang akan membawa 1 rombongan bus sebelumnya yang berisi 28 orang yang terdiri dari anak-anak, bayi, balita dan dewasa. Menjelang pukul 05.30 WIB hanya 5 hardtop yang sudah berkumpul, tapi kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju kawasan wisata gunung bromo.

Rest Area Poncokusomo yang Sepi Fasilitas

Mobilpun melaju, saya, istri, dan 2 bocil dapat 1 mobil sendiri. Konsepnya memang 1 keluarga yang beranggotakan 4 orang atau lebih dapat jatah 1 mobil hardtop, Jadinya sangat longgar sekali, kursi depan juga masih kosong karena kami berempat memilih duduk dibelakang. Tiap mobil sudah sudah disediakan jatah sarapan pagi sesuai jumlah penumpang dan supirnya.

Sebelum ke Bromo, kamipun transit ke rest area poncokusumo sekitar pukul 05.50 WIB Berarti dari perempatan Tulus Ayu Tumpang ditempuh selama 20 menit. Ternyata teka tekinya bisa terjawab, kenapa tidak sekalain transit istirahat, shalat, makan dan persiapan lainnya di rest area ini? Ternyata di Rest Area Poncokusumo tempatnya terlalu sepi, kasihan juga kalau supir bus ditinggal disana, tidak ada warung atau angkringan, yang ada hanya peristirahatan sementara yang dilengkapi dengan tempat parkir dan beberapa kamar mandi atau toilet. Tidak terlihat warung atau pedagangan asongan yang menjajakan jajan atau makanan.

https://www.heriheryanto.com/

Ternyata 1 mobil hardtop yang belum datang sudang menunggu di rest area ponco kusumo. Akhirnya lengkap sudah mobil hardtop yang kami sewa. Bebebrapa penumpang yang dibagi ke mobil lain akhirnya memilih turun dan mengisi 1 hardtop yang sudah disediakan.

Setalah dirasa siap, maka perjalanan kamipun berlanjut. Jalan menuju tempat wisata gunung bromo masih sempit. Jika ada 2 mobil yang berpapasan, salah satu yang dekat tebing harus lebih menepi, biar mobil yang lewat di sebelah jurang bisa lewat lebih leluasa. Dalam perjalanan ke bromo, saat itu di depan kami ada 1 truk pengangkut pupuk yang berjalan lambat sehingga kami yang dibelakangpun harus mengikuti iramanya, sampai bertemu jalan yang agar besar untuk menyalip.

Dari Bukit Tetetubies Berpindah Ke Pasir Berbisik

Perjalanan dari rest area menuju bukit teletubies sekitar 55 menit, alhamdulillah pukul 06. 45 Kami sudah sampai di lokasi wisata pertama yaitu bukit teletubies. Sebelum  dikenal dengan nama bukit teletubies, sebenarnya lembah ini dikenal dengan nama Lembah Jemplang. Bahkan penduduk asli tengger, mencoba melestarikan nama bukit teletubis dengan nama Pusung Kursi. Pusung sendiri diambil dari Bahasa Tengger yang artinya Bukit.

Sebenarnya tujuan awal kita mengunjungi view point penanjakan, yang merupakan tempat yang sangat bagus menikmati matahari terbit dengan latar belakang kawasan wisata bromo. Tapi karena pertimbangan lainnya, kunjungan ke penanjakan dibatalkan. Jika ingin menikmati sunrise di penanjakan, minimal kita harus stanby sebelum jam 04.00 pagi, dan dengan resiko kalau bawa bocah ya bisa diperkirakan sendiri. Apalagi musimnya sedang tidak bersahabat. Jadinya kita hilangkan dan tempat singgah pertama kita menjadi bukit teletubies.

Baca juga : 14 Daftar Barang Bawaan Yang Harus Dibawa Saat Liburan ke Bromo Bersama Bayi dan Batita

Selama masih di dalam mobil, suhu masih hangat dan cukup nyaman, Tai sewaktu driver membuka pintu, hawa dingin sudah mulai terasa, terlebih saat pintu belakang dibuka lebar-lebar angin dingin langsung bersentuhan dengan kulit yang tidak terlapisi, khususnya sekitar muka.  Kami diberi waktu beberapa menit mengabadikan kondisi sekitar lembah jemplang. Setelah berfoto sana sini, kamipun memakan bekal yang ada di mobil, namun ada juga yang memilih membeli bakso yang dijajakan di sekitar lokasi. 1 porsi kalau bakso yang biasa lewat dirumah bisa dapet 10.000 tapi disini kita harus membayar 30.000.

Setelah puas berfoto ria dan sarapan, pukul 06.55 kami melanjutkan perjalanan. Ujian selanjutnya adalah lautan pasir atau pasir berbisik. Di kenal dengan nama pasir berbisik karena tempat ini menjadi tempat syuting untuk film pasir berbisik. Sebuah film yang dirilis tahun 2001 dan berhasil menyabet sederet penghargaan. Film ini dibintangi artis papan atas seperti Dian Sastrowardoyo sebagai Daya, Christine Hakim sebagai Berlian, Slamet Rahardjo sebagai Agus, dan Didi Petet sebagai Suwito. Film tersebut membuat lautan pasir di kawasan wisata bromo semakin membuat penasaran banyak orang.

https://www.heriheryanto.com/

Sekitar pukul 07.40 sampailah kita pada lokasi kedua wisata gunung bromo yaitu wisata lautan pasit. Bisa dibilang, kita berada di waktu yang tepat saat posisi kita di lautan pasir atau pasir berbisik. Karena lokasi sempat digusur hujan, jadi meskipun angin berhembus kencang di sekitar lokasi, tapi tidak banyak pasir yang bertebarangan, karena masih berat mengandung air, tapi pas waktu perjalanan pulang menjelang dzhuhur, pasir-pasir sudah mulai kering dan ringan sehingga gampang tertiup angin.

Perlengkapan yang wajib dipakai saat berada di lautan pasir hingga kita pulang kembali, kita dihimbau menggunakan pelindung kepala dan kacamata. Fungsi kupluk atau pelindung kepala lainnya adalah melindungi rambut kita dari debu atau pasir yang berterbarangan, sedangkan kacamata berfungsi sebagai penghalang debu atau pasir agar tidak langsung masuk ke mata  dan bisa juga sebagai pelindung mata dari silaunya sinar matahari.

Para pengunjung disini berfoto dengan hamparan pasir yang luas yang dikelilingi bukit yang mempunyai bentuk tak kalah indah. Selain berfoto berlatar belakang lautan pasir dan bukit, foto berlatar deretan jeep atau hardtop juga menjadi pose yang sayang untuk dilewatkan saat kita berada di lautan pasir.

https://www.heriheryanto.com/

Berkuda Menuju Puncak Bromo

Setelah puas menikmati indahnya lautan pasir, hardtop melaju menuju lokasi selanjutnya yang menjadi tujuan utama kita. Sekitar pukul 08.18 WIB kita sudah tiba di parkiran jeep, lokasi terakhir berpetualang mengggunakan jeep. Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki atau menunggang kuda.

Dari parkiran hardtop ke anak tangga pertama menuju kawah atau puncak bromo bisa ditempuh dalam waktu 45 menit dengan berjalan kaki atau 30 menit dengan mengendarai kuda. Sebenarnya mau jalan kaki atau naik kuda bisa dibilang punya waktu sama, tinggal seberapa cepat saja kaki kita melangkah menuju anak tangga yang akan mengantarkan kita melihat kawah bromo. Iya, buktinya abang yang menyewakan kuda saja, dia bisa jalan bolak balik bahkan bisa berkali kali bolak balik sambil menuntun kudanya. Dan tentunya posisi penuntun kuda selangkah lebih didepan dari pada kuda itu sendiri.

Tapi agar bisa menikmati perjalanan lainnya, kalau ada anggaran mending naik kuda saja, kita simpan tenaga kita untuk menikmati tempat-tempat lainnya, apalagi kalau bawa anak kecil, kasian kalau harus jalan. Ditambah risiko kena debu yang beterbangan lebih tinggi pejalan kaki dari pada yang menunggang kuda. Tarif kuda bromo sendiri PP dari parkiran sampai ke dekat anak tangga dan kembali lagi ke parkiran cuma 150.000. Anak kecil yang belum bisa menjaga keseimbangan diatas kuda bisa ditemani dengan orang yang lebih dewasa. Jadi bagi yang bawa anak kecil, 1 kuda bisa dinaiki dua orang, orang tua dan anaknya. Tapi kalau sudah SD dan sudah bisa naik sendiri ya dihitung 1 kuda 1 orang, tapi tergantung negosiasi kita dengan mereka terkait kapasitas kuda dan harga.

Sebelum menuju kawah bromo dengan naik kuda atau jalan kaki, disarankan untuk menunaikan segala urusannya yang berkaitan dengan perkamarkecilan. Dari pada kebelet diatas harus antri lebih banyak dari pada dibawah. Untuk yang menunggang kuda, benda yang berwarna hitam jangan sampai dekat dengan mata kuda, karena kuda sensisitif dengan warna hitam. Jangan coba-coba selfie dengan tongsis warna hitam diatas kuda. Kalau mau foto diatas kuda bisa minta tolong bapak pembawa kuda.

Baca juga :  Berapa Harga Samsung Gear S3 Saat Ini dan Apa Saja Spesifikasinya?

Nah saran bagi pengelola kawasan wisata bromo, mohon di edukasi bapak-bapak yang menawarkan jasa berkuda bagaimana mengambil foto yang baik dan benar. Karena dari 6 kali jepretan foto menggunakan kamera yang difotokan oleh bapak pembawa kuda, hasil foto tidak bisa di pajang atau dipamerkan. Hasil fotonyangeblur atau tidak jelas. Padahal pose dan tempatnya sudah sangat luar biasa indah untuk diabadikan. Tapi secara komunikasi sosial dengan penumpang kuda sudah sangat baik. Mamangnya berkanan diajak bicara oleh pengendara kuda yang panik sehingga bisa mengurangi kepanikannya saat menunggang kuda.

https://www.heriheryanto.com/

Karena ketakutan dan kepanikan istri, hampir saja kami hanyamenikmati setengah perjalanan menunggangi kuda. Istri ketakutan dan memilih jalan kali untuk sisa perjalanannya. Ia memutuskan itu karena melihat medan yang naik turun dan sempit, ditambah jalan pasir yang tidak rata. Tapi setelah dikuatkan, akhirnya tidak jadi jalan kaki dan dengan tempo yang pelan kamipun sampai juga di parkiran kuda pada pukul 09.15 WIB yang merupakan titik akhir perjalanan dengan berkuda.  Setelah itu kita berjalan sebentar menuju anak tangga dan menaiki 250 anak tangga untuk bisa sampai kepuncak bromo dan melihat kawah bromo.

Tips Menunggang Kuda di Bromo

Ata tips yang harus dilakukan saat menunggangi kuda pertama jika jalanan naik atau mendaki, posisi badan harus condong kedepan. Sedangkan saat dijalan yang menurun, posisikan badan lebih merebah kebelakang dengan kaki memancal atau menginjak pedal kuda. Ini katanya agar lebih seimbang beban ketika kuda melewai lintasan. Oh iya, bagi yang bawa bayi, dengan bantuan gendongan ransel atau gendongan depan, lebih baik posisikan bayi mendekap kita agar lebih nyaman dan menghindari risiko matanya kena debu. Usahakan menggunakan gendongan yang ada penutup kepalanya seperti produk ergobaby (bukan ilkan), karena bisa menahan kepala dan leher dari angin pasir yang berhembus. Jika nyaman, sikecil juga bisa tertidur saat menunggang kuda. Penutup kepala juga bisa digunakan untuk menopang kepala bersandar kebelakang. 
 

Gagal Menaiki Puncak Bromo

Ada keinginan besar untuk bisa naik kepuncak bromo dan melihat dasar kawah bromo dari balik pagar yang mengelilingi.Tapi perjalanan ini kami urungkan, pertama karena memang kawah belerangnya sedang sangat banyak dan menyengat, sedangkan masing-masing dari kami membawa anak kecil. Yang kedua karena kami ketinggalan setengah jam dari rombongan lainnya, karena menunggu si bidadari menaklukkan rasa takutnya menaiki kuda hingga titik terakhir. Alhasil baru sekitar 10 menit istirahat, rombongan yang dari kawah sudah sampai dibawah kembali.Ya sudah di syukuri saja apapun kondisinya.

Setelah cukup beristirahat dan foto-foto dengan panorama sekitar, sekitar pukul 09.28 kamipun turun kembali ke parkiran kuda. Cukup unik untuk bisa mengenali kuda mana dan mamang mana yang kita naiki sebelumnya. Saat turun dan meninggalkan kuda kita diberi kartu nama seadanya yang bertuliskan nama mamang penunggang kuda. Pesan mamang kuda saat kami hendak meninggalkannya " Pak ini kartu nama saya, nanti kalau sudah turun bapak langsung kesini saja panggil dengan keras nama saya, nanti saya akan mendekati bapak atau memberi tanda ke bapak. Tapi kalau saya tidak ada, biasanya nanti saya sudah berpesan ke yang lain untuk bisa menggantikan saya." dan saya pun mengiyakan saja.

Mengambil pengalaman saat berangkat, perjalanan pulang dengan kuda memakan waktu lebih cepat. Sekitar 20 menit sudah sampai di parkiran mobil. Waktu menunjukan pukul 09.50. kami pun bergegas untuk segera masuk ke mobil karena angin sudah mulai kencang. Mobil yang semula diparkir dekat parkiran kuda, ternyata berpindah mendekati warung yang lokasinya berjarak sekitar 50 meter, terpaksa harus berjalan dengan membelakangi angin agar debu atau pasir tidak menerjang bagian depan tubuh kita.

Setelah semua rombongan dirasa sudah menaiki mobil, sekitar pukul 10.00 WIB kamipun melanjutkan perjalanan ke malang, hartop yang kami sewa mengantarkan kami kembali ke tempat transit bus yang berada di perempatan Tulus Ayu Tumpang Malang.

Semakin siang, jalanan semakin ramai. Kendaraanpun melaju kurang maksimal karena sering berpapasan dengan mobil lainnya, sehingga mobil harus melambat. Ditambah diperjalanan kami menjumpai mobil hartop yang mogok, kami harus menunggu lama untuk bisa melewati jalan tersebut.

Nggak tega memang melihat mobil mogok, apalagi mogok di daerah yang orang. Kalau yang mogok itu kita, tentu kitapun tidak akan mau jika kita berada dalam posisi mereka. Beruntung beberapa mobil di rombongan kami masih banyak space yang kosong, maka kami tawarkan untuk ikut bersama kita. Agar mereka lebih  nyaman, 1 mobil kita kosongkan untuk mereka, sehingga di mobil yang saya naiki ketambahan 1 orang dewasa dan 2 anak-anak. Kursi depan yang tadinya kosong sekarang jadi terisi. Setelah semua terakangkut, kitapun malanjutkan perjalanan kembali. Sekitar pukul 12.00 kita sudah berada di Bus, dan akan melanjutkan perjalanan shalat dan makan siang.

https://www.heriheryanto.com/
Perjalanan ke arah kota malang sangat padat merayap. Pukul 13.45 barulah kita sampai di Warung Wareg yang berada di Jalan raya  Kepuharjo No. 7 Karangploso Kota Malang. Setelah sholat dan makan siang, Perjalanan kita lanjutkan ke penginapan.

Nah itulah sedikit cerita liburan ke kawasan gunung bromo bersama keluarga dengan membawa bayi dan batita. Jika artikel yang berjudul Cerita Liburan Wisata ke Bromo Membawa Bayi dan Batita ini bermanfaat, silakan di sebarluaskan atau dibagikan. Terima kasih atas kunjungannya

5 comments:

  1. dulu sha setiap tahun ke sarangan. setelah sepupu meninggal, belum pernah ke sana lagi karena itu tempat jalan2 terakhir sama sepupu.
    kalau ke bromo belum pernah. Wishlist banget nih, katanya bromo tetap penuh meski bukan hari libur :)
    btw, gimana perasaan si bidadari setelah berhasil naik kuda? hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pengen ke sarangan dan naik speedboatnya.. Semoga ada kesempatan..

      Akhirnya Si bidadari menyelesaikan misinya dengan lancar teh..

      Delete
  2. Wuaaah .. kereen ... , si dedek bayi berusia 10 bulan sudah ngerasain diajak naik kuda di Bromo ...

    Iyesss, kelak dia dewasa akan jadi cerita kenangan menyenangkan, pernah diajak ke Bromo 😁

    Aku baru tau loh, kalo mata kuda ternyata sensitif dengan benda warna hitam 😱

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mas.. Kenangan terindah yg tak bisa dilupakan. Tapi entah klo sibayi masih ingat ndak ya..

      Ayo mas, nulis artikel bromo..
      Kemarin pas mampir malang haruse mampir ..

      Delete
    2. Palingan kalo si dedek bayi udah remaja ngga ingat lagi dulu pernah diajak ke Bromo ..., ngajakin papanya kesana lagi.

      Kira-kira papanya masih kuat ngga ya fisiknya ... hahaha

      Delete

PERHATIAN :
Balasan dari komentar anonim/ unknown akan dihapus setelah 24 jam.

Menyisipkan Link hidup akan langsung DIHAPUS

Terimakasih sudah berkenan untuk berkunjung.
Simak juga komentar yang ada karena bisa jadi akan lebih menjawab pertanyaan yg akan diajukan.

Powered by Blogger.